Tentang Ritual Phum Viphurit, Dan Kisah Orang-Orang Yang Terbebaskan.

Kata Mark Manson di buku -yang-setiap-orang-penasaran-membacanya-padahal-gak-sebagus-yang-dikata- The Subtle Art Of Not Giving A F*ck, setiap orang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya berikut problem yang ditimbulkan dari pilihannya tersebut. Begitupun saya. Saya memilih meneruskan karier di pemerintahan yang bukan passion sedari awal, saya pun bertanggungjawab atas kerap timbulnya kesuntukan yang melanda beberapa minggu terakhir akibat rutinitas ala birokrat. Maklum namanya juga buruh negara penghamba rupiah. Pada akhirnya, godaan tiket yang tidak mahal untuk penyanyi yang sering hadir di kolom kanan Youtube anda ketika sedang menyelami musik ((indie)) ini membuat saya luluh dan memutuskan untuk membunuh kebosanan ini dengan melakukan kunjungan kerja singkat ke Jakarta demi Phum Viphurit pada tanggal 11 Agustus kemarin.

Kamu bisa membayangkan betapa menonton konser itu begitu membebaskan dan memerdekakan dari ilusi brengseknya dunia. Banyak orang menganalogikan menonton konser itu seperti melakukan ritual sesembahan, semua melakukan apa saja syarat yang wajib dipenuhi, kalau perlu dibayar dengan nyawa, untuk bertemu idolanya. Dalam hal ini ada empat hal penting yang wajib dikorbankan yaitu uang, waktu, dan jarak. Ketika ketiga faktor itu terpenuhi, ganjaran yang sangat besar akan menanti di depannya, salah satunya untuk bertemu idolanya.

Selain suka menonton konser, saya juga orang yang suka melihat kebiasaan kecil orang di sekitar, termasuk saat konser. Datang ke Grand Kemang Ballroom bersama ketiga teman yang kebetulan semuanya merupakan duduluran Sunda, malam itu menjadi lebih hangat dengan canda dan tawa. Selain itu di tengah acara, saya bertemu dengan salah satu teman yang jauh-jauh dari Bandung kesini, sendirian. Terbesit secercah kekaguman karena ternyata bukan saya sendiri yang jenuh hingga mengorbankan banyak hal demi sampai disini.

dokumentasi pribadi

Saya memperhatikan bermacam-macam orang datang dan reaksi yang mereka timbulkan setelah menemui idolanya. Mayoritas yang datang kesana adalah kaum hawa. Beruntungnya postur saya cukup memadai untuk bisa mendapatkan spot yang terbaik, dibanding depan kiri kanan saya yang kurang tinggi, hehe.

Saat Phum baru naik ke atas panggung, orang-orang sebelah saya sibuk dengan telepon genggamnya sembari teriak-teriak ‘GANTENG BANGET ANJING’, ‘AHHHHH SENYUMANNYA, MO MATI GUE’, ‘DOI BERSIN AJA MERDU’. Disitulah saya yakin dia sebenarnya satu tongkrongan dengan akun anonim yang suka berkomentar ‘RAHIM GUE ANGET’ di kolom foto selfie lelaki tampan manapun di sosmed. ‘Haha. Dasar manusia-manusia miskin afeksi.’, gerutu saya di hati saat itu. Tapi saya tak kuasa protes, karena menyadari kita semua sama-sama membayar sejumlah uang untuk sebuah hiburan yang singkat tapi kekal.

Beberapa yang lain cukup mengangguk-angguk pelan ketika dua band opener Circarama dan Polka Wars unjuk gigi. Termasuk salah satu teman barengan yang mengiyakan saja setiap saya beritahu ‘ini loh vokalisnya, ganteng kan’, ‘ini lagunya yang paling terkenal’, ‘lagu yang ini liriknya bagus loh, googling gih’. Celoteh saya yang mungkin di matanya terlihat seperti manusia haus afirmasi sebagai si maha tahu soal musik.

witnessing a greatness. (cr: instagram deathrockstar)

Lalu ada satu lelaki yang tertangkap lensa lagi girang bukan kepalang, ketika orang-orang di sekitarnya terlihat biasa saja. Sepertinya momen ini diambil persis saat Polka Wars naik ke panggung. Sedikit informasi yang didapat, orang ini menghadiri konser pertamanya di 2018 dan dia datang jauh-jauh dari Langsa hanya untuk menonton ini. Oh, sial.

Ya, itu adalah bukti saya dan orang-orang di venue konser itu adalah bagian dari serikat manusia perindu udara kebebasan. Walau barang satu detik dua detik saja, untuk kemudian esok senin kembali ke sebaik-baiknya tempat buat mengeluh 24/7, entah kantor, kampus dan lainnya. Akhir kata, terimakasih Phum Viphurit. Terimakasih Jakarta. Terimakasih kamu. Kuharap doaku senantiasa mengetuk langit agar kita kembali bersua kelak.

Entah kapan.

Like what you read? Give Bambang Irawan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.