KAU DAN AKU SAMA

Perjalanan dalam menempuh suatu apapun memang memerlukan waktu dan keadaan yang berliku liku alias bermacam macam corak ragamnya. Baik itu dalam suka cita maupun nestapa. Begitu juga hidup dan kehidupan saya sebagai salah seorang karyawan bawahan disalah satu istitusi milik pemerintah ini sudah barang tentu berbagai macam suka dan duka ceritanya dalam menemani perjalanan usia istitusi ini hingga mencapai 55 tahun. Memang usia saya belum sampai sebegitu matangnya dengan usia istitusi saya tersebut. Namun bagi saya usia diatas 40 tahun rasanya sudah cukup matang dalam menentukan dan memutuskan sikap yang harus diambilnya. Dasar saya menyatakan usia tersebut dalam kondisi yang matang tentunya dari berbagai contoh yang sudah saya lihat selama ini.

Mari kita lihat kebelakang sebentar sebagai pedoman untuk berjalan kedepan nantinya agar lebih baik dan lebih tepat rasanya tujuan tersebut. Sebagai karyawan istitusi tadi yang sudah 55 tahun usia berdirinya, begitu juga saya sudah menemaninya lebih kurang 23 tahun sejak saya ditempatkan pertama kali diSatuan Transmisi Selat Panjang. Awalnya saya masuk kerja buat penyelesaian Satuan Transmisi Selat Panjang yang saat itu baru didirikan oleh Pemerintah. Mulai dari mengawasi pekerjaan pisik bangunan kantor, tower dan kelengkapan lain pemasangan peralatan Pemancar hingga beroperasi layaknya dengan pemancar yang ada diIndonesia. Sebagai perintis satuan Transmisi milik TVRI pada saat itu status saya masih Honor. Saat penginstalasian pemancar tersebut saya bersama rekan dari Satuan Transmisi Batam beberapa minggu didaerah Selat Panjang untuk menyelesaikan pemancar tersebut sampai ON AIR, yang dipimpin pada waktu itu oleh bapak Tri Djoko sebagai kepala Teknisinya. Selama waktu pekerjaan tersebut saya melihat gambaran masyarakat setempat merasa suka cita dengan hadirnya salah satu stasiun milik pemerintah ini. Memang masyarakat setempat sudah biasa melihat tayangan dilayar kaca Televisi mereka siaran dari Negeri seberang sekalipun itu cuma hitam putih. Karena pada saat itu sekalipun sudah ada perangkat televisi berwarna akan tetapi masyarakat sekitar Selat Panjang masih banyak yang menggunakan Televisi hitam putih, itupun penggunaanya masih menggunakan batterey. Pada saat itu saya berfikir dalam hati ini peluang juga buat mendapatkan pendapatan lebih sedikit dengan kondisi yang ada disekitar masyarakat Selat Panjang. Mulai dari memperbaiki alat alat elektronik milik masyarakat sampai jasa cas aki baterey milik mereka. Sambil menulis ini saya terkenang dan tersenyum lebar seperti orang gila saja,kenapa tidak! Pada saat itu seorang operator atau lebih dikenal Teknisi pada Satuan Transmisi bisa menghasilkan pendapatan lebih baik dari penghasilannya ditempat ia bekerja pada saat tersebut. Huahahahahahaha ketawa saya sambil mengusir rasa negative dalam fikiran ini saat menulis yang ternyata saya sudah bertugas diSatuan Transmisi Pasir Pengaraian sejak tahun 1999. Banyak suka cita dan derita yang saya lewati selama bertugas sebagai teknisi TVRI Selat Panjang, kurun waktu tahun 1994 sampai tahun 1999 hingga saya dipindahkan oleh tempat saya bekerja disatuan Transmisi Pasir Pengaraian saat ini.

Hijrahnya saya keSatuan Transmisi Pasir Pengaraian memang ditugaskan oleh Negara, akan tetapi disitulah saya juga menumpang memasang niat dalam hati pada diri zahir dan bathin ini agar juga ikut berubah nasibnya kelak suatu saat.Memang betul juga akhirnya status saya lajang saat itu setahun kemudian berubah menjadi Kepala Keluarga atau menjadi suami.Setahun kemudiaan lahir anak pertama saya seorang perempuan, namun status lainnya masih saya sandang sejak tahun 1994 dalam istitusi saya masih predikat HONOR. Kalau dulu saat masuk pertama kerja istitusi saya masih bernama Direktorat Jendral Radio dan Televisi dibawah naungan Departemen Penerangan (zaman ORBA). Bahkan Satuan Transmisi Pasir Pengaraian tempat saya bertugas sekarang diresmikan oleh bapak Harmoko tanggal 4 Juli 1991 yang saat itu menjabat Menteri Penerangan Republik Indonesia. Transmisi saat itu juga lagi hebat hebatnya saya dengar,karena buatan dalam negeri yaitu LEN atau Lembaga Elektronika Nasional. Hampir satuan transmisi TVRI yang kecil kecil diIndonesia memakai produksi dalam negeri buatan karya anak bangsa sendiri yang slogannya sering kita dengar “gunakanlah produksi dalam negeri” untuk pemancar televisi milik pemerintah ini. Namun seiring perkembangan zaman saat ini yang begitu pesat dan maju rasanya bagaikan berlomba lomba dengan situasi saat ini yang kita harus mengejarnya. Bukan berarti kita tidak mengikuti situasi perkembangan saat ini. Apalagi dalam pembangunan ini salah satu istitusi TVRI merupakan bagian penting peranannya dalam membentuk karakter dan watak setiap insan yang menonton hasil siaranya. Dari individu individu tersebut yang tergabung menjadi kelompok dalam masyarakat yang menentukan karakter suatu bangsa seperti apa nantinya. Berarti peranan media elektronik seperti TVRI sedikit banyaknya secara moril ikut bertanggung jawab terhadap pembentukan pola fikir masyarakat bangsa ini kedepannya.

Berbicara tentang tanggung jawab inilah letak setiap insan Televisi atau yang lebih dikenal dengan sebutan para Broadcaster Televisi harus menyadari tugas pokok dan fungsi masing masing keahliannya dalam posisi masing masing pekerjaan. Memang mengurut tanggung jawab tersebut sepertinya yang paling atas atau pucuk suatu pimpinan dalam pekerjaan dilihat secara fisik kerjanya lebih sedikit dan nampaknya ringan serta mudah. Akan tetapi dibalik semua itu atas setiap kebijakan dan putusan yang diambil, baik itu secara personal maupun kolektif tetap mendapatkan konsekwesi akhir suatu putusan tersebut baik itu positif maupun negative dalam pandangan umum masyarakat banyak. Idealnya suatu putusan tersebut harus lebih sedikit dampak negatifnya yang harus diambil, akan tetapi tidak mudah dan gampang mengambil suatu putusan yang terkecil resikonya. Apalagi keputusan tersebut diambil berdasarkan suatu aturan yang sudah terpatri dari atasnya. Bukankah aturan yang terpatri dari atas tersebut juga buatan kita manusia juga secara kolektif juga. Sedangkan bagi para bawahan atau pelaksana pekerjaan tersebut hanya menjalankan sesuai aturan, mekanisme, sistem atau biasa disebut Standar Operating Procedur (SOP). Disini terlihat sang pekerja atau bawahan tadi kerjanya gampang dan banyak bersifat fisik sehingga terlihat begitu besar dan berat. Bagi saya tanggung jawab itu adalah suatu konsekwensi pekerjaan seseorang terhadap tiap tiap jabatan yang dilakoninya. Hanya saja feedback suatu pekerjaan tersebut, terkadang kurang adil dan kurang diperhatiin saat awalnya dari membuat suatu aturan. Sedangkan suatu aturan tersebut manusia itu sendiri yang membuatnya, melaksanakanya, mengawasinya, mengevaluasinya sekaligus merasakan dari suatu aturan yang dibuatnya sendiri. Disinilah letak suatu Kebijaksanaan dalam sebuah aturan dijalankan oleh manusia itu sendiri sehingga menjadi sebuah system yang berjalan baik atupun buruk.

Dalam pada saat itu aturan yang dialami oleh istitusi TVRI sudah berapa kali berganti dasar hukumnya dan bentuk istitusi tersebut. Sekalipun istitusi tersebut berganti ganti dasar aturannya, pada bulan September terdengarlah kabar berita bahwa para karyawan atau pegawai HONOR nya yang sudah mengabdi belasan tahun bahkan sampai puluhan tahun akhirnya bisa dan dapat dijadikan oleh aturan yang dibuat manusia itu sendiri menjadi Aparatur Sipil Negara atau ASN. Pertanyaannya kenapa mereka yang sudah bekerja belasan bahkan sampai puluhan tahun tersebut tidak bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil ? Bukankah istitusi TVRI tersebut milik pemerintah juga ? Akhirnya sebanyak 761 orang (lebih kurang) dari seluruh Indonesia yang termasuk didalamnya saya secara resmi diangkat dan diambil sumpah jabatannya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara dalam Istitusi TVRI.

Tepatnya bulan September tahun 2014 saya sudah berubah statusnya dalam istitusi saya menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil yang secara hukum dan aturan tentu berbeda saat saya menjadi HONORER, begitu juga status saya yang dulunya seorang Lajang akan berbeda dengan saat itu menjadi Suami atau Kepala Rumah Tangga. Kedua rasa dan tanggung jawab tersebut tentu berbeda secara Moral maupun Moril dalam pelaksanaanya. Dari pertanyaan diatas rasanya tidak usah dijawab lagi kenapa saya begitu lama menjadi seorang suami statusnya dan kenapa begitu lama menjadi seorang Honorer dalam istitusi saya. Biarlah jawaban tersebut menjadi suatu renungan dan bahan evaluasi diri saya atau siapapun yang membaca tulisan saya ini akan mendapatkan jawabanya suatu hari kelak.

Berdasarkan semua kondisi diatas, tentu kedepannya saya tidak ingin sebuah kemajuan terhambat oleh karena sebuah aturan. Apalagi saat ini pekerjaan saya sebagai seorang Teknisi disuatu Transmisi milik TVRI tersebut yang sekaligus seorang ASN tentu berubah sejak era zaman Digitalisasi sekarang. Pemancar yang dulunya Analog sekarang sudah Digital, perubahan perubahan tersebut jika tidak secara cermat dan prinsip kehati-hatian didalam mengelola dan melaksanakannya, tentu akan keliatan dampak yang buruk suatu hari kelak. Apalagi saat saya menuliskan cerita ini, kondisi dan status saya sebagai seorang Teknisi diTransmisi Pasir Pengaraian milik TVRI tersebut hanya seorang diri. Luas area, jenis pekerjaan, lingkungan pekerjaan, kondisi pekerjaan, beban pekerjaan dan lain sebagainya rasanya sudah diketahui oleh setiap insan diIstitusi TVRI tersebut mengetahuinya. Apalagi diSatuan Transmisi saya juga termasuk ikut Projeck ITTS phase II yang secara struktur Pemancarnya sudah Digital dan terintegrasi dengan suatu system yang sangat canggih untuk saat ini. Berbekal system dan semua peralatan yang serba baru tersebut rasanya jika saya seorang diri untuk mengelola dan menjalankanya rasanya cukup berat dan penuh resiko tinggi. Kenapa tidak saya katakan begitu!, karena jika ada masalah yang timbul dalam melaksanakan pekerjaan tersebut kemana dan dengan siapa saya untuk berbagi rasa untuk menyelesaikannya. Sekali lagi itulah kondisi saya dan istitusi dimana harus tetap hadir dan tetap memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat sekitar tempat istitusi dan saya tersebut untuk memberikan informasi, komunikasi, sekaligus sebagai sarana hiburan bagi masyarakat disekitar wilayah operasionalnya yaitu Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu Riau. Bukankah pimpinan TVRI dipusat sudah mengetahui berapa banyak dan dimana saja Pemancar milik TVRI tersebut yang baru dan Digital ini terpasang ? Memang pemancar tersebut program dari Kementrian Informasi dan Komunikasi yang membantunya. Melihat kenyataan saat ini dilapangan, apakah sudah mengetahui secara detil dan real kondisi Pemancar terpasang diseluruh wilayah Indonesia ? Apakah ada kendala atau kekuarangan disetiap Satuan Transmisi tersebut sudah diketahui secara langsung maupun tidak oleh para Pimpinan yang mengelola Istitusi TVRI milik Pemerintah tersebut? Bagaimana keluhan dan masukan para operator atau pekerja yang menjalankan operasional Pemancar baru tersebut kepada Pimpinannya yang tertinggi yang bisa dan dapat mengambil suatu keputusan sehingga dalam pelaksanaanya dilapangan sistem tersebut berjalan dengan baik dan dapat meminimalisir resiko yang terkecil tentunya. Dari beberapa pertanyaan pertanyaan diatas bagi saya hal tersebut sangat mendasar dan berguna untuk sama sama kita pelajari dan evaluasi setiap permasalahannya yang terjadi disetiap Satuan Transmisi. Apalagi setiap satuan Transmisi TVRI milik Pemerintah tersebut berbagai macam corak dan karakter wilayah yang berbeda beda diseluruh Indonesia. Hal tersebut dilakukan agar dapat menyamakan dan menyatukan segala Visi dan Misi yang sudah tertuang dalam buku besar atau aturan Istitusi tersebut secara Umum, sehingga implementasi dalam menjalankan dilapangan, masing masing insan tentu berbeda cara dan jenis pekerjaannya, begitu juga dengan jiwa dan raga diri ini akan selalu tertanam setelah 23 tahun bersama kami lalui, mempunyai Tujuan yang sama yaitu Mengembalikan Kejayaan Layar Kaca TVRI menjadi Televisi Milik Bangsa yang Menjalin Persatuan dan Kesatuan Bangsa selalu Tetap DiHati Pemirsanya. Bukankah slogan slogan tersebut harus kita sampaikan kepada masyarakat secara umum dan luas tampa membeda bedakanya keseluruh Indonesia dengan kalimat kalimat yang enak didengar dan dilihat visualnya dengan Tag Line ……………….TVRI BETUL SEKALI , TVRI HEBAT INDONESIA HEBAT.

Akhirnya dari lubuk hati yang dalam atas nama Koordinator Satuan Transmisi TVRI Pasir Pengaraian LPP TVRI RIAU KEPRI saya mengucapkan DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 72 dan DIRGAHAYU TVRI KE 55 SEMOGA MAKIN JAYA MENYATUKAN BANGSA INDONESIA DAN MENJADI INSPIRASI BANGSA DAN NEGARA DEMI KEUTUHAN REPUBLIK INDONESIA.

Wasallam

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.