Yang Terlupa dari Telaga Madirda


Kemarahan Resi Gotama kepada istrinya membuat cupu sakti itu terlempar. Pusaka milik Bhatara Surya bernama Cupumanik Astagina melambung jauh ke angkasa. Sekejap saja sudah melintasi sebuah bukit. Tutup dan badannya terpisah saling menjauh. Jauh terlempar akhir tutup dari cupu sakti yang bisa memperlihatkan keindahan seluruh jagad raya itu jatuh ke tanah dan berubah menjadi sebuah telaga.

Telaga yang tidak terlalu besar, berada di ketinggian sekitar 900 mdpl di tepi barat lereng gunung Lawu. Kabut perlahan silih berganti datang membuat suasana telaga sedikit mistis. Sinar matahari sayup-sayup menembus awan mendung. Seperti cerita rakyat Telaga Madirda yang kini sayup-sayup mulai meredup, mencoba menembus logika modernitas. Ada yang masih percaya, adapula yang menghiraukan begitu saja.
Masyarakat Jawa memang tak bisa lepas dari cerita pewayangan. Cerita-cerita wayang seolah sudah mendarah daging bagi masyarat Jawa, termasuk cerita pewayangan yang mengilhami adanya cerita rakyat berupa legenda di Telaga Madirda. Cerita mengenai Cupumanik Astagina dan tiga orang anak Resi Gotama yang menjadi penanda legenda di dusun Tlogo.

Cerita Rakyat Telaga Madirda dituturkan secara lisan dan masih terpelihara dengan baik di tengah-tengah masayarakat Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso. Cerita Rakyat Telaga Madirda digolongkan sebagai cerita lisan folklor. Folklor merupakan sebagian dari kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun diantara kolektif macam apa saja secara tradisonal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun disertai contoh dengan gerak isyarat atau alat bantu. (James Dananjaja, 1994:2 dalam Mucharom)

Keindahan gunung Lawu memang tak bisa dibantahkan. Gunung yang masih begitu banyak menyimpan misteri tentang peradaban masa lalu. Termasuk juga dengan mitos-mitos ataupun cerita-cerita rakyat yang berkembang dataran Lawu, salah satunya adalah cerita rakyat yang berkembang di Telaga Madirda. Cerita rakyat tentang Subali, Sugriwa, dan Anjani.

Telaga Madirda sendiri kini menjelma dari telaga yang dipenuhi dengan cerita rakyat menjadi telaga yang hanya ditujukan sebagai tempat wisata untuk melepaskan penat. Keindahannya memang bisa memanjakan siapa saja yang datang ke sini. Hawa sejuk, kabut tipis yang silih berganti, semilir hembusan angin menjadi pelengkap tersendiri. Mengunjungi sebuah destinasi wisata tak melulu tentang apa yang bagus untuk difoto, seberapa keren tempatnya, atau yang lainnya. Berkunjung ke destinasi wisata juga bisa menjadi pembelajaran diri dengan cerita-cerita rakyat ataupun sejarah yang melatarbelakangi suatu tempat.

Mereka menganggap cerita tentang Sugriwa, Subali, dan Anjani (tokoh pewayangan) merupakan konsepsi yang tersusun dan menjadi nilai-nilai budaya yang pantas dipegang teguh untuk generasi mereka sebelumnya, generasi sekarang bahkan untuk generasi selanjutnya. (Mucharom, 2011)

Angin berhembus kencang, membuat permukaan telaga bergelombang. Seketika dingin begitu menusuk kulit. Ikan-ikan bergantian muncul ke permukaan. Dulu waktu permata kali ke sini ikanya begitu besar-besar tapi sekarang masih kecil-kecil. Hanya terlihat satu dua saja yang besar. Suara-suara berisik pasangan muda mudi memecah keheningan. Di salah satu sudut, tiga orang pemudi saling bergantian berfoto di tepi telaga. Ahh, begitu tenangnya di sini meski begitu banyak suara tetapi jiwa merasakan damai. Jauh dari hingar bingar gaduh-gaduh politik bangsa ini.
Gemericik sumber air telaga terus berirama memecah sunyi di sudut bebatuan. Tempat ini masih saja sama tidak begitu banyak berubah. Mungkin hanya cerita tentang Cupumanik Astagina yang mulai berubah meredup. Ketika sudah pernah mengunjungi telaga Madirda maka ada rasa ingin kembali berkunjung. Ketenangan, keheningan, dan juga keindahannya menjadi penyelaras batin tersendiri. Nama Madirda sendiri berarti memabukkan. Mungkin karena hasrat keinginan yang memabukkan dari ketiga anak Resi Gotama untuk memiliki Cupumanik Astagina yang menjadi dasar penamaan telaga ini.

Cerita rakyat seharusnya tetap dilestarikan. Suatu daerah pasti ada ceritanya tersendiri dan inilah yang menjadikan suatu tempat mempunyai keunikannya tersendiri. Berwisata sekaligus memahami nilai-nilai lokal yang dewasa ini kurang begitu mendapatkan perhatian. Entah dari pelaku wisata maupun pengelola wisata. Cerita rakyat adalah sebuah kebudayaan yang harus tetap dijaga pamornya dengan memahami cerita rakyat maka kita juga akan belajar sesuatu yang bisa diaplikasikan dalam keselarasan berkehidupan. Karena cerita rakyat adalah salah satu aset kebudayaan bangsa.

Mitos yang terdapat dalam Cerita Rakyat Telaga Madirda merupakan suatu warisan budaya bangsa yang perlu digali dan dihayati. (Mucharom, 2011)

Dan akhirnya saya sepakat dengan mas Mucharom bahwa cerita rakyat adalah warisan budaya bangsa yang harus terus digali, dihayati, dan dilestarikan.

Referensi/sumber pendukung:
* Mucharom. 2011. CERITA RAKYAT TELAGA MADIRDA Di Dusun Tlogo Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah (Sebuah Kajian Folklor). Skripsi. Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Like what you read? Give Bayu Saputra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.