Gelombang dan Juang
Aku telah berjalan di atas kerikil berpasir
berenang dan berendam di waduk penuh lumpur
tepat ketika orang-orang berbicara tentang masa muda mereka yang berbahaya
ketika hidup, bulat di hadapan mereka
tentang masa depan yang menjadi impian dan segalanya.
Aku pun menemukan harta di lembah-lembah berkabut pagi hari
dan melihat matahari menerobos awan badai tebal untuk mewarnai langit abu-abu dengan pelangi bercahaya
tepat ketika hati orang-orang dipenuhi dengan api dan gairah
mereka berlari meninggalkan ladang ingatan yang ditanam oleh dunia di sekitar mereka.
Aku menghitung bintang-bintang yang menari di atas
di malam gelap yang luas tak berbatas
tepat ketika orang-orang menutup telinga membutakan mata tentang hari-hari di belakang yang lantang bersuara
tentang sumpah dan tumpah
menjadi bangsa dan berbahasa.
Namun, ketika bahasa telah dijabal dari bangsanya
ketika bangsa diusir dari tanahnya
ketika tanah dicerai-beraikan dari tuannya
aku akan pulang ke rahim pertiwi
mengadu pada ibu tentang bagaimana orang-orang kini lupa,
siapakah Indonesia?
Ketika orang-orang berlari bersama angin di kaki mereka
berpetualang ke masa depan
berharap dunia luar adalah dirinya
aku akan duduk tinggi di atas
menunggangi puncak gunung
meneriaki langit biru dengan merah-putih memburu;
Indonesia adalah tanahku
Indonesia adalah bangsaku
Indonesia adalah bahasaku
Sampai maut memangku ajalku
sedikit pun
takkan luntur sumpahku!
(Memperingati Hari Sumpah Pemuda, mari rawat dan ingat, jangan dilupa!)
Joy, Oktober 2019
*versi video ada di tautan https://youtu.be/1-Vr675WkrU
