Tempat Tinggal yang Nyaman

Memilih tempat tinggal yang enak, dalam hal ini kos-kosan ketika merantau di kota orang, itu gampang-gampang susah. Kadang tempatnya enak, tapi orang-orang di dalamnya tidak enak. Pun sebaliknya. Selama semester 1 di tahun awal saya kuliah, saya sudah pindah kos empat kali.

Kos yang pertama tempatnya tidak enak. Kumuh. Tapi orang-orang di dalamnya sudah seperti keluarga. Lalu saya pindah dari situ dan tinggal satu rumah dengan kakak saya beserta satu orang temannya. Di sana tempatnya enak. Bagus. Tapi orang di dalamnya tidak enak. Waktu itu saya sering bertikai dengan kakak. Sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut. Tidak sampai satu bulan saya tinggal di sana.

Dari rumah itu kemudian saya numpang tinggal satu kamar berdua di kos seorang sahabat. Nah, kalau ini selain tempatnya yang tidak enak (peraturannya terlalu ketat dan mengekang), orang-orang di dalamnya juga tidak enak. Kos tersebut adalah kos karyawan. Sehingga orang-orang di dalamnya benar-benar indivualis. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunianya sendiri-sendiri. Seperti tidak ada kehidupan tinggal di situ. Terlebih, saya juga dimusuhi pembantu di sana hanya karena masalah “saya numpang tinggal bareng teman”. Entah kenapa mereka tidak suka dengan saya dan benar-benar mempermasalahkan hal itu. Padahal, saya sudah izin ke sahabat saya, sudah izin ke orang tuanya, bahkan sudah izin ke pemilik kosnya juga. Saya bahkan membayar uang kos juga karena diminta. Alhasil setelah satu bulan tinggal di sana, saya memutuskan keluar. Pindah ke kos keempat selama merantau di kota ini.

Kos saya yang keempat inilah yang saya anggap sempurna. Hingga tulisan ini dibuat, saya sudah hampir 3 tahun tinggal di sini. Meski kamarnya kecil, namun tempat ini enak. Tempatnya bersih, bagus dan nyaman. Orang-orang di dalamnya juga enak, meski kami baru benar-benar akrab dan menyatu dalam satu tahun terakhir. Saya seperti menemukan keluarga baru yang mampu mengurangi kesepian saya di tanah rantau ini.

Sayangnya, kebersamaan tersebut tak berlangsung selamanya. Satu persatu penghuni kos keluar dari rumah ini. Ada yang lulus, ada juga yang mendapat tempat baru. Salah satu yang akan keluar karena sudah lulus adalah Mas Johan. Saya sangat sedih melihat dia mulai mengemasi barang-barangnya. Mas Johan sudah saya anggap seperti kakak sendiri di rumah ini. Saya membayangkan bagaimana rumah ini makin sepi tanpa kehadirannya. Saya membayangkan bagaimana orang-orang baru akan datang menggantikan orang-orang lama, yang mana belum tentu lebih bisa bikin nyaman dibanding mereka.

Dua hari sebelum kepulangannya, dengan panik Mas Johan mengetuk pintu kamar saya.

“Dit! Dit!”

“Ya mas?” saya membuka pintu kamar dengan panik juga.

“Sepatu aku hilang, Dit!”

“Sumpah aku gak nyolong, Mas!”

“Ye, aku juga gak nuduh kamu. Aku cuma lagi bingung aja ini,”

Lalu kami pun memutuskan untuk lapor ke bapak kos. Bapak kos kemudian mengumpulkan penguhuni kos yang lain untuk membahas masalah pencurian ini. Suasana sempat menjadi tegang karena Mas Johan terbawa emosi. Maklum, dalam satu bulan ini, ia sudah dua kali kehilangan sepatu. Semuanya hilang di kos, dan belum diketahui siapa pencurinya.

Bukan hanya itu kasus kehilangan barang yang Mas Johan alami selama tinggal di rumah ini. Jauh sebelum saya masuk ke kos ini, ia pernah kehilangan hanpdphone serta satu pasang sepatu lainnya. Wajar jika malam itu Mas Johan benar-benar terbawa emosi. Sebab selama kos ini berdiri, hanya dia yang selalu jadi korban pencurian. Sedangkan pelakunya tidak pernah diketahui apakah dari pihak dalam, atau dari pihak luar. Motif pencuriannya pun tidak jelas. Apakah murni karena ingin mencuri, atau karena dibumbui faktor lain seperti dendam dan semacamnya. Sebab, mengapa selalu Mas Johan yang menjadi korban? Itu yang janggal.

Setelah emosinya reda, Mas Johan pun mengikhlaskan kehilangan tersebut. Namun tidak dengan bapak kos. Dia masih kesal dan penasaran dengan pencuri itu. Ia bahkan sampai berujar kalau pencurinya orang dalam, maka ia akan langsung mengusir orang itu dari kos.

Sayangnya, mencari pencuri itu di rumah kos tanpa kamera pengawas seperti ini sama seperti mencari perempuan cantik yang jelek. Sulit ditemukan.

“Terus gimana nih, Mas, cara kita cari tahu siapa pencurinya?” tanya saya ke bapak kos.

“Nah itu dia mas!” jawab bapak kos. Ia sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya kembali berujar “Di sini ada yang punya kenalan orang pinter gak?”

Mendengar pertanyaan bapak kos itu, saya mendadak ingin memberinya kontak whatsapp dosen saya. Beliau lulusan S-3 dari luar negeri. Dijamin pinter.

Karena pencurinya tidak ditemukan, dan para penghuni kos juga tidak ada yang punya kenalan orang pinter (kecuali saya tadi), bapak kos lalu menghimbau kepada seluruh penghuni untuk benar-benar menjaga barang berharganya masing-masing. Agar kejadian serupa tak terulang lagi. Saya pun mengikuti himbauan tersebut dengan memasang tulisan ini di atas rak sepatu saya.

Padahal saya sama sekali gak ngerti ilmu-ilmu begituan, meski saya asli Banten (dan saya juga gak ngerti kenapa Banten identik banget dengan ini, padahal ada kekhasan lain di tanah kelahiran tersebut). Tapi gak apa, siapa tahu kalau ada yang mau nyolong jadi takut. Hehehe. Eh bentar, tapi kalau yang mau nyolong baca postingan ini, terus tahu kalau itu cuma gertakan belaka, jadi gak takut lagi dong dia. Hmmm.

Satu hari setelah tulisan itu saya pasang, Mas Johan pamit pergi meninggalkan kos. Sekuat tenaga saya mencoba tegar saat mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Seperti Mas Johan yang sudah mengikhlaskan sepatunya, rasanya saya juga harus mengikhlaskan kepergian Mas Johan. Karena memang beginilah hidup, silih berganti orang datang dan pergi. Dan kini saya juga sadar, bahwa tempat tinggal atau tempat berpijak yang nyaman, tidak hanya sekadar dicari. Tapi juga diciptakan.

Semoga saya bisa menciptakan tempat tinggal yang nyaman bersama wajah-wajah baru yang menggantikan wajah-wajah lama di kos ini. Hingga akhirnya saya lulus, pergi dari sini, dan digantikan wajah baru yang lain.