Lebaran Sebagai Momentum Rekonsiliasi Nasional Pasca Pilkada DKI
Dewasa ini kondisi sosial politik di Indonesia sedang memanas. Bangsa kita seolah terbelah menjadi dua faksi besar; yang satu mendaku dirinya sebagai golongan pancasilais dan yang satu mendaku sebagai golongan islam politik. Hal ini menurut penulis disebabkan oleh efek domino dari Pilkada DKI. Konon, ajang pesta demokrasi di Ibu Kota tersebut merupakan Pilkada yang paling culas yang pernah ada, sebab telah membuat ribuan atau bahkan ratusan ribu orang termobilisasi ke Jakarta hanya untuk menolak salah satu calon gubernur dengan sentimen SARA.
Ironisnya, setelah Pilkada tersebut usai dan menghasilkan pemenang, carut marutnya kondisi sosial politik bangsa ini tak kunjung reda. Alih-alih mereda, konstelasi wacana yang melibatkan kubu pancasilais dan islam politik semakin meruncing. Mereka terus berkonflik baik di dunia maya maupun di ruang publik. Seolah tidak ada titik temu diantara keduanya. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jangan sampai bangsa ini terpecah belah dan mudah diadu domba lantaran adanya perbedaan pandangan atau ideologi politik. Sebab kita punya pengalaman pahit soal perpecahan. Sejarah telah membuktikan bahwa pada masa kolonial, bangsa ini dengan mudah diadu domba satu sama lain oleh penjajah.
Maka dari itu, jika konflik tersebut tak kunjung mereda jangan heran kalau bangsa ini akan terus dilanda permusuhan dan disentegrasi. Hadirnya bulan suci Ramadan diharapkan bisa menjadi momentum untuk meredam konflik antara dua golongan yang sedang bertikai tersebut.
Di bulan yang penuh berkah ini kaum muslim diperintahkan untuk menahan hawa nafsunya. Selain itu umat muslim diajak untuk berbuat baik terhadap saudaranya sesama manusia. Harapannya dengan hadirnya bulan Ramadhan dapat menjadi ajang bagi ummat muslim untuk merubah sikapnya sehingga di hari idul fitri dapat kembali fitrah atau suci kembali.
Ringkasnya, substansi dari bulan ramadan adalah momentum untuk ber-Fastabiqul Khairot atau berlomba-lomba dalam kebaikan dan mulai menata kehidupan yang lebih baik. Sedangkan Idul Fitri adalah ajang yang potensial untuk dijadikan bermaaf-maafan serta silaturahmi secara nasional. Spirit inilah yang perlu dijadikan landasan bagi tiap-tiap kaum muslimin untuk menginisiasi rekonsiliasi nasional antara kedua golongan yang sedang berkonflik tersebut.
Rekonsiliasi merupakan agenda yang penting untuk segera dilakukan. Dimulai dari ajakan menyampaikan pesan-pesan damai, dialog hingga pentingnya menjaga integrasi demi kemajuan bangsa. Karena kalau tidak bangsa ini tak kunjung maju lantaran sibuk bertengkar satu sama lain. Sudah selayaknya kita tidak boleh terus-menerus mengobarkan api kebencian satu sama lain. Sebab selain melanggar perintah agama juga mengancam integrasi bangsa yang telah merdeka lebih dari 70 tahun ini.
Semoga bulan ramadan dan idul fitri tahun benar-benar menjadi berkah bagi rekonsiliasi dan perdamaian bangsa.
�G���>
