Semoga Seribu Lilin di Ende itu Abadi!

Semoga kita bukan cuma ikut rame we’e!

Taman Renungan Bung Karno. (Photo by Mecanic Photograph)

Malam 1000 lilin untuk Ahok’ di Kabupaten Ende berlangsung di taman perenungan Bung Karno, Kamis malam (11/5/17). Mengusung tema Save Ahok pembela NKRI, aksi tersebut dikoordinir oleh Vinsen Sangu dengan peserta aksi sebanyak 500 orang.

Dalam aksi malam 1000 lilin ini masyarakat Kota Ende menyerukan bahwa :

1. Masyarakat Kabupaten Ende tetap menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika,

2. Solidaritas umat beragama di Kabupaten Ende harus tetap di jaga,

3. Menegakan NKRI (NKRI harga mati),

4. Ahok bukan teroris melainkan Ahok penegak pancasila dan pembela NKRI,

5. Indonesia bukan negara satu agama dan pemimpin juga harus adil dan agama apapun boleh memimpin negara.

Kegiatan aksi malam 1000 lilin ini mendapat pengawalan ketat dari pihak Polres Ende.


Apa yang baru saja kita baca adalah berita dari portal berikut. Saya cantumkan saja isi lengkapnya, biar kuota internet kita semua tetap terjaga.


Sebetulnya lilin-lilinan bukanlah hal yang baru bagi orang Ende. Kami terbiasa melakukan ini. Menyalakan (baca: bakar) lilin di makam leluhur atau keluarga menjelang hari raya (dan menjelang ujian bagi pelajar), di tempat terjadinya kecelakan kerabat kita dan tentu saja ketika ada pemadaman listrik yang menyebalkan itu. Oh iya, pas ulang tahun anak muda kekinian, jangan lupa!

Sepanjang yang saya tahu, ini adalah pertama kalinya ada aksi seperti ini di Ende. Kalo saya salah, tolong sampaikan kepada saya, kapan ada aksi seperti ini dan dimana. Saya akan dengan sangat senang hati meminta maaf kalo saya salah. Dan saya juga akan bersyukur, kita rupanya bukan cuma tukang ikut.

Tentunya sebelum menulis ini, saya sudah melakukan riset (saya tahu ini cukup sombong kalo disebut riset. Yang saya lakukan cuma menelusuri artikel berita di Internet dengan pencarian ‘aksi solidaritas ende’). Terkait adanya aksi solidaritas yang pernah dilakukan di Ende saya hanya menemukan ini saja.

Kesimpulan saya jadi tetap sama: aksi solidaritas seperti ini di Ende masih dapat dihitung dengan jari tangan. Terserah, mau cuma tangan kiri atau kanan. Intinya-masih-dapat-dihitung-kurang-dari-lima!


Aksi ini menarik, kawan!

Mengaitkannya dengan Pak Ahok dan Pilkada Jakarta dan segala hal tentangnya tentu sangat masuk akal. Pun misalnya jika ini dikaitkan dengan ‘solidaritas identitas Pak Ahok’ dan tandingan aksi bela berjilid-jilid (saya tahu ini sangat menjurus ke SARA dan isu seperti ini sangat sensitif) itu pun sah-sah saja. Atau melihat aksi di Ende ini sebagai aksi ikut rame juga tak ada salahnya, kan? Toh, menjadi kekinian itu sangat perlu dalam pergaulan kedaerahan sekarang, haha. Terutama kalo ini memang benar ini adalah aksi yang pertama kali ada.

Tapi saya tak mau menilai secara negatif dan penuh sentimen saja. Sudut pandang begini sangat konyol kalo terus dipelihara. Saya mau melihat dan mengajak agar kita menjadikan ini sebagai momentum. Bahwa di Ende, tempat dimana Bung Karno, bapak bangsa ini pernah dibuang dulu, dan sebagai kota ‘Rahim Pancasila’ aksi solidaritas seperti ini harus terus dilakukan. Kalo kata Pak SBY: Lanjutkan!

Semisal nanti ada kasus-kasus yang menyinggung nilai-nilai kebangsaan yang telah kita jaga, percayai, dan hidupi selama ini terjadi, semoga lilin-lilinmu tak kau sembunyikan! Kalo ada rumah ibadah dirusak, kegiatan keagamaan yang diganggu, atau apapun terkait SARA, jangan diam. Kalo ada yang tak beres, ingatlah kata Wiji Thukul:

Cuma ada satu kata: LAWAN!

Harapan akan kehidupan yang penuh kedamaian, kesejahteraan, keadilan itu harus tetap ada. Dan memang sudah jadi tugas masing-masing kita untuk mewujudkannya! Semoga harapan kita terwujud. Semoga solidaritas ini bukan cuma omong kosong dan ikut-ikutan. Semoga seribu lilin dan harapan dari Ende itu abadi!

Dan semoga nyala lilinmu dan lilinku tak padam.

Aamiin

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.