Nafas yang merubah dunia

Hal yang membuat hidupku sangat menggairahkan

Semua orang di bumi ini pastilah bernafas, termasuk aku. Namun, aku bernafas dengan tujuan dan makna. Aku bernafas agar aku tetap hidup. Dan selama raga ini masihlah “hidup” maka aku tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

Semua orang mempunyai mimpi kelak akan jadi apa mereka nanti, begitu pula aku. Mimpiku sangat banyak, baik itu mimpi yang sederhana sampai yang rumit sekalipun. Mimpiku semakin banyak seiring dengan diriku beranjak dewasa. Selain bertambah banyak, ada juga beberapa mimpiku yang sudah terwujudkan, namun itu semua masih tergolong mimpi yang sederhana dan “egois”.

“Aku ingin menjadi mahasiswa Ilmu Komputer UGM”

Kalimat diatas adalah salah satu mimpiku yang egois karena hanya akulah yang merasakannya dan mewujudkannya. Mimpi itu tidak melibatkan instansi atau individu selain diriku untuk mewujudkannya dan tentunya membawa dampak ke banyak individu.

Dengan melihat kebelakang dan mengintrospeksi diriku, aku ingin membagikan salah satu mimpiku yang menurutku adalah mimpi yang “mulia”. Mimpi yang akan berguna untuk banyak orang dan tentunya akan mengubah dunia!

“Aku ingin semua orang di muka bumi ini mampu mengendalikan teknologi. Bukan menghindarinya. Apalagi terlena.”

Akhir-akhir ini aku merasakan sebuah fenomena dimana hampir semua orang terlena dengan teknologi yang mereka gunakan, seperti contohnya ialah waktu mereka sehari-hari sering habis percuma hanya untuk menonton timeline Twitter, update status Facebook, nonton film konyol di 9gag.tv, share foto di Path dan sebagainya.

Kok bisa kayak gitu percuma? enggak ah!

Oke, mari kita buat sebuah cerita yang bisa merepresentasikan keadaan saat ini dengan tokoh seseorang bernama Heryawan. Herwayan ialah seorang mahasiswa kedokteran, Herwayan mempunyai smartphone Android dan sebuah laptop yang terhubung dengan koneksi Internet. Suatu malam Herwayan hendak belajar tentang anatomi tubuh, bukannya mulai membuka materi tentang anatomi, Herwayan malah membuka browser di laptop dan mengunjungi Facebook. Herwayan mengecek Notification, comment disana-sini selama kurang lebih 5 menit hingga Notificationnya lenyap semua.

Lalu, heryawan membuka tab baru dan mengunjungi twitter untuk ngetwit kalo dia lagi belajar buat kuis besok, setelah ngetwit ia mulai nge-scroll timeline. scroll… scroll.. scroll… hingga ia bosan, gausah ditanya berapa waktu yang dilewatkan Heryawan scrolling timeline.

Baru setelah bosan di Facebook dan Twitter Herwayan mulai membuka slide-slide tentang anatomi. 1 slide, oke ngerti. 2 slide, sip gampang. 3 slide, eh ada WhatsApp dari gebetan, bales dulu ah..

Hingga tengah malam Heryawaan baru menguasai 2 slide saja dan ia merasa tidak cukup untuk kuis besok. Heryawan bisa saja begadang dengan mengambil resiko ketiduran dan tidak bisa mengikuti kuis atau tidur dan mempertaruhkan bahwa soal yang keluar besok cuman dari 2 slide yang ia pelajari.

Coba dibandingkan dengan zaman ayahku masih kuliah dulu, zaman dimana Facebook, Twitter, WhatsApp belum eksis, beliau bisa belajar dengan efektif dan melahap semua materi like a boss! karena tidak ada hal lain yang musti dilakukan selain belajar. Namun beliau tidak merasakan mudahnya belajar dari laptop lewat slide materi, sebagaimana kita tahu belajar lewat slide cuman tinggal download, gak perlu capek-capek minjem materi dari temen trus di foto copy trus dibalikin.

Dengan cerita diatas aku menarik kesimpulan bahwa kita hidup di zaman yang penuh dengan gangguan dan susah untuk berkonsentrasi. Banyak orang menyarankan untuk menghindari, namun menurutku akan lebih baik jika kita bisa mengendalikannya karena teknologi diciptakan awalnya memang untuk membantu manusia. Penjelasan lebih dalam tentang ini akan menyusul di artikel terpisah. Stay tune!

Oleh karena itu aku bernafas bukan hanya untuk hidup yang sederhana, aku bernafas untuk mewujudkan semua mimpiku baik itu yang “egois” dan yang mengubah dunia.


Memang tidak gampang dan banyak tantangannya

Namun selagi masih bisa bernafas untuk jiwa dan raga lalu berfikir dan bergerak menghadapi tantangan


Kenapa tidak?