http://www.newyorker.com/wp-content/uploads/2008/02/080211_r17034_p646-320.jpg

True Crime

David Grann

Di pelosok barat daya Polandia, jauh dari kota-kota lain, sungai Oder bergelung membentuk cerukan kecil. Tepiannya disesaki oleh rumput liar dan diselubungi pinus tinggi dan pohon-pohon oak. Hanya para nelayan yang biasanya menyusuri kawasan itu-cerukan yang dipenuhi ikan perch, pike dan sun bass. Pada satu hari yang dingin di bulan Desember tahun 2000, tiga sahabat tengah memancing di sana, ketika salah satu di antara mereka melihat sesuatu yang mengambang oleh sebuah penyangga. Mulanya, ia berpikir itu sebuah batang kayu, namun ketika mendekat ia melihat sesuatu serupa rambut. Si nelayan berteriak kepada salah satu temannya, yang menjawil objek itu dengan alat pancingnya. Itu adalah sesosok mayat.

Para nelayan itu menghubungi polisi, yang dengan hati-hati memindahkan mayat dari air. Sebuah jerat mengelilingi lehernya, dan tangannya terikat di belakang punggungnya. Sebagian dari tali, yang nampaknya telah dipotong oleh pisau, sempat menyambungkan kedua tangannya pada lehernya, mengikat lelaki itu dalam posisi membelakang, posisi yang mengerikan-sedikit geliat akan menyebabkan jerat semakin kencang. Tidak salah lagi bahwa lelaki itu dibunuh. Ia berpakaian hanya switer lengan panjang dan celana dalam, dan itu menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. Seorang patologis memastikan tidak ada makanan di dalam usus korban, yang menandakan bahwa ia telah dibiarkan kelaparan selama beberapa hari sebelum dibunuh. Mulanya, polisi berpikir bahwa ia telah dicekik lalu dibuang ke sungai, namun pemeriksaan cairan di dalam paru-parunya memperlihatkan tanda-tanda tenggelam, yang artinya ia kemungkinan masih hidup ketika dijatuhkan ke dalam air.

Korban-tinggi, dengan mata gelap yang panjang dan mata biru-seperti cocok dengan deskripsi dari pengusahan 35 tahun bernama Dariusz Janiszewski, yang tinggal di kota Wroclaw, enam puluh mil jauhnya, dan telah dilaporkan menghilang oleh isterinya sekitar empat minggu sebelumnya; terlihat terakhir kali pada 13 November, meninggalkan perusahaan periklanan kecil yang ia miliki, di pusat kota Wroclaw. Ketika polisi memanggil isteri Janiszewski untuk melihat apakah ia bisa mengenali mayat, namun perempuan itu terlalu ketakutan, dan ibu Janiszewski yang melakukannya. Ia langsung mengenali rambut anaknya yang lurus dan tanda lahir di dadanya.

Polisi menggelar investigasi besar-besaran. Penyelam scuba masuk ke dalam air yang dingin, mencari barang bukti. Ahli forensik menyisir hutan. Lusinan kenalan korban diminta keterangan, dan catatan bisnis Janiszwski diperiksa. Tidak ada yang ditemukan. Meski Janiszewski dan isterinya, yang telah menikah delapan tahun sebelumnya, telah memiliki satu waktu masalah di dalam pernikahan mereka, merekah telah berdamai dan berencana mengadopsi seorang anak. Lelaki itu tidak memiliki hutang dan musuh yang nyata, dan tidak ada catatan kriminal. Para saksi menjelaskan bahwa Janiszewski sebagai lelaki yang baik, dan gitaris amatir yang menggubah musik untuk band rocknya. “Dia bukan jenis orang yang memulai perkelahian,” kata isterinya. “Dia tidak akan membahayakan siapapun.”

Setelah enam bulan, investigasi dihentikan, disebabkan oleh “ketidakmampuan menemukan pelaku atau para pelaku,” sebagaimana yang dicatat jaksa dalam laporannya. Keluarga Janiszewski menggantung sebuah salib pada sebatang pohon oak dekat di tempat di mana mayat itu ditemukan-satu dari sekian pengingat apa yang oleh media Polandia dijuluki sebagai “kejahatan yang sempurna.”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Azzam FA’s story.