Dia (1)

Aku ingin bercerita tentang dia. Dia. Dia. Dia. Yang banyak sekali ada dimana-dimana. Berkeliaran mecnclok sana-sini. Berdiam diri. Menatap terpaku.

Dia..

Ada dia. Yang berdiri di depan sebuah pintu bergaya tua. Sejak jaman Belanda, pintu itu belum diganti. Berdiri di atas lantai tegel hitam yang sudah kusam karena diinjak oleh kaki yang beralaskan sepatu. Kotor. Dia yang sedari tadi menatap tanpa arah. Entah memikirkan apa. Atau sesekali dia duduk, diapit oleh teman-temannya yang satu jenis kelamin. Bersenda gurau, tersenyum. Dan menatap hampa orang-orang yang berjalan di hadapannya.

Dia sedang menunggu bel pulang berbunyi. Maklum, siswa kelas 3 SMP. Dia masih memiliki jam tambahan untuk persiapan Ujian Nasional. Sebentar lagi. Pulang.

Biar aku lanjutkan ‘dia’ yang lainnya pada sesi selanjutnya