He-ro (in)

Dari semenjak pertama kali aku memasukinya, aku yakin bahwa tempat ini tidaklah seperti tempat-tempat lain yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Begitu aku menginjakkan langkah pertamaku melewati pintu, aku bisa mengendus semerbak khas dari cappuccino yang sudah kuhafal dari sejak pertama kali aku mengenal kopi. Tidak banyak terdengar desing suara knalpot sepeda motor ataupun bel mobil yang biasa mengganggu keseharianku. Mungkin baik di siang ataupun malam hari, tempat ini akan menjadi suatu tempat yang bisa menjadi pemicu inspirasi bagiku, seperti halnya Olivia bagi Jim Morrison.

Tidak banyak orang di lantai bawah, hanya ada dua sejoli yang sedang berbicara dalam sebuah meja sambil sesekali menyeruput kopi susu yang dihidangkan di hadapan mereka. Si wanita tersenyum ketika sang lelaki menceritakan sebuah cerita sederhana tentang bagaimana ia datang terlambat ke kantornya pagi ini. Dia mungkin harus kehilangan beberapa persen gajinya akibat keteledorannya hari itu. Tapi bagi si wanita, justru hal tersebutlah yang menampakkan kharisma dari sang lelaki. Mungkin itulah alasan kenapa dia tersenyum terus menerus seberapa pun sang lelaki berusaha menceritakan kesialannya.

Namun aku tidak punya waktu untuk terus menguping percakapan dari dua sejoli yang mungkin tidak akan pernah aku jumpai lagi seumur hidupku. Aku memutuskan untuk segera menjejaki tangga demi tangga untuk mencapai kursi favoritku di lantai empat. Di dinding yang mengelilingi anak tangga, aku bisa melihat lukisan-lukisan burung hantu yang menghiasi hampir setiap ruangan. Sebuah dekorasi yang aneh, tetapi justru hal tersebutlah yang mengukuhkan tempat ini sebagai tempat berkumpulnya para burung hantu sepertiku.

Aku hanya ingin segera mencapai kursi kehormatanku dan segera merebahkan bokongku di sana. Kursi yang membuatku merasa seperti raja untuk sesaat karena aku bisa menjadikan kursi tersebut sebagai tempatku untuk melarikan diri dari kenyataan untuk sesaat. Di kursi tersebut, aku bisa mendesain realitas yang kuinginkan, yang biasanya hanya ada dalam kepalaku. Begitu aku duduk, pelayan akan memberikan sebuah buku menu yang biasanya takkan kusentuh.

Kalau sudah begitu, ia akan memahami apa yang kucari dari kursi kehormatanku. Lalu ia akan menyuguhkan sebuah kotak yang hanya dapat dibuka oleh orang-orang yang memiliki keberanian seperti seorang kesatria yang punya mimpi untuk mengubah kenyataan pahit yang hadir di hadapannya. Begitu aku membuka kotak tersebut, aku akan dapat melihat gula dan paku, begitulah aku selalu menyebutnya. Dua hal yang selalu mengembalikanku pada kewarasan bagaimanapun gilanya diriku.

Kalau sudah begitu, aku akan mengambil botol air minum dari tasku yang sebenarnya tidak berisi apa-apa selain sebuah botol itu. Lalu segera kutuangkan air itu ke mangkuk yang sudah disediakan oleh pelayan tadi hingga airnya tumpah dan membasahi meja dan celana jeans yang kukenakan. Namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir. Aku langsung merobek bungkusan gula tersebut dengan kasarnya, karena mataku sudah merah membengkak. Segalanya terlihat buram, dan aku hanya ingin segera merasakan perubahan di aliran darahku.

Setelah mengaduk gula dengan air, aku segera menyedot cairan laknat tersebut ke dalam paku. Butuh waktu lebih lama daripada yang kubayangkan, karena berkali-kali aku gagal memasukkan cairan tersebut. Pelayan yang kebetulan sedang berada di dekatku saat itu, kemudian membantuku menyedot cairan tersebut ke dalam paku, dan menyuntikkannya ke titik urat nadiku. Kebanyakan anak kecil akan menangis ketika suatu suntikan menyengatnya, namun aku akan tertawa ketika cairan itu mulai mengalir dalam darahku.

Aku akan memahami mengapa ada banyak manusia yang begitu menginginkannya. Walaupun kematian adalah harga yang sering dibayar oleh hampir setiap orang yang memiliki sedikit keberanian untuk menebusnya. Karena setelah menebus harga tersebut, akan hadir sebuah perjalanan yang mengalahkan petualangan mana pun yang ditawarkan oleh paket wisata yang paling mahal sekali pun. Perjalanan yang bahkan tidak akan mampu didapatkan dalam mimpi terindah siapa pun. Bahkan seseorang bilang, “Bayangkan orgasme ternikmat yang pernah kau rasakan, kalikan 1000 dan itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan sensasi yang akan kau dapatkan.”