Hang in there buddy
Jarum panjang baru saja menunjuk pada pukul 2 lewat tengah malam, tandanya baru saja cinderella kehilangan sepatunya di tengah2 labirin kebun milik kerajaan yang ada didesanya. Sama halnya dengan teman saya, biasanya pada lewat tengah malam dia seperti kehilangan setengah nyawanya. Banyak yang bilang ketika kita putus cinta itu adalah akhir dari segalanya, ada juga yang bilang pengalaman pahit masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap perilaku ketika kita besar. Tidak ada yang salah dengan itu semua teman. tapi yang mesti dipahami, terkadang kita terjebak di moment keterpurukan itu bahkan menikmatinya. Awalnya, hari demi hari tidak ada satu haripun terlewat tanpa berdoa kepada tuhan bertanya sambil bersendu mengapa hidupku seperti ini atau kapan semua siksaan ini akan berakhir. Tapi semakin hari, minggu, bahkan tahun berlalu, kita pun terbiasa dengan rasa sakit yang sudah bergumul dengan kita selama ini. Sehingga ketika perasaan itu hilang, kita pun merasa kehilangan, akhirnya kita kembali kehilangan sesuatu yang sudah bertahun-tahun bersama kita, layaknya person-person tertentu yang menjadi penyebab awal kesedihan kita bermula. Tapi hal ini bukanlah sebuah kabar kehilangan atau pun berita duka, harusnya menjadi sebuah momen selebrasi ketika pemulihan diri berhasil dilakukan. Poin yang ingin disampaikan adalah terkadang menikmati sebuah kondisi memang hal yang di perlukan untuk memahami dan mempelajari sesuatu sebagai sebuah evaluasi dalam hidup, tetapi jangan sampai karena keterbiasaan terhadap keterpurukan yang akhirnya menutup kesempatan terhadap kebahagiaan yang terhampar didepan mata. Sekali lagi, tidak, aku tidak menyalahkan temanku, aku tahu suatu hari nanti akan ada seorang pangeran yang datang membawakan sepatu yang cocok untuknya supaya dia memiliki kehidupan yang bahagia selama-lamanya. Jadi, bertahanlah!
