#CBMG — Hamba

Dan hari ini, mari habiskan waktu dengannya!

"Ngapain kamu senyam senyum sendiri?" Ledek seseorang di sampingku.

"He.. Engga, seneng aja bisa jalan-jalan sama mas lagi."

"Oh..." jawabnya datar.

"Gusti... Ekspresif dikit napa?" Balasku sambil menyubit pinggangnya.

"Aw... Bocah!"

Kami berdua tertawa dan kembali melanjutkan perjalanan.

"Bagaimana, mas? Hari-harimu disana. Menyenangkan?"

"Sayangnya bukan kesenangan yang aku cari, dik. Tapi kebebasan. Kebebasan menghamba. Kebebasan untuk siapa aku mengarungi hidup ini, kebebasan kepada siapa aku melayangkan totalitas dalam diriku."

"Berat, mas. Adik paham sih, tapi berat."

"Apakah menghamba kepada yang menciptakanmu itu berat, dik?"

Aku berpikir agak lama, menyusuri toko demi toko di kota kecil ini. Entah mencari apa, tapi aku rasa aku perlu memikirkan dan mencari jawaban yang sangat tepat dan bersih untuk menjawab pertanyaan mas ganteng.

"Hmmm.. Engga sih mas." Tanpa sengaja mataku berhenti pada salah satu toko yang memancarkan keharuman alami. Toko bunga. "Mas, lihat deh. Bunganya cantik." Ucapku sambil menghentikan langkah kedua kaki kami.

"Cantikanmu."

"Halah. Gombal. Bilangin nanti ke istri mas kalau adiknya lebih cantik."

"Haha. Sok aja. Dia mah bilang kamu juga cantik." Dan aku tersipu. Dasar pasangan yang mirip.

"Mas, mikir engga sih? Kenapa yah benda secantik ini dijual? Dan kemudian dinikmati keindahannya, udah layu mah buang."

"Seperti filosofi perempuan masa kini?" Timpalnya.

"Ah, tepat! Kita sehati."

"Kini, bukan hanya perempuan yang hilang kepada siapa mereka harus menghamba. Namun, manusia secara umumnya. Mereka tidak tahu tujuan jelas dari hidup mereka. Yang mereka tahu adalah bagaimana caranya happiness comes to me. Padahal, pada hakikatnya sesuatu yang indah itu berharga dan hanya bisa didapat serta dinikmati oleh orang-orang yang berhak. Keindahan wanita, kecantikannya, murni total hanya yang eksklusif yang boleh melihatnya. Tapi, sekarang tidak. Semuanya berganti total. Demi uang, mereka rela menjual diri. Demi kebahagiaan semu, mereka rela mengumbar aurat mereka. Sadar tidak sadar, kanan-kiri-depan-belakang, hampir kebanyakan perempuan merelakan tubuhnya terumbar. Rela mengeluarkan uang 500rb demi baju yang tidak sepenuhnya menutupi. Dik, kini keindahan itu dijual, ya?"

"Padahal bunga ciptaan Allah, ya mas? Kenapa harus dijual ya?"

"Karena ada harga tersendiri yang mereka patok untuk menawarkan keindahan. Dan ada harga tersendiri yang mereka jual untuk mendapatkan keuntungan."

"You must pay some, because I've done this being so great and beautiful. Capek tauk!"

"Exactly."

"Ada solusi engga mas?"

"Solusinya? Sadarkan manusia untuk kembali berpikir dan memutuskan, kepada siapa mereka harus menghamba."

"Sesimpel itu?"

"Berat tauk. Butuh perjuangan, makanya hadiah bagi mereka yang menyeru kepada kebenaran itu indahnya bukan main."

"Syurga mas?"

"Mahal."

"Hihi. Mau bilang ke kak Sasa, ajarin aku supaya bisa setangguh dia."

"Kak Sasa itu jelmaan Siti Hajar. Jangan main-main."

"Cie gaya. Terus mas jelmaan siapa? Ibrahim?"

"Sedang diperjuangkan." Dan akupun memukul lengannya pelan. "Doain dong."

"Iya deh, aamiin."

Kemudian kami meninggalkan toko bunga itu. Menatap saja yang gratis. Menikmatinya dan dibawa pulang? Kau harus bayar dengan harga yang tidak murah.

Kasihan dunia kini.

------------
Little series of : Cerita Bersama Mas Ganteng
Senin, 12 September 2016
16.25

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.