Beberapa malam sebelumnya…ditengah hiruk pikuk pikiran, tanggung jawab, tugas, dan ulangan, saya malah sedang baca sebuah memoar. Entah kenapa selalu ada waktu untuk membaca buku seperti itu, padahal rasanya buku-buku pelajaran tergeletak lebih dekat.
“Saya tipe orang yang optimis untuk berani mengubah, tetapi, alasan saya ingin mengubah Indonesia adalah karena saya gerah.
Saya gerah melihat potensi Indonesia berbanding terbalik dengan keadaan yang kita lihat sekarang.
Saya gerah melihat penjahat duduk nyaman, tertawa mencibir rakyatnya yang tidak cukup cerdas, atau kalaupun cerdas, tidak cukup kompak untuk memburu mereka.
Saya gerah negara ini dengan segala SDA dan SDM dijadikan alat oleh negara lain.
Saya gerah dengan pemuda-pemuda yang mengaku peduli dengan negara ini, nyatanya tidak pernah bertemu realitas.”
Saya gerah karena pemudanya mempertanyakan kemajuan bangsanya. Padahal, sejarah jelas menyatakan bahwa perubahan bangsa dibawa oleh pemudanya. Artinya? para pemuda tadi seharusnya melempar pertanyaan tersebut kepada DIRINYA SENDIRI.”
Hati saya ditampar diakhir kalimat.
Karena, pada akhirnya saya sadar, yang bisa mengubah, yang mampu mengubah, dan yang seharusnya mengubah, itu kita sendiri.
Karena, pada akhirnya saya sadar, kita selama ini hanya baru bisa menuntut perubahan, nggak pernah benar-benar membuat perubahan. Menuntut saja tidak akan cukup, butuh dua-duanya.
Karena, pada akhirnya selama ini, “perubahan” yang kita elu-elukan, hanya berupa simbol dan lisan, hanya kalimat yang terucap, hanya tweet dan postingan.
Ini pun hanya sebatas postingan.
kaki tidak pernah melangkah, tangan tidak pernah berbuat.
“Perubahan” baru bisa jadi sebuah istilah.
Tapi, sekarang setidaknya kita sadar.
Email me when Bagir Bahana publishes or recommends stories