Ada Apa dengan Habib Rizieq?

Hidup adalah akumulasi sebab-akibat. Aksi-reaksi, Yang Mulia!

Habib Rizieq (Photo by JurnalIndonesia.net)

Sebetulnya saya tidak terlalu tertarik untuk membahas masalah kasusnya Habib Rizieq. Mengikutinya juga sangat enggan. Tapi rasa gatal ini tak lagi bisa saya kuasai. Setelah membaca berita online yang muncul di timeline facebook ini, saya jadi merasa perlu berkomentar. 
Berikut saya kutipkan sebagiannya untuk kalian baca:


Ketua Presidium Alumni 212, Ansufri Idrus Sambo, mengatakan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab tidak akan pulang ke Indonesia sebelum ada jaminan keamanan. Sebab, menurut Sambo, selama ini Rizieq kerap mengalami diteror dan menjadi korban kriminalisasi rezim pemerintahan saat ini.
“Habib tidak akan pulang, kita minta tidak akan pulang. Sampai ini benar-benar aman betul, karena rezim ini (pemerintahan Joko Widodo-red) sudah jauh lebih buruk dari sebelumnya,” ucap Sambo kepada Netralnews di Jakarta, Jumat (12/5/2017).
Saat ditanya mengenai keberadaan Rizieq saat ini, ia enggan memberitahunya. “Tidak boleh tahu anda,” tegasnya.

Setelah membaca berita itu, rasa kepo membuat saya mendalami kasus dan proses hukum yang kini sedang mendera pentolan FPI ini.


Dari pengalaman, saya belajar bahwa menghindari masalah justru hanya akan menambah masalah. Dan semakin banyak tahun telah terlewat, pastinya pengalaman Habib Rizieq sangatlah banyak. Dari pengalaman-pengalaman yang ada, sudah semestinya jika beliau menjadi lebih bijaksana dan mawas diri. Terlebih sebetulnya beliau sudah dua kali di bui.

Kalau mau jujur, kasus yang membelitnya kini juga sangat tidak lucu, terlepas beliau adalah ulama dan pemimpin FPI. Terlepas juga bahwa ini adalah kejadian atau hanya rekayasa, kasus ini sangatlah konyol.


Kalau kalian juga ternyata ada yang tidak mengikuti kasus ini, baiklah, berarti saya berkewajiban memberitahukan hasil yang saya dapat setelah mencari tahu kasus dan proses hukumnya.

Kasus yang sedang mendera beliau adalah kasus dugaan pornografi ‘chat sex’-nya dengan Firza Husein. Detik.com memberikan istilah ‘baladacintarizieq’ untuk versi yang lebih sopan terhadap kasus ini.

Polisi telah melayangkan dua kali pemanggilan kepada Rizieq untuk diperiksa terkait dugaan pornografi ‘baladacintarizieq’. Panggilan kedua dilayangkan pada tanggal 8 Mei lalu, namun Rizieq tengah berada di Malaysia setelah sebelumnya melaksanakan umrah di Arab Saudi (pada panggilan yang pertama). Setelah dua kali mangkir dari panggilan, Kepolisian berencana untuk menjemput paksa. Status Rizieq yang masih sebagai saksi tidak menghalangi polisi untuk mengeluarkan surat perintah itu. Ketentuan untuk menjemput atau membawa saksi ada di Pasal 216 KUHP,

Pasal 216 KUHP berbunyi ‘Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang- undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah’.

Tautan sumber yang dapat kalian baca:
https://news.detik.com/berita/d-3499329/habib-rizieq-tak-hadiri-panggilan-kedua-polisi-akan-jemput-paksa

https://news.detik.com/berita/d-3500362/polisi-siapkan-surat-perintah-penjemputan-habib-rizieq

Selain kasus tersebut, Habib Rizieq juga disangkakan melanggar Pasal 154 a KUHP tentang Penodaan terhadap Lambang Negara dan Pasal 320 KUHP tentang Pencemaran terhadap Orang yang Sudah Meninggal. (https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3497465/polda-jabar-limpahkan-kasus-habib-rizieq-ke-kejaksaan).

Kasus-kasus lain juga sepertinya datang bertubi-tubi. Dan kali ini, Habib Rizieq seperti lagi main kucing-kucingan dengan pihak kepolisian. Ada apa dengan Habib Rizieq? Jika sebelumnya terkait kasus Pak Ahok, beliau berdiri paling depan, lantas mengapa kini beliau seperti bersembunyi?


Kasus demi kasus. Kontroversi demi kontroversi. Demikianlah sepertinya hidup beliau bergerak. Buat saya pribadi, itu memang adalah urusannya sendiri. Risiko beliau sendiri yang tanggung. Di Jakarta, menjelang pilkada (atau hingga saat ini) spanduk-spanduk dukungan terhadap beliau yang merasa didzolimi atas berbagai masalah hukum yang terus-terusan menderanya terlihat di berbagai penjuru.

Satu dari sekian banyak spanduk tersebut

Teman saya ketika melihat spanduk-panduk tersebut merasa istilah ‘didzolimi’ adalah istilah yang agak lebay. Dia berpendapat bahwa jika ini terkait berbagai kasus beliau, istilah ‘kriminalisasi’ jauh lebih tepat. Dan teman saya dengan sangat bijak menyikapi sendiri pendapatnya tersebut.

Sebetulnya jika beliau merasa bahwa ‘dirinya dikriminalisasi’ maka itu adalah reaksi atas berbagai tindak-tanduknya selama ini.

Saya rasa ada betulnya juga. Toh, hidup adalah akumulasi sebab dan akibat, aksi dan reaksi.


Ah, sudahlah. Kita sudahi dulu membahas Habib Rizieq. Ada hal yang lebih penting untuk kita lihat dibanding beliau, kan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.