Sebelum Mati Muda
Suatu malam di awal November 2015 saya berkunjung ke rumah Mas Susi setelah hampir satu setengah tahun kami tidak berjumpa juga tidak pula berkomunikasi.
Saya mengenalnya dari kakak. Tak seperti teman kakak saya yang lain, Mas Susi adalah yang paling saya segani. Saya tak tahu mengapa. Tiap berhadapan dengannya saya selalu merasa canggung dan bodoh.
Mungkin itu karena keberanian hidupnya. Ia rela berhenti kuliah agar adiknya tetap bisa melanjutkan sekolah ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi beberapa tahun silam. Sebuah pengorbanan yang sangat ksatria bagi saya.
Atau mungkin karena pemikiran-pemikirannya tentang hidup yang saya anggap menakjubkan. Seperti apa yang ia katakan kepada saya di malam itu.
“Kamu kepikiran buat bunuh diri gak, Dit?” tanya Mas Susi pada saya.
“Kepikiran, Mas. Sering banget.”
“Hahaha. Bagus. Berarti kamu udah ada di jalan yang benar.”
“Jalan yang benar?”
“Aku juga mikir gitu waktu seumuran kamu. Aku kasih tahu ya, orang bodoh itu selalu mencari cara untuk bisa hidup selamanya. Orang pintar selalu ingin mati. Dan orang jenius berharap tidak pernah dilahirkan. Karena bagi mereka hidup ini membosankan.”
“Hidup memang membosankan, Mas!” ujar saya dengan cukup lantang, “Karena pada dasarnya kita hidup sendiri di dunia ini. Suatu saat orang tua kita akan meninggal. Kekasih kita bakal meninggalkan kita, entah wafat atau pergi begitu saja. Sahabat-sahabat akan sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Intinya, pada waktunya orang-orang yang kita sayang akan menghilang. Aku gak mau itu terjadi, Mas. Makanya aku pengen cepat mati. Aku pengen mati muda. Aku gak mau kehilangan orang-orang yang aku sayang.”
“Tapi kamu juga harus ingat, Dit, hidup juga penuh dengan pelajaran. Salah satu pelajaran yang aku dapat itu, daripada pikiran capek dipakai buat mikir gimana cara cepat mati, mending kamu pakai pikiranmu itu buat mikir gimana cara bahagiain orang-orang yang kamu sayang.”
Saya tercenang. Meski kalimat itu tidak merubah keinginan saya untuk mati muda, setidaknya saya jadi berpikir kalau saya harus meninggalkan sesuatu di dunia ini. Minimal untuk orang-orang yang saya sayang. Agar saya tidak hidup sia-sia. Agar saya dapat mati dengan bangga.
Sesuatu yang ingin saya tinggalkan adalah karya. Saya tidak tahu apakah hal-hal berikut dapat dikatakan sebagai karya, tapi ya sudahlah saya pamerkan saja di sini: Saya banyak menulis essay-essay komedi mengenai kehidupan di http://genderuwomuntaber.blogdetik.com/, menulis puisi-puisi di http://sodokaksara.blogdetik.com/, membuat video-video di https://www.youtube.com/user/BledexProductions, dan yang terbaru adalah membuat video-video berdurasi singkat (15 detik) di https://www.instagram.com/pamuji_n_santika/.
Perihal “proyek” terakhir, @pamuji_n_santika adalah akun instagram yang saya buat bersama seorang kawan di kampus. Nama akun tersebut diambil dari nama belakang masing-masing dari kami; Enggar Slamet Pamuji dan Azzumar Adhitia Santika. Tujuan utama dibuatnya akun tersebut adalah agar kami punya dokumentasi akan persahabatan ini di sisa masa kuliah yang kurang dari 2 tahun lagi.
Karena seperti yang sudah saya katakan di atas, pada dasarnya kita ini hidup sendiri. Ketika lulus nanti, mungkin saya dan Enggar tidak lagi bersama karena telah memiliki kehidupan sendiri-sendiri di kota yang berbeda. Dan ketika itu terjadi, akun instagram ini akan menjadi sarana nostalgia yang cukup manis.
Berikut adalah salah satu video yang kami buat:
Silahkan buka instagram Anda dan kunjungi akun tersebut untuk melihat konten-konten lainnya. Kalau ingin memfollow atau mentranfer sejumlah uang secara cuma-cuma juga kami terima, kok.
Saya rasa tulisan ini sudah cukup panjang sebagai postingan pertama saya di medium. Atau dengan kata lain, sudah cukup panjang sebagai basa-basi saya untuk mempromosikan akun instagram @pamuji_n_santika. Haha!