Demam Sepeda

Sebagaimana tahu bulat, ajakan Ayah untuk gowes ke Pandeglang sangat mendadak.

“Ayah besok mau gowes ke Jiput (nama kecamatan di Pandeglang). Ikut?”

“Ya sudah kalau maksa,”

Tanpa pikir panjang saya langsung menerimanya. Sebagai seorang yang saat ini menduduki jabatan pengangguran, jelas saya tak punya kegiatan penting yang bisa jadi alasan untuk menolak ajakan tersebut. Terlebih saya juga ingin menguji fisik saya, kuatkah saya mengayuh sepeda dari Cilegon sampai Pandeglang? Selain itu, terdapat pula alasan khusus saya menerimanya: Beberapa waktu sebelumnya, ketika sedang bersama teman perempuan yang cantik, ia berkata,

“Zum, kok badan kamu sekarang berisi, ya?” rupanya aktivitas belakangan rajin gowes ini membuahkan hasil, ya, dan pujian dari dia pun membakar semangat saya untuk gowes lebih giat. Mungkin hasilnya berbeda kalau yang memuji cowok, apalagi jika orientasi seksualnya menyimpang.

Saya rajin gowes baru belakangan ini, meskipun sedari awal kuliah di Malang pun saya sudah memiliki sepeda. Saat itu saya membeli sepeda Fixie seorang kawan yang sedang butuh uang. Lalu beberapa tahun kemudian, karena ia berkata ingin kembali membeli sepeda tersebut, saya pun membayari sepeda kakak, sebagai ganti. Namun meski memiliki sepeda, saya terhitung jarang memakainya. Bahkan menjelang akhir masa studi saya, sepeda tersebut lebih sering digunakan teman dibanding pemiliknya sendiri.

Begitu pula dengan Ayah, ia baru rajin gowes akhir-akhir ini. Semua itu bermula dari sini:

Setelah menjalani lika-liku perkuliahan, menunggu dan mengejar-ngejar dosen untuk bimbingan skripsi, serta tegang di ruang ujian, akhirnya saya lulus kuliah juga. Berakhirnya masa kuliah tersebut berarti berakhir pula kehidupan saya sebagai anak kos di Malang. Saya harus pulang ke kota asal saya, Cilegon.

Barang-barang yang akan saya bawa pulang pun saya bereskan, termasuk sepeda. Mengetahui bahwa saya akan pindahan, Yohan, sebagai teman kos yang lebih sering memakai sepeda saya dibanding pemiliknya, mengajukan penawaran.

“Mas, sepeda sampeyan bawa?”

“Iyo, Han,”

“Kalau aku bayarin aja gimana?”

Ia kemudian menyebut harga, dan saya menolaknya karena nominal yang ia sebut tidak bisa saya gunakan untuk membeli rumah. Padahal, sepeda itu saya beli hanya seharga satu juta dari kakak. Nyicil pula. Ya, namanya juga melatih jiwa kewirausahaan.

Akhirnya sepeda itu bersama barang lainnya saya kirim ke Cilegon. Kedatangan sepeda itu rupanya menarik perhatian Ayah. Selama beberapa hari Ayah meminjam sepeda saya tiap pagi atau sore untuk berolahraga, dan ia menyukainya. Sampai akhirnya pada suatu hari, Ayah memutuskan untuk membeli sepeda sendiri.

Memiliki sepeda sendiri membuat Ayah menjadi lebih rajin gowes. Bahkan mulai membeli barang-barang yang berhubungan dengan sepeda seperti baju, celana, helm, tas, serta aksesoris sepeda lainnya. Tak hanya itu, bahkan kurang dari 5 bulan selepas membeli sepeda, Ayah membeli sepeda lagi. Sehingga sepeda lamanya ia wariskan ke saya.

Demam sepeda ini tidak hanya melanda Ayah, tapi keluarga besar. Melihat hobi baru Ayah bersepeda rupanya menarik perhatian mereka. Hingga akhirnya satu persatu dari sebagian anggota keluarga besar pun membeli sepeda. Begitu pula dengan yang sebelumnya sudah punya sepeda (dan lama tak dipakai), jadi kembali gowes karena demam ini.

Gowes bareng keluarga besar pun digalakan, dan di acara gowes kedua, kami sudah memiliki jersey sendiri. Gokil, sampai segininya, ya, demamnya. Saya jadi berpikir kalau saat itu saya melepas sepeda ke Yohan, mungkin Ayah dan keluarga besar tidak terkena demam sepeda seperti sekarang. Mungkin terkena demam lain. Entah apa, tapi semoga bukan demam berdarah.

Gowes bersama keluarga besar.

Kembali ke gowes bersama Ayah menuju Pandeglang, jarak dari Rumah menuju sana menurut Google Maps adalah 58 km. Kami hari itu PP. Berangkat dari rumah pukul 6.45, dan sampai di tujuan pukul 11. Kemudian istirahat, dan kembali pulang ke Cilegon sekitar pukul 14.00. Berarti total jarak yang ditempuh hari itu adalah sekitar 116 km.

Saat perjalanan berangkat, saya merasa kuat. Bahkan saya sempat sombong dengan update status di WhatsApp (WA) perihal perjalanan saya dengan caption “I don’t stop when I’m tired. I stop when I’m done.”. Namun saat perjalanan pulang, baru setengah jam gowes saja saya sudah ingin menyewa mobil pick up untuk membawa sepeda saya ke rumah. Namun saya tetap menyelesaikan perjalanan pulang dengan gowes. Meskipun caption status WA saya itu harus direvisi, “I don’t stop when I’m done. I stop when I’m tired and I want to rent a car to carry my bike,”.

Saya tiba di rumah sekitar pukul 20, dan tiada yang lain yang saya cari selain kasur. Lelah sekali rasanya hari itu. Hari itu juga seorang teman mengajak saya untuk gowes pada esok hari. Saya langsung menolaknya. Saya benar-benar lelah sampai berpikir bahwa pada esok hari pun saya masih merasa lelah. Kecuali yang mengajak Julie Estelle mungkin, ya. Kalau dia mengajak saya untuk gowes pada esok hari, padahal hari ini saya baru saja gowes sekitar 116 km, saya akan menjawab ‘Ya’.

‘Ya tentu saja tidak’, maksudnya. Siapapun yang mengajak gowes untuk esok hari setelah gowes seharian ini pasti saya tolak. Saya mau istirahat seharian, dan nampaknya akan lebih nikmat kalau sambil makan martabak.

Anyway, berikut beberapa dokumentasi dari perjalanan kemarin:

Tiba di Jiput, Pandeglang.
Tangan sampai seperti warna jersey Manchester United: Merah.
Pemandangan di Perjalanan pulang di daerah Pasauran.

Azzumar Adhitia Santika
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade