Semalam Sebelum Perayaan Kemerdekaan

Di antara barisan kata yang terukir abadi di seluruh puisi untukmu, ada air mata, cinta, senyuman, juga harapan bersembunyi dari indah matamu kala engkau membacanya.

Di antara barisan kata itu pula aku jauh tenggelam dalam tatapmu. Sewaktu kecil ayah hanya mengajariku berenang di kolam renang. Tanpa pernah mengetahui bahwa matamu lebih menenggelamkan dari lautan, apalagi sekadar kolam renang. Aku ingin menjadi satu-satunya ikan yang hidup dan mati di sana.

Di ujung barisan kata puisi-puisiku, engkau dapat dengan mudah menemukan di mana dirimu berada selama ini: anganku. Namun, aku ragu kau tahu di mana aku berada.

Aku tak ada di sisimu, apalagi di pikiranmu. Aku tak ada di masa lalu, mungkin juga masa depanmu. Aku bahkan tak ada di jiwaku.

Aku berada di balik meja, dengan pena di tangan dan engkau di pikiran. Aku berada di negara yang esok merayakan peringatan hari kemerdekaan. Aku berada jauh dari angan begitu pula pelukan.

Nampaknya, esok pun aku akan tetap berada di situ. Merayakan kemerdekaan dengan jiwa yang masih dijajah rindu.

Cilegon, 16 Agustus 2016.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.