Etika Mencintai

Sebagai orang yang sedang mencintai seseorang, tentu dalam pikiran kita timbul pertanyaan-pertanyaan retoris “Apakah dia jodohku?” atau “Apakah dia jodohku?” Jodoh memang salah satu ketidakjelasan yang jelas, diantara rejeki dan mati.

Ketika kita sedang mencintai seseorang apa yang harus kita lakukan? Apakah perlu ngajak ke cofeeshop nongki-nongki buat ngabisin kopi yang segelasnya 40k. Bukankah Itu boros gaes?

Apakah harus nelponin tiap hari? Telponan tiap hari manggil Ayah, Bunda (padahal belum halal) sampe kuping mimisan. Bukankah Itu kampungan dan norak?

Apakah harus mengirim pesan singkat setiap saat? Kamu rela mantengin hape setiap saat nunguin SAMPE BEGO?! Rela mantengin hape sampe bego hanya untuk nunggu balesan si doi. Bukankah itu JADI BEGO BENERAN?! Sorry didn’t mean to be rude just litle bit sad, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan selain balesin chating sama doi.

Apakah harus mengingatkan hal-hal yang gak penting seperti:

Jangan lupa makan
Jangan lupa mandi
Jangan lupa sholat

Bukankah itu semua kegiatan sehari-hari yang tanpa harus diingatkan pun kita lakukan. Jam 12 siang ya waktunya kita makan. Begitu pun ketika bangun tidur, dari kecil kita sudah diajarkan kalau bangun tidur ya ku terus mandi. Toa Mesjid mana yang gak ngingetin kita buat sholat lima waktu.

Bukankah mencintai Seperti halnya berdoa. Yang di mana orang yang memohon kepada Tuhan ada etikanya. Memuja, merendahkan hati, ingin memantaskan diri ke pada-Nya. Lalu memohon apa yang diinginkan. Dan berharap dikabulkan.

Jadi kalau kamu masih bingung bagaimana cara yang tepat untuk dapat mencintai seseorang yang sesuai dengan etika. Nikah.

Atau seperti kata Adib. Mencintai bukan harus menikahi, seperti mencintai Rosul Allah, mencintai orang tua dan adik-adiknya. Mencintai Rosul ya membacakan sholawat, mencintai orang tua ya mendoakannya setelah sholat. Tentu etikanya tidak harus menikahi beliau-beliau bukan?

Itu sih memang kewajiban bagi kita sebagai umat muslim yang baik dan berbakti. Tapi jika kamu punya pikiran seperti Adib yang mencintai anak gadis orang belum berani mengungkapkan apalagi menikahinya, sedangkan umur sudah tidak diragukan lagi, bahkan sudah bisa diandalkan, kamu harus menerima resikonya. Jadilah kamu jomblo ngenes seperti Adib dan aku. Iya aku jomblo -__-