Kejelasan Empati-Kagum-Suka

Untuk milenials yang merepotkan hal-hal romantis hingga berujung pada baper dan galau

Lagi tertarik dengan seseorang ? Ah, pertanyaan bodoh apa yang sedang kuajukan sekarang.

Pada dasarnya semua motivasi didapatkan karena kita ingin mengusahakan sesuatu karena seseorang, entah itu belajar, bekerja, sampai berlatih. Semua semangat dan ambisi akan datang dari seseorang tersebut, mungkin dalam hal ini kita akan coba membuat kontradiksi dengan pikirian sendiri, “ah, gua belajar karena gua mau masuk kampus favorit, loh gua kan berlatih biar bisa memenangkan kejuaraan, gua kan kerja biar bisa beli rumah sendiri” pada dasarnya hal tersebut jika kita ingin menggali alasan itu lebih dalam, kita akan mendapatkan orang orang yang ingin kita kagumkan atas pencapaian yang kita raih tersebut,bisa orang tua, teman, maupun orang yang akan kita suka nanti, maka dari itu dibentuklah paper yang dinamakan Curriculum Vitae, untuk merapihkan apa saja yang sudah kita raih selama hidup.

Kalau sebelumnya tidak suka (biasa saja) dengan seseorang lalu menjadi suka, bersiaplah untuk tidak menyukai orang itu lagi cepat atau lambat
( Fardan Fikriansyah,2015 )

Beberapa orang berkata kalau kata suka berbeda dengan kagum, berbeda dengan sayang, jauh artinya dengan cinta dan semacamnya, jadi berhati-hatilah dalam memakai semua ungkapan tersebut, karena orang yang sudah terlanjur tertarik dengan kita bisa mengartikan itu semua dengan “mau jadi pacar gua gak ?” Repot kan kalau pikiran itu yang tersirat di otak mereka.

Apakah cowok dan cewek jika berteman akrab bisa kita asumsikan bahwa mereka berdua saling sayang ? Atau hanya tertarik satu sama lain, tetapi status 'teman' lebih nyaman untuk mereka sandang daripada 'pacar' ? ( Tetapi milenials sekarang akan menjuluki hal tersebut dengan HTS (Hubungan Tanpa Status) )

Dan apakah dua orang yang berpacaran sama-sama saling sayang atau hanya kagum antara satu sama lain dan terburu buru untuk mengesahkan status sebagai pacar ?

Ya, disinilah kesalahan asumsi pemikiran para milenials sekarang, terburu buru mengesahkan status karena pemikiran abstrak salah satu atau kedua pihak yang takut kehilangan satu sama lain.

Dalam suatu hubungan kita mengenal perbedaan antara cinta dan nafsu, dan memang nafsu akan datang lebih dulu dari cinta, butuh waktu lama agar cinta benar-benar muncul untuk meyakinkan diri bahwa orang tersebut cocok untuk pribadi kita, pernahkah kalian nerangkai kata nan indah untuk disampaikan ke pujaan hati kalian dan kalian tiba-tiba mengurungkannya ? Atau pernah ada niat untuk mengajak jalan seseorang lalu kalian berubah pikiran ? Itu adalah manifestasi dari hawa nafsu itu sendiri, otak kita pertama akan diarahkan oleh nafsu kita untuk mengatakan sesuatu/ mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu, tetapi lama kelamaan logika kita akan ikut berperan untuk menyesuaikan hal tersebut dengan kepribadian kita, apabila sesuai, akan menjadi lebih matang persiapannya, tetapi apabila tidak sesuai maka logika kita akan melawan dan kita akan berpikiran bahwa hal yang akan kita lakukan tersebut tidaklah perlu dan memalukan.

Intinya, jangan terlalu cepat mengambil keputusan bahwa kita mencintai seseorang,tunggulah waktu yang tepat dengan tetap berhubungan baik dan mendalami kepribadian lawan jenis kita sebelum mengesahkan suatu status atau terburu buru mengambil tindakan, takutnya kita hanya sekedar kagum, sekedar tertarik, dan sekedar suka dengan apa yang dilakukan, tetapi tidak benar-benar cinta, daripada menyesal ditengah jalan kan ?

Dan ber-empati lah sebanyak banyaknya kepada semua orang, jangan ragu untuk berbuat baik, karena itu juga merupakan seleksi alami untuk mendapatkan pasangan kelak.

Jangan baper.

Sebuah manifestasi kata dari kegabutan dalam kereta

Azhar Taufiqurahman

Pagi Cerah di CommuterLine Jakarta

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.