Welcoming 2018

New Year, New Me”

Kata-kata klise yang sering diucapkan di awal tahun dengan harapan pada tahun yang baru, terwujud pribadi baru yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Berbagai resolusi pun dibuat, dari resolusi turun berat badan — yang biasanya nggak tercapai, sampai resolusi karier & pendidikan.


Nggak ada salahnya membuat resolusi, selama memang benar-benar ada usaha untuk mencapainya. Karena tak jarang resolusi hanya diingat di awal tahun saja, dibagikan ke media sosial agar diaminkan, lalu diabaikan. Oleh karena itu banyak orang mulai lelah dengan istilah resolusi, sama lelahnya dengan guyonan “Resolusi HD” yang saking basinya saya ingin men-sleding orang yang masih memakai guyonan itu.

Menurut saya, resolusi sering dilupakan karena jangka waktunya terlalu lama, satu tahun. Karena itu pasti muncul pemikiran untuk menunda usaha dalam mencapainya. Ambil contoh seseorang membuat resolusi turun berat badan. Saya yakin pada satu waktu dalam satu tahun akan terbesit pikiran seperti ini :

“Ini masih bulan x, buat apa diet dan olahraga toh masih ada bulan-bulan selanjutnya sebelum 2018 berakhir. Kentang McD dan kol goreng masih terlalu nikmat untuk dihindari”

Yang namanya resolusi, jika memang kita serius untuk mencapainya, cobalah untuk memecahnya menjadi aktivitas-aktivitas kecil atau biasa disebut Work Breakdown Structure (WBS), lengkap dengan timeline-nya.

Masih dengan contoh resolusi turun berat badan. Anggaplah itu sebagai proyek. Aktivitas yang harus dilakukan agar tercapai: Diet, Olahraga. Lalu dari aktivitas tersebut dipecah lagi menjadi task-task spesifik + timeline.

Diet :

  • Waktu makan 6 jam dalam sehari (setiap selasa-rabu & jumat-minggu)
  • Waktu makan 4 jam dalam sehari (setiap senin & kamis)

Olahraga :

  • Fitness selama 1,5 jam (setiap senin, rabu, jumat)
  • Renang selama 1 jam (setiap minggu)

Ketika rancangan di atas dijalankan dengan konsisten, maka kemungkinan besar resolusi turun berat badan dapat tercapai. Itulah fungsi WBS, mendefinisikan dengan jelas aktivitas yang harus kita lakukan dan kapan melakukannya. Sehingga dapat kita jadikan pedoman dalam satu tahun untuk mencapai resolusi.

Kebetulan saya mendapat ilmu ini dari mata kuliah Manajemen Proyek TI. Karena pada dasarnya, hidup kita memiliki ciri-ciri yang serupa dengan proyek, temporary — ada waktu mulai dan berakhir, creates unique deliverables — produk akhir yang unik, dan continuing by increments — dikembangkan secara bertahap.


Setiap orang bebas memiliki tujuan dan resolusi tidak pantas ditertawakan. Sekian ocehan saya di awal tahun ini, semoga 2018 dapat menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua.

Cheers.

Like what you read? Give Muhammad Azzam a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.