Menyurati Langit-Langit Basah
Kita, maksudku, aku dan kau yang lalu, mudah sekali terbuai birunya langit. Yang akhirnya mendekatkan, juga menjauhkan kita.
Masih kau ingat kali pertama bibir bawahmu memagut nakal itu? Oh Tuan.. Amboi nian! Orang lain mungkin akan menyoraki dan menyumpahi momen termanis di dalam hidupku yang sepenggal. Hanya karena, itu kita lakukan di siang hari yang kelewat terik, di bawah pohon rambutan yang delapan bulan tak bersetubuh dengan bulir hujan, meranggas ia.
Masih ingat juga kau, pertama kali, akhirnya aku memberanikan diri mengendarai becak tuamu? Yang biasa kau pakai setiap pukul tujuh pagi hingga enam sore, mengumpulkan sekoin dua koin yang kemudian separuhnya kau berikan padaku, ditabung ya!
Selalu begitu katamu.
Oh, ini juga mesti selalu kita ingat! Saat itu kau begitu bersedihnya, mengetahui, Domba, si kancil peliharaan kesayanganmu, melarikan diri dan tidak kembali. Kau menangis tersedu di pojok kandang si Domba, dan bersumpah kalau suatu saat kau akan menamai anakmu dengan Domba. Aku terkekeh dan berlutut tepat di hadapanmu. Menghapus genangan di sudut mata yang terpantul jelas bayang senyum si Domba. Kita berdua, tertawa.
Sedikit kenangan di atas memang takkan mengubah apapun, kan?
Tidak juga mengubahmu untuk kembali ke desa, tempat dimana dua puluh lima tahun kau habiskan kegagalan dan kesedihan, yang lima terakhirnya bersamaku.
Sudah tiga puluh lima bulan, dan kau belum juga menyuratiku, seperti yang kau janjikan di hari pertama kau menaiki bus antar kota di terminal, yang jaraknya sehari semalaman dari desa kita. Yang di malam sebelum tiba di terminal, membuatku tak rela tak menatapmu lekat-lekat. Aku habiskan malam, dengan menandaskan senyummu juga sedikit dengkuran di sela-sela.
Dikarenakan kau tak juga menyuratiku, maka sejak delapan hari yang lalu, kuputuskan untuk menyuratimu. Melalui langit-langit yang basah, malam ini. Entah sampai, entah tidak. Juga entah-entah yang lain, yang perlahan kucoba tinggalkan.
Baru beberapa jam saja, aku gagal. Lirih, menyadari kalau surat ini tiada akan pernah kau terima, karena Pak Kepala Desa tergopoh menghampiri rumah ibumu yang masih berada di sebelah rumah ibuku. Mengabarkan, jika ia berpapasan denganmu, dengan seorang perempuan yang sangat baik parasnya, menggamit mesra lengamu yang muskular itu.
