Degradasi Moral

Yang muda jalan lewat dengan sengaja

Tanpa permisi, langsung berlalu begitu saja

Yang tua menggerutu sambil mengutuk

“Apa yang salah dengan moral anak tadi “

Beda kisah mungkin saja beda aktor

Kali ini yang tua berjalan siap untuk melewati yang muda

Yang muda bersiap untuk menyapa, dengan segores senyuman ia menegur

Yang tua berpaling muka menghiraukan teguran yang muda

Yang muda cemberut dan menggerutu “ Apa yang salah dengan moral senior kita “

Ada yang berharap di sapa dan ada yang senang menyapa, mungkin apabila mereka saling berpapasan, dunia ini terasa indah hari itu.

Tetapi, apakah kondisi ini seideal itu, berbicara moral bangsa hanya dari saling sapa, menurut hemat saya hal itu tidak bisa dijadikan parameter yang tepat, kita tidak pernah tau apa yang sedang dipermasalahkan si penyapa sehingga ia tidak menyapa, dan apa yang dipikirkan oleh yang disapa sehingga ia tidak membalas sapaan.


Hinanya adalah kedua orang tersebut memang terlalu sombong untuk menyapa, tapi sepertinya tidak semua orang seperti itu


Menyapa memang hal yang indah, apalagi jika penulis disapa oleh orang yang dikaguminya, ya mungkin bisa menjadi moodbooster bagi dirinya, menyapa dapat membuat yang disapa selalu ingat dengan penyapa, menyapa bisa menjadi pembuka topik, ya ya menyapa, bagi Extrovert terdengar mudah, Introvert? Halah jika ia tidak terlalu kukenal, tidak sudi aku menyapa

Rumit.

Karena jika dipaksakan, hal itu(menyapa) hanya menjadi sapaan kosong dan senyuman palsu, sejatinya menyapa bukanlah kewajiban, melainkan kebutuhan, jika memang tidak ada kebutuhan, ya ga harus menyapa dong?

Kebutuhan seperti apa ? silahkan kamu persepsikan sendiri

Merdeka dalam kata

Kritik Kaderisasi

Azhar Taufiqurahman