Penyimpangan
Tangki bensin, kotak rokok, dan perutku semuanya kosong. Aku menepi di depan rumah makan, melepas helm dan meletakkannya di atas tangki. Aku menoleh kepada perempuan cantik yang kubonceng.
"Jam satu siang, kau tidak lapar?"
"Tentu."
Kami saling melempar senyum.
"Tidak masalah kita makan di sini?"
"Memangnya kenapa?"
"Daerah ini konservatif. Orang tidak akan suka melihat kita berduaan."
Aku mengangguk.
"Lima belas menit kita penuhi lambung, lalu buru-buru kita pergi."
Ia tersenyum, diamnya tanda setuju.
Kami memasuki rumah makan itu. Pilar dan langit-langitnya mencirikan arsitektur Jawa. Hanya dengan melihatnya, tercium aroma tidak nyata akan ayam bakar, lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Rumah makan itu cukup ramai, setengah dari meja-mejanya terisi pengunjung.
Kami duduk bersila di depan salah satu meja. Seorang pelayan laki-laki menghampiri kami. Aku memesan ayam bakar yang sudah terbayang-bayang di lidahku, dan segelas es teh manis. Pacarku memesan menu yang sama. Pelayan itu mengulang pesanan, lalu meninggalkan kami. Ia tidak tersenyum kepada kami sama sekali, bahkan sesekali melempar pandangan jijik.
Aku dan pacarku berbincang soal liburan akhir pekan yang sedang kami jalani. Hari ini hari Sabtu, dan kami berencana menginap di villa hingga esok hari. Kemudian, kami akan mengunjungi air terjun yang kabarnya indah sekali dipandang. Kami ingin berswafoto di depan air terjun.
Aku senang memandangnya saat ia tertawa. Ia nampak bahagia saat bersamaku. Aku tahu ia tahu aku juga bahagia saat bersamanya.
Pesanan kami telah tiba. Potongan ayam di piring kami tergolong kecil. Nasi pun tidak banyak. Es teh manis hanya mengisi tiga perempat gelas kami. Perduli setan. Kami menyantap makanan yang tersaji di hadapan kami tanpa banyak bicara. Kami tidak ingin berlama-lama. Lagipula, masih banyak waktu untuk bicara di villa nantinya.
"Hei kau."
Aku menoleh. Empat orang pria berbadan besar berjalan ke arah kami. Makanan kami belum habis.
"Sedang apa kau di sini?"
"Makan."
Salah satu pria itu menamparku. Aku terdorong jatuh ke lantai. Aku menoleh ke arah pacarku, yang terbelalak kaget, kedua tangannya menyangga badan.
"Kau pikir aku tidak tahu? Kalian pasangan mesum, bukan?"
"Tidak, ia hanya temanku."
"Lantas kenapa kalian di sini?"
"Kami lapar."
Ia menendang kakiku. Aku meringkuk kesakitan.
"Bodoh! Kenapa kalian di daerah ini? Kau pikir kami tidak tahu, pasangan-pasangan seperti kalian kemari untuk menginap di villa-villa untuk bersenggama?"
"Kami... kami...."
"Telpon polisi!", ujarnya kepada salah satu rekannya.
"Tempatmu di neraka, kau dan teman perempuanmu! Laki-laki diciptakan untuk laki-laki. Perempuan diciptakan untuk perempuan. Apa konsep itu sulit buatmu? Dasar binatang heteroseksual keji!"
"Cukup!"
Pacarku lari meninggalkan rumah makan. Aku memanggilnya, lalu ikut lari mengejarnya. Pria-pria itu berjalan mengikutiku.
Pacarku berlari menyusuri pinggir jalan. Aku terus berteriak memanggilnya. Dua atau tiga menit kemudian, sebuah bus lewat didepannya. Ia mengisyaratkan agar bus itu berhenti. Aku berhasil mengejar pacarku, kemudian kupeluk dia. Ia menggeliat, membebaskan diri dari dekapanku.
“Aku lelah begini, aku ingin menjadi normal!"
"Tidak perlu kau ubah dirimu! Persetan dengan mereka yang suka mencampuri urusan orang lain! Mencampuri urusan kita!"
Ia menggelengkan kepala, kemudian tergesa-gesa memasuki bus seraya terisak.
...
Aku kembali ke rumah makan dengan kesedihan yang mendalam. Kudapati Harley-ku tercerai berai seperti halnya hubungan kami.