Menolak Lupa : Seseorang Yang Merdeka Dengan Kata

26 Agustus 1963, Seorang aktivis muda yang baru saja saya baca kisahnya, lahir dan memulai jejak aktivisinya di Indonesia, beliau adalah sesorang yang berani meneriakan kebenaran, melalui tulisan tulisan pro Demokratisnya memerdekakan kata yang ter pendam dalam batin rakyat Indonesia, ya, dia Wijhi Widodo atau biasa dikenal Wijhi Tukul, seorang aktivis muda kelahira ’63 yang menghilang diculik Kopassus pada Juli 1998 bersama para aktivis lainya, yap, dialah salah satu pelopor perjuangan pemuda Indonesia untuk reformasi pada tahun itu

Berikut salah satu sajak yang ditulis wijhi


SAJAK SUARA

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamaku
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan — Wijhi Thukul 1996

Satu hal yang dapat kita garis bawahi dari peristiwa hilangnya Wijhi, Bahwa suara dan kata yang terucap dengan berani dan mengandung kebenaran, adalah suara yang mematikan bagi mereka yang selama ini menindas dengan bebas.

Tetapi minat pemuda akan tulisan itu seakan berubah

Maka tak heran apabila akhir akhir ini kita lebih sering melihat tulisan tulisan yang sia sia dan tidak berguna seperti pada timeline line : prestigeholic, Tumblr, kekinian, dan semacamnya

Bahkan Akun akun yang membahas isu isu polemik memiliki followers yang lebih sedikit dari akun tersebut yang mengartikan bahwa pemuda sekarang sudah tidak tertarik lagi dengan tulisan tulisan yang bersifat persuasif dan menyerang, Saya pernah mencoba, membuat dan memposting tulisan tulisan yang meluluhkan hati ( tulisan aman layaknya sastrawan muda ), lalu saya perhatikan jumlah like and sharenya, tidak lama saya coba membuat tulisan yang berbau propaganda dan Kritik nasional, lalu saya kembali perhatikan like and sharenya, kalah jauh.

Minat baca pemuda sudah berubah, apalagi minat menulisnya, sekarang tulisan tulisan yang ada sudah lebih banyak memuat pencitraan dan mengikuti keinginan cinta para pembaca, saya rindu akan tulisan kritis yang seakan menggores hati untuk segera melangkah

Mungkin ini yang ingin disampaikan Wijhi thukul kepada pemuda Indonesia, bahwa kata kata itu punya kekuatan yang sangat berpengaruh, dan penulisnya punya kesempatan untuk menggerakan massa, tanpa takut hinaan dan cacian bahkan dari posisi tertinggi lembaga, sayangnya dia berujung pada penculikan, tinggal kembalikan pada kita,

apakah mau meneruskan perjuangan ?

Merdeka dalam kata

Selamat Ulang Tahun Wijhi Tukul

Azhar Taufiqurahman

26 Agustus 2016