Menyelisik Pesta Demokrasi

Mumpung ada wadah seperti medium ini, sepertinya tidak ada salahnya saya menuangkan apa yang ada di pikiran dan benak saya atas apa yang saya alami. Siapa tau bisa jadi bahan diskusi sembari menikmati kopi selagi hujan baru baru ini mau mampir.

Ilustrasi Pesta Demokrasi

Pesta Demokrasi adalah sebuah kiasan dari ajang pemilihan umum. Mungkin hal ini dilandaskan dengan konsep pemilihan umum yang menggunakan one-man one-vote yang dirasa cukup mewakili arti dari demokrasi itu sendiri. Disini saya tidak mau mendiskusikan pemahaman saya terkait demokrasi dan pemilu. Saya hanya menjabarkan arti dari kata pesta demokrasi yang saya tulis.

Pemilu sendiri menjadi perbincangan hangat di masa seperti ini karena memang sudah sewajarnya hangat, mengingat tahun depan Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum untuk presiden dan jajaran legislatif secara serentak. Bisa dibayangkan seperti apa ‘seru’ nya nanti. Tapi beda sekup, beda juga ke-‘seru’-annya.

Baru baru ini saya menjadi bagian dari sebuah pesta demokrasi yang ada di lingkungan saya. Dengan kemampuan kopi kapal api susu dan dua batang sampoerna mild saya berusaha menyelisik berbagai hal yang ada didepan maupun dibalik layar pesta demokrasi ini.

Berperang Melawan Ego

Latar belakang yang membuat orang berjuang memang berbeda beda. Entah dari faktor eksternal atau internal dirinya sendiri. Jika harus dibobotkan sepertinya akan mudah menentukan mana latar belakang yang memiliki kekuatan untuk berjuang. Sepertinya semua setuju daya dorong pribadi merupakan sesuatu yang tergolong berani dan ikhlas ketika itu benar benar ditimbang secara dalam. Maka dalam proses demokrasi, para calon akan sedikit lebih mendapatkan respect ketika alasan dia berjuang merupakan sebuah dorongan pribadi, entah tinjauan apa yang mereka gunakan dari pada calon yang berjuang karena dorongan pihak pihak lain. Terkesan lebih mantap.

Tapi sebenernya tidak semudah itu meremehkan faktor eksternal untuk orang memutuskan keputusannya. Saya merupakan saksi hidup, seorang manusia pusing bukan kepalang hanya untuk merumuskan keputusan. Walaupun sebenernya tidak ada yang menuntut secara eksplisit, tapi seakan kondisi berbicara langsung. Lucu jadinya. Kita menemukan berbagai asumsi dan point of view dari kondisi yang terbaca pada saat itu. Saya yakin semua tidak ada yang valid. Bahkan sampai dilakukan crosscheck pun, saya yakin crosscheck itu tidak valid.

Akhirnya ada satu sosok yang bisa membantu kondisi deadlock seperti ini. Ego, sang pemecah deadlock. Secara kbbi, ego adalah rasa sadar akan diri sendiri, konsepsi individu tentang dirinya sendiri . Beda jika ditambahkan -is dibelakangnya, jadi bernilai negatif. Alih alih menjernihkan pikiran sebelum memulai lembaran baru, ketika kembali ke surabaya, saya dikejutkan dengan berita 180 derajat dari asumsi yang akan terjadi. Salut! Ia berhasil menang! Entah bagaimana ia bisa menemukan keyakinan itu, tapi itu sebuah hal yang brilian. Saya ucapkan selamat dan semangat untuk menjadi bekal ia berjuang.

Yang bisa kita lihat dari kejadian ini, semua orang punya timbangan nya masing masing terkait keputusan apa yang dia akan buat. Baik timbangan secara internal dirinya sendiri ataupun eksternal dengan kondisi lingkungan sekitar dan pihak pihdak lainnya. Untuk menimbang sebenernya mudah, tapi yang sulit adalah merumuskan sebuah keputusan setelah secara nyata kita tau timbangan apa saja yang ada. Tinggal pilih mana yang akan berperan, Ego atau Egois?

Uji Ketahanan

Dalam sebuah proses pemilu yang jabatannya memiliki rentang waktu kepengurusan yang lama, pemilu bisa menjadi hal yang bisa disiapkan. Bahkan banyak pihak bagaimana caranya pemilu ini well-preapared, dan membuahkan hasil yang diinginkan tanpa memikirkan cara yang ditempuh. Tapi bagaimana dengan jabatan atau rentang waktu kepengurusannya yang hanya sebentar. Seperti hal nya organisasi kemahasiswaan. Buat menjadi staff yang baik saja susah apalagi mempersiapkan pemilu secara ideal, baik dari apa yang dibawa sampai rencana strategis kedepannya.

Alhasil di sela sela pergantian matahari, ketika bulan menjadi bintangnya, para calon harus rela mencari dan mengorek kebutuhan kebutuhan yang dirasa penting menjadi bekal ia berjuang di pentas pemilu nanti. Warkop demi warkop disinggahi demi tujuan mulia yang mereka emban masing-masing. Belum lagi, bertemu para senior yang tidak akan mudah memberikan sebuah pandangan. Ketahanan para calon benar benar diuji disini.

Tak hanya diproses itu, dalam diskusi-diskusi yang diagendakan maupun tidak, para calon harus siap dan ikhlas melayani dengan jawaban-jawaban masuk akal dan ideal demi kepuasaan para calon anggotanya. Tidak sedikit pertanyaan yang dilontarkan dengan maksut memberikan pandangan tambahan untuk memilih nanti atau didasari ketidapercayaan kepada para calon untuk menjadi seorang pemimpin. Jika sebagai calon saja sudah tak kuat melayani pertanyaan, apalagi nanti melayani secara keseluruhan. Ini uji ketahanan kedua yang menguras psikis dan fisik para calon. Sebagai penonton, saya ingat dibutuhkan 2 x 2/3 malam dan adzan subuh menjadi pluit panjangnya. Terima kasih gusti!

Sketsa Organisasi

Jika para calon cerdas dan memiliki kemampuan menganalisa yang cukup jauh, sebenernya banyak benefit yang bisa dipetik dari proses yang dilalui ini. Benefit secara pribadi semisal meningkatnya kemampuan berbicara di depan umum, pengetahuan akan organisasi, dan hal hal dasar lainnya.

Tapi jika dilihat lebih luas dan panjang, dari proses ini para calon sebenernya bisa melihat sebesar apa daya dukung anggotanya terhadap kepengurusan saat ia memimpin nantinya. Dengan mempertimbangkan hal ini, nantinya calon terpilih mampu menentukan apa saja yang dirasa butuh untuk dilakukan demi membawa organisasinya lebih baik lagi. Intinya ini menjadi tinjauan sebuah kondisi riil. Tinggal seberapa pintar, kondisi ini dipadukan dengan idealisme si calon dan akhirnya bisa dimanfaatkan menjadi sebuah hal yang bermanfaat bagi semua pihak. Begitulah intinya.


Terima kasih telah membaca. Saya tulis tulisan ini sebagai seorang penonton dan penikmat dari serangkaian proses demokrasi. Saya ucapkan mohon maaf kepada seluruh pihak yang tercederai atas segala tindakan dan keputusan saya selama proses.

— Saya, yang kalah berperang melawan ego.