KUNJUNG

Kecemasan yang bertamu malam ini datang membawa beberapa ingatan yang tidak pantas. Menjejali bangku-bangku pikiran dengan kebahagiaan bisu. Melontarkan getir dan kecamuk dari berbagai arah.

Bergaris-garis senyum. Bisikan-bisikan subtil berafeksi. Pekat wewangian anyelir yang menempel di punggung jaket setiap kali wajah itu rebah disana, berhasil memasung kedua kaki yang hendak beranjak lari.

Remah-remah waktu yang dihabiskan tanpa meneguk air. Tak dapat menampik ketakutan nyata ketika seutas kenang merampas seluruh isi kepala yang mulai kedinginan. Kosong. Beberapa kali timbul tanya yang bergema tanpa rima.

Di renggang tulang belulang dada, jantung kencang menggaduh. Mengubah rupa bulat mata cokelat menjadi embun-embun kabut. Lantas luruh ke tepi. Anak-anak sungai mengalir hebat pada pelipis kanan dan kiri.

Sebegitu tersengal. Deru napas menahan luapan gelisah yang membumbung tinggi di langit-langit kamar tidur. Sesak. Anyelir telah mencapai jantung pertahanan paling akhir.

Tak ada jerit. Hanya sedikit lidah yang masih tergugu memanggil wajah itu.

Like what you read? Give Muhammad Abd Aziz a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.