Beberapa Kehilangan yang Menyiksa Hidup

1. Kehilangan cinta pertama.

Sebut saja namanya Sindy. Dia pacar kedua saya, namun dia cinta pertama saya. Saya tidak mencintai pacar pertama saya. Saat itu kami masih kelas 6 SD dan saya hanya iseng-iseng saja menembak dia. Tanpa kami mengerti apa itu cinta. Hanya iseng. Itu saja. Hubungan itu pun hanya berjalan sekitar satu minggu.

Namun dengan Sindy berbeda. Dengannya, untuk pertama kali saya merasakan jatuh cinta. Kami berpacaran ketika saya mau naik ke kelas 2 SMA, sedangkan dia baru mau masuk SMA. Hubungan tersebut berakhir setelah selama dua minggu kami berkonflik. Sore itu, di rumahnya, Sindy memutuskan saya.

Alasan putusnya sederhana: dia menganggap saya terlalu cemburu terhadap seorang teman laki-lakinya. Padahal, sebagai laki-laki yang saya akui cukup brengsek, saya benar-benar mengerti bagaimana gelagat laki-laki lain seperti saya. Saya mencoba mengingatkannya, tapi dia malah marah dan menganggap saya tidak percaya dengannya. Beberapa waktu setelah kami putus, dari seorang teman saya mendengar kabar kalau teman laki-lakinya itu memutuskan pacarnya, lalu menembak Sindy. Saya tidak tahu kelanjutan dari cerita itu.

Saya mencoba melupakan Sindy dan berpacaran dengan beberapa perempuan. Namun, saya selalu merasa berdosa tiap kali melakukan itu. Saya merasa telah berbohong pada perempuan-perempuan itu. Sebab saya tidak benar-benar mencintai mereka. Saya juga berbohong pada diri sendiri. Hati nurani saya sangat mengerti kalau mereka bukan Sindy.

Hubungan saya dan Sindy setelah putus pun membingungkan. Kami seperti dua manusia yang tidak saling mengenal -> kembali dekat -> kami tidak mengenal lagi -> kami mendadak dekat lagi -> kami berjauhan, dan begitu seterusnya.

Suatu hari saya masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi tulang kaki. Secara mengejutkan, Sindy menjenguk saya. Padahal saya tidak memberitahunya. Kami juga sudah tidak berkomunikasi selama kurang lebih enam bulan. Hari itu, kami cerita banyak dan tertawa cukup puas. Permulaan yang baik untuk kembali memulai hubungan, pikir saya. Keesokan harinya, saya menyapanya melalui Line. Sindy baru membalas chat itu satu jam kemudian.

“Tolong jangan hubungi gue lagi. Lewat apapun itu,” ujarnya.

Saya tidak mengerti apa maksud dari chat itu. Apa yang melatarbelakanginya pun saya tidak tahu. Sehari sebelumnya kami sangat akrab dan hangat. Saya tak merasa melakukan dosa apapun terhadapnya. Tanda-tanda dia marah pun tidak ada. Entahlah, rasanya setiap cerita memang harus memiliki akhir. Termasuk cinta saya kepadanya.

2. Kehilangan orang yang ternyata benar-benar mencintai kita.

Saya dan Loli berpacaran di tengah usaha saya melupakan Sindy sewaktu SMA dulu. Saat itu saya mencintainya, meski tidak lebih besar dari waktu saya bersama Sindy. Entahlah, mungkin karena saat itu saya belum benar-benar bisa melupakan Sindy.

Hampir setiap hari kami ribut. Namun, hal itu yang saya cintai dari hubungan kami. Keributan-keributan itu membuat hubungan ini melelahkan, namun seru. Karena saya tahu, meski memarahi saya setiap hari, di dalam hatinya Loli mencintai saya. Begitu juga saya. Meski selalu membuatnya kesal, saya juga menyayangi Loli. Meskipun saat itu saya belum benar-benar lepas dari bayang-bayang Sindy. Bagi saya, itu merupakan dosa yang cukup besar.

Kami putus setelah hampir satu tahun bersama. Saya kurang paham alasan spesifiknya karena terlalu banyak sebab. Seperti keributan-keributan yang tadinya menyenangkan, namun lama-lama memusingkan. Ditambah kami yang sama-sama keras kepala dan enggan mengalah. Dan mungkin juga karena pada waktu itu, saya akan pergi kuliah ke Malang.

Setelah putus, kami masih saling berhubungan dengan sangat baik. Bahkan, masih seperti saat pacaran dulu. Saya merasa ada kesempatan untuk kembali bersamanya. Saya pun mengungkapkan keinginan saya untuk kembali. Namun, saat itu Loli menunjukan sikap yang tidak jelas. Antara mau dan tidak mau. Saya kurang cakap dan kurang sabar dalam memahami teka-tekinya.

Di tengah ketidakjelasan sikap dari Loli itu, saya mendadak dekat dengan salah satu sahabatnya. Sebut saja namanya Rina. Semakin hari kami menjadi semakin dekat. Saya dapat merasakan kalau kami sama-sama menyimpan rasa suka.

Entah bagaimana caranya, Loli mengetahui hubungan saya dengan Rina. Dia sangat kecewa pada saya. Jelas. Dia bahkan berkata,

“Padahal aku udah cinta lagi sama kamu. Tapi kamu begini.”

Apa yang dia katakan saat itu benar-benar menampar saya. Saya benar-benar merasa hina, brengsek, buta dan sangat bodoh.

Waktu berlalu, begitu juga amarah Loli. Loli bilang dia sudah memaafkan saya. Meskipun saya tidak yakin. Kami berkomunikasi dengan lancar. Layaknya pertemanan pada umumnya. Namun, saya merasa ada saja yang berbeda. Entahlah, mungkin karena rasa bersalah saya yang begitu besar padanya.

Setiap libur semester, saya selalu menyempatkan diri untuk mengajaknya bertemu. Namun, Loli juga selalu menyempatkan diri untuk menolak ajakan saya dengan alasan yang berbeda-beda. Alasan terakhir yang saya dapat adalah dia mau mudik ke Solo.

“Zumar gak tahu lebaran nanti Zumar bisa ngomong gini atau enggak. Tapi, sekarang ini buat kesekian kalinya Zumar mau minta maaf sama Loli. Zumar ngerti kalo Loli udah bener-bener males dan kesel sama Zumar. Zumar juga kesel dan males sama diri sendiri. Oh ya, hati-hati mudiknya.” ungkap saya padanya melalui BBM.

Saya lalu mematikan handphone saya seharian, dan baru menyalakannya pada keesokan hari. Ada beberapa pesan masuk di handphone saya. Termasuk balasan BBM dari Loli.

“Kok ngomong gini sih? Loli udah maafin kesalahan Zumar yang dulu-dulu kok. Loli udah gak kesel, males apalagi dendam sama Zumar. Bener deh. Loli juga minta maaf kalau selalu nolak ajakan Zumar buat ketemu. Bukannya Loli gak mau ketemu, tapi ada hati yang harus Loli jaga sekarang. Jangankan sama Zumar, sama temen cowok satu geng aja Loli pikir-pikir kalau mau jalan bareng. Udah, gak usah mikir gitu. Loli udah maafin Zumar kok,”.

Setelah membaca itu, saya baru mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang ternyata benar-benar mencintai kita. Namun, rasanya dia memang harus mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik dari saya. Laki-laki yang lebih bisa menghargai dan menyayanginya dengan tulus. Sosok laki-laki yang tidak dia dapat dari saya.

3. Kehilangan kebahagiaan saat liburan.

Saya benci mengakui ini, namun rasanya liburan kali ini kurang bisa memberikan saya kebahagiaan. Saya merasa sangat bosan dan ingin segera kembali ke Malang. Saya tidak tahu mengapa saya merasakan ini. Rasanya begitu kacau. Namun jika saya kaitkan dengan logika, mungkin beberapa penyebabnya adalah:

- Beberapa sahabat tidak pulang ke Cilegon karena sedang KKN, atau kuliahnya sudah mulai lagi.

- Sepupu yang seumuran dan biasa main dengan saya tahun ini sudah bekerja. Sehingga dia menjadi sangat sibuk.

- Saya merindukan seorang perempuan yang belakangan ini berhasil merebut cinta saya dan menyingkirkan perempuan lain baik di mata, pikiran, juga hati saya. Dia bukan pacar saya. Entah nanti akan menjadi pacar atau tidak, saya tidak peduli. Apa yang saya rasakan saat ini hanya saya ingin segera bertemu dengannya di Malang.

4. Kehilangan remot AC ketika sedang berada di Cilegon.

Awalnya saya kira ini hanya perasaan saya saja. Namun ketika saya bertanya ke yang lain, ternyata mereka juga merasakan hal yang sama. Cilegon saat ini semakin panas!

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Saya bukan pakar masalah iklim dan cuaca. Mungkinkah disebabkan oleh meningkatnya volume kendaraan? Atau disebabkan oleh pembangunan pabrik baru? Entah, yang pasti kota ini semakin panas dari terakhir kali saya pulang ke sini. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan saya adalah manipulasi udara oleh alat bernama AC.

Siang ini saya kehilangan remot AC ketika matahari bersinar dengan sangat terik. Tidak kuat menjadi pepes manusia di rumah, saya pergi ke sebuah restoran cepat saji (yang pastinya ada AC dan wi-fi), memesan minuman dingin, membuka laptop, lalu membuat tulisan ini.