Dan Mentari Pun Tenggelam

Ketika mentari terbit pagi ini, kedua mataku lebih dulu terbit darinya. Semalam aku tak bisa tidur. Pikiranku penuh dengan kamu. Berbanding terbalik dengan sepinya hidupku, yang hanya ditemani kenangan serta penyesalan.

Dan tiba-tiba aku ingin pergi keluar rumah. Melewati jalan setapak di mana langkah kita pernah saling beriringan. Aku masih ingat, saat itu engkau bercerita tentang keluargamu. Sedangkan aku sibuk memikirkan cara untuk bisa jadi bagian dari itu.

Matahari pun meninggi, tanda siang datang. Senada dengan rinduku yang semakin meninggi hingga tak kuasa kugapai. Aku ingin bertemu denganmu. Dan ketika itu terjadi, aku akan menghentikan waktu.

Aku mencintai sekaligus membenci ketika matahari hendak tenggelam. Ia cantik namun membawa gelap setelahnya. Percis senyum terakhir yang kau lempar hari itu. Membawa kematian yang tak kunjung menjemputku.

Cilegon, 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.