Almamater dan kebanggaan palsu
Terpajang rapih dalam lemari dengan gantungan hanger, akan membuatnya aman dan nyaman dari resiko kehilangan kancing dan terkena noda, jaket almamater.
Terbuat dari bahan yang terbaik, dengan warna seragam dengan seluruh mahasiswa se Universitas, jaitan yang rapih dan logo bordiran kebanggaan
Itulah yang dibanggakan, padahal jika dikencingi dan dibakar pun tidak akan berontak, dan dia akan diam saja — anonymous
Itulah kisah klasik sang pakaian kebanggaan, sebuah jas yang hanya dipakai di sela sela perjuangan seorang mahasiswa dalam menghabiskan waktu-waktu fananya di perkuliahan, demi mendapatkan jejak historis dan kebanggaan kelak
Pertanyaanya adalah pantaskah kita membanggakanya ?

Jika itu hanya karena berasal dari Institut Terbaik Bangsa, atau Kampus Perjuangan, Atau Makara Hijau, saya tidak akan setuju, karena hypenya pasti akan hilang dalam sebulan atau setahun ( jika dia memang sangat membanggakanya ) dan yang akan memalukan adalah apabila ia mengaku membanggakan almamater nya tapi selama dikampus yang dilakukan tidak lebih dari seorang kutu buku yang duduk manis menunggu dan mencatat apa yang dosen berikan, ( ps : mungkin sampai saat ini kalian tidak akan setuju dengan tulisan ini, percaya saja bahwa penulis ini sesat dan mempunyai persepsi dia sendiri,tapi jika kamu berniat melanjutkan, saya janjikan solusi dibaliknya )
Jangan pernah membanggakan almamater yang anda miliki sekarang, apa yang membuat almamater anda besar sekarang adalah berkat perjuangan senior anda dulu, buat almamater yang membanggakan anda, yang dapat melanjutkan bahkan membawa besar nama almamater anda, karena anda — anonymous ( FTTM ITB 2015 )
Suatu quote yang saya ambil dari teman karib saya di ITB, sebenarnya quote itu dia berikan hanya untuk menyemangati saya agar saya cepat cepat melupakan ITB, tapi saya rasa quote itu akan bermanfaat jika saya kaji dan oplah lebih dalam.
Ya, Kita disini membahas karya, karya apa yang sudah kita buat untuk almamater kita, bukan hanya membanggakan karena itu kampus favorit nomor sekian, karena itu bukan dari perjuangan kita, tidak ada gunanya.
Karya seorang pemuda terutama mahasiswa beragam, tidak hanya menjadi aktivis yang harus selalu berkutat dalam organisasinya, jika kamu termasuk orang yang cerdas alamiah, lomba dan konverensi mungkin menjadikan kamu orang yang berhasil membawa harum almamatermu, atau dia yang memperhatikan segala propaganda negeri dan kampus utamanya, yang langsung membuat kajian strategi dan berkoar mencari solusi, atau dia yang almamaternya tercoret krayon dan cat air, karena berusaha menembus batas daerah mencari desa yang kekurangan tenaga pengajar, atau dia yang belajar sungguh sungguh, tidak pernah menitip absen dan menjunjung tinggi integritasnya, karena ia tahu ada 2 kepala yang menunggunya dirumah kala ia berhasil di sarjananya, atau dia, yang berjalan lebih pagi dengan membawa pegangan di kedua tanganya, yang siap ia jual dimanapun asalkan uang didapatkanya demi memenuhi kebutuhan kuliahnya, dan dia yang duduk dipojok masjid, bersama para pemuda pemudi dengan perantara sekat, berdiskusi isu hangat dakwah, dan beranjak untuk menunaikan shalat berjamaah.
Mereka, yang saya anggap mengharumkan nama almamater
Mereka yang datang kuliah bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk cari aman dan memasrahkan keadaan, tapi yang datang untuk menebarkan kebermanfaatan walau orang lain jarang melihatnya.
Merdeka dalam kata
Salam Pembebasan !
Azhar Taufiqurahman
Semarang, 25 Agustus 2016