Mukadimah: Alter Office ID

Setiap kali matahari mengetuk jendela dan membangunkanku dari mimpi-mimpi untuk segera bergegas menyuntuki hari; aku ketakutan, resah, dan merasa kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Tapi begitulah kehidupan ini bergulir: ada banyak hal yang meskipun kita tidak meyakininya dengan sepenuh hati, tetap perlu dijalani dengan sepenuh raga. Sebab bukankah memang selalu ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya.

Alter Office red, 23 September 2018 — Ketika aku menemui orang-orang yang berderet, berbaris, berkumpul, membentuk kerumunan-kerumunan, aku selalu beranggapan ada yang mereka sepakati dan mereka tunggu bersama; sebagai sebuah tujuan kolektif, sebagai sebuah mentalitas kerumun. Mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu, sebab bukankah segalanya dalam hidup ini memang memerlukan persiapan? Hidup kadang tak mau berpihak pada mereka yang malas mempersiapkan. Selalu, setiap harinya aku menyaksikan kerumunan orang-orang yang bersiap dan bergegas adalah mereka yang menjadi pemenang, atau paling tidak sedang berada di jalur menuju kemenangan. Apapun bentuk kemenangan yang hendak ditujunya.

“crowd of people in subway” by Alex Sorto on Unsplash

Orang-orang bergegas, berpakaian rapih, berparas menarik, mencukur kumis, memotong rambut, wangi tubuhnya menyeruak ke seluruh sudut ruang. Mereka membaca berita terkini, buku-buku mutakhir, menghadiri diskusi atau rangkaian workshop-pelatihan peningkatan kompetensi, melanjutkan studi, tak lupa pada akhir pekan mengunjungi tempat-tempat terbaik untuk menjalin keakraban dengan rekan kerja atau sekadar mengukuhkan diri sebagai masyarakat kelas menengah yang taat pada arus yang tenang dan nyaman.

Mereka menamatkan beberapa gelar akademik, membuka bercabang-cabang bisnis, pergi ke bank, gymnasium, perpustakaan, mereka pergi juga ke taman kota, pusat hiburan, pusat perbelanjaan. Orang-orang membangun nama, membentuk sindikasi, memperluas jejaring pertemanan; membuka sejumlah kemungkinan-kemungkinan, menjaga citra, menyusun pundi-pundi ketenaran, dan aku merasa semakin tersudutkan. Aku semakin terancam rapuh, renta, membusuk, dan punah. Bahkan sebelum semuanya dimulai. Tapi pertempuran di luar sana terus berlangsung semakin sengit.

Semua itu semakin membuatku terbebani dengan ancaman bahwa hidup yang kelak akan berlangsung lebih keras, lebih membosankan, lebih memuakkan, dan tentu saja lebih melelahkan. Aku semakin tegang, panik, terasing, dan cenderung menjadi malas, semenjak dari cara mempersiapkan hidup yang konon katanya perlu disikapi dengan mentalitas positif para pemenang.

Tentu selalu ada saja barisan orang yang enggan seperti aku. Orang-orang yang suntuk dan muram, orang-orang yang terasing dari arus kawanannya. Mereka masih saja duduk-duduk malas di warung kopi, masih saja ada yang bersembunyi dari rombongan yang bergegas di balik jendela kamarnya yang buram. Mereka menghabiskan hari-harinya dengan bersembunyi dari pertarungan nyata yang hadir di depan mata: kemudian mereka membangun pertempurannya sendiri, membangun serdadu dan penyerbu di dalam kepalanya. Mereka sibuk membangun identitas lain yang mampu menjadi ruh dari segala semangat dan gairahnya dalam hidup. Sebab hidup yang nyata, bagi mereka tak lebih dari kemunafikan, rangkaian peristiwa yang memuakkan dan selalu menyudutkan mereka ke pojok kekalahan yang niscaya. Mereka muda, merah, marah, dan berbahaya. Tapi sialnya, tak ada yang menganggapnya sebagai ancaman!

“person wearing hoodie” by Hajran Pambudi on Unsplash

Kemudian pagi, bagi kami hanyalah sebentuk persiapan-persiapan singkat menuju rutinitas kerja. Selalu: sarapan yang singkat, sedikit membaca headline koran, sececap kopi dan rokok yang tidak pernah habis, juga sedikit kecupan istri atau sedikit sapaan sayang dari kekasih. Sedikit, sedikit saja! Sebab efektivitas dan efisiensi sudah terlalu sering didengungkan di telinga hingga pendengaran kami pekak. Sebab sedikit saja kami lambat, di akhir bulan istri sudah merengek meminta Smart-TV baru yang tidak terbeli; mimipi-mimpi yang tidak tercukupi. Sementara para jagoan korporat dengan strategi pemasarannya semakin membuat kami kalap. Terlalu banyak yang tidak mampu kami beli, terlalu banyak mimpi yang seolah kami butuh.

Kota sudah mulai bersiap kembali memulai hari yang baru. Kebisingan yang baru, demonstrasi yang baru, dan segala kriminalitas yang sudah siap menguntit siapapun yang lengah. Embun tidak ada di kotaku, kotamu, kota kita semua. Bahkan mungkin cucu kita nanti hanya akan mendengar embun dalam cerita-cerita romantik. Seperti aku yang hanya mampu mendengar ladang subur, ternak makmur, hutan yang kudus, dan masyarakat yang sejahtera — dengan segala budaya luhurnya di epik-epik purba. Yang tertinggal hanyalah patung, lukisan, sajak, cerita, dan lagu-lagu.

Tapi karya seni macam apa yang bisa ditinggalkan kota yang terlalu sibuk seperti ini? Apa yang akan kita wariskan pada anak dan cucu kita jika pada hidup saja kita sudah begitu muak dan membenci? Apa yang kita persiapkan untuk generasi yang akan datang, jika hidup saja masih kita perlakukan sebagai pelarian demi pelarian, persembunyian ke persembunyian. Sampai kapan suara kita akan terbungkam? Sampai kapan karya kita akan terpendam? for god’s sake, life isn’t supposed to be just paying the bills and die!


Ini semua seperti kegaduhan jalan-jalan ibu kota negara dunia ketiga pada hari yang teramat terik. Matahari seperti mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk memberi panas pada kota ini. Asap-asap kendaraan yang tergesa, membumbung memenuhi langit kota. Udara terasa berat, pengap, dan tidak mengabarkan apa-apa selain rasa lelah yang sudah hampir tidak tertangguhkan lagi. Langit seperti hendak runtuh. Lalu terdengar bunyi sirine polisi yang memekakkan telinga.

Ini semua seperti percakapan yang terusir dari meja, kemudian mencari tempat berdiamnya masing-masing. Ruang lengang serupa gang-gang ibukota selepas pukul tiga pagi. Ada gelap dan dingin sekaligus pendar cahaya redup dalam keharusan yang tidak perlu. Seperti lampu-lampu kota, terduduk memunggungi nasibnya masing-masing.

Ini semua seperti keriuhan pesta perayaan ulang tahun. Teman, sahabat, rekan kerja, semua bersorak gembira. Gelas-gelas kosong, botol-botol bir tergeletak sembarangan. Musik, dansa-dansi, hingga pagi. Seolah ada yang benar-benar penting untuk dirayakan. Padahal tidak. Hanya usia yang bertambah dan waktu yang menelanjangi sisa-sisa jatah hidup yang sepi dan nir-arti.

Ini semua serupa pertempuran nyata yang kita hadapi setiap pagi: kemacetan ibu kota, ruang-ruang kubikal, meeting demi meeting, tenggat waktu yang terus memburu, slip gaji yang tak pernah mampu mencukupi keinginan demi keinginan.

Ini semua seperti kehidupan yang seolah-olah nyata, benar-benar sedang berlangsung: serdadu telah mengepung duapertiga kota, derap langkah kaki-kaki kuda beradu dengan desing pedang menghunus. Aku, kamu, kita semua hampir tiba pada batas antara hidup dan mati; kehidupan yang enggan dan kematian yang niscaya.

begitulah kehidupan ini bergulir: ada banyak hal yang meskipun kita tidak meyakininya dengan sepenuh hati, tetap perlu dijalani dengan sepenuh raga. Sebab bukankah memang selalu ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya.

hanya saja kini, di ambang batas itu, kita diberikan dua pilihan: bangkit dan melawan, atau kembali bersembunyi dan menjadi pecundang!

Alter Office Indonesia: Unleash Your Alter

… and yes! we are here to help you paying the bills and find the reason why you should.

alteroffice.id creative commons — please share with credits