Dua Tamu Besar

Sebuah pelajaran saat dua acara mempunyai kehadiran tamu yang besar.

Saat semua terasa bahagia. Mulai dari diterimanya sebuah undangan, hingga akhirnya terucaplah sebuah janji suci yang naik tinggi mengguncang ‘Arsy-Nya. Saat semua orang bahagia, saat teman lama mendekat, kerabat lama berkumpul dan keluarga besar menyatu. Itulah sebuah hari Pernikahan. Yang tidak bisa kita elakkan lagi bahwa hari itu adalah hari yang, bahagia…

Namun, di sela-sela menunggu hadirnya kedua mempelai di atas pelaminan, ada saat-saat dimana waktu luang itu digunakan untuk memikirkan sesuatu. Acara lain dengan kehadiran tamu besar juga.

Saat semua terasa menyedihkan. Mulai dari diterimanya sebuah kabar duka, hingga akhirnya terucaplah doa-doa yang naik tinggi membangkitkan kenangan-kenangan semasa hidup. Saat semua orang bersedih, saat teman lama mendekat, kerabat lama berkumpul dan keluarga besar menyatu. Itulah sebuah hari Berpulanganya sesosok manusia kepada penciptanya. Yang tidak bisa kita elakkan lagi bahwa hari itu adalah hari yang, menyedihkan.

Saat kebahagiaan dan kesedihan menjadi sebuah rasa yang mewarnai masing-masing hari. Maka, pada saat itu juga kita akan sadar bahwa hidup ini teruslah berjalan. Pernikahan itu sebuah amanah — maka setelahnya akan dilalui cerita kehidupan lain di dunia. Kematian itu sebuah ketetapan — maka setelahnya akan dilalui cerita kehidupan lain di dunia lain. Pernikahan itu bagian dari perjalanan hidup, kematian itu adalah akhir dari kehidupan (di dunia).

Aku memang tidak pernah mendengar dalil yang menyatakan perbandingan antara keduanya ini. Ini hanyalah pikiran sepintas saja. Ini adalah soal rasa yang mewarnai masing-masing dari kedua hari tersebut. Ada saat dimana kita akan didatangi tamu dengan perasaan bahagia dan ucapan selamat yang betubi-tubi. Ada juga saat dimana kita akan didatangi tamu dengan perasaan sedih dan doa-doa yang melangit untuk meringankan siksa kubur kita…

Keduanya mempunyai tamu yang sama kan? Tamu besar, tamu yang banyak.

Ah, renungan ini telah muncul sejak setahun lalu di hari pernikahan sahabat terbaikku semasa kuliah. Ini baru aku renungi kembali dan baru sanggup aku susun kata-katanya…

Selamat menjalani harimu sobat… Setelah ini, beberapa jam lagi, esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan sampai kapanpun telah Allah tetapkan garis takdir untuk kita. Namun, telah Allah berikan mana jalan yang satu, yang seharusnya setiap manusia lalui dan mana jalan yang satu lagi (namun banyak sekali bentuknya), yang tidak seharusnya setiap manusia lalui. Kita hidup berpetunjuk, bukan tanpa petunjuk. Jika ada satu perbuatan yang kita ragukan kebenarannya, maka bukalah kembali buku petunjukmu. Buku untukmu…

Selamat malam…

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Annissa Retno Arimdayu’s story.