Dia (4)

Empat babak! Dia!

Kini dia adalah sesosok manusia yang terlihat cukup gaul. Kulitnya putih bersih, banyak bercanda dan suka tertawa.

Dia duduk di bangku depan kelasnya. Menjawab setiap pertanyaan kakak kelas pembina MOS. Euh, masa-masa yang menyebalkan semasa SMA. Cukuplah, jangan terulang kembali.

Dia yang tersenyum itu menarik perhatian ‘si dia.’ Anaknya gaul, ok juga. Asik dijadikan teman.

Dia dan ‘si dia’ berteman baik hingga lulus SMA. Dia sempat menyatakan perasaannya pada ‘si dia.’ Namun terlambat. ‘Si dia’ sudah tidak ada rasa tertarik pada dia.

Selamat! Selamat! Mereka selamat dari jurang keterpurukan ala anak muda. Pacaran.

Dia dan ‘si dia’ berpisah. Tengah dan Barat jarak yang cukup jauh. Kasus penolakan yang meninggalkan luka. Membuat dia tidak pernah lagi menyapa ‘si dia.’

Kini ‘si dia’ cukup bahagia dengan rutinitasnya. Membuatnya lupa tentang dia.

Cukup. Kini jadi kenangan.