Banjir yang Oportunis

Acta Dezule
Sep 1, 2018 · 6 min read

Hujan begitu deras dan langit seakan marah dengan keras-kerasnya, mengeluarkan getaran yang menggelegar. Bercakan putih dan abu-abu menghiasi langit sore yang gelap, sesekali mengeluarkan bunyi dentuman yang keras. Ayib yang tak suka hujan, selalu merenungi kapan hujan akan berhenti, karenanya segala aktivitas ayib di sore hari selalu saja gagal.

Seharian penuh ayib menunggu, tapi nihil hujan tak mau berhenti. ayib dengan kesalnya langsung membaringkan tubuhnya, di kasur yang sedikit lagi rata dengan karpet yang mengalasnya. Ayib adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyeleasikan studi skripsinya, 7 tahun dia betah menjalani masa-masa mahasiswanya dikampus.

Ayib punya kawan Juna dan Noldy. Mereka teman seperantauan dari kampung, Tinggal dan mengadu nasib menjadi mahasiswa untuk membahagiakan kedua orang tua mereka melalui Toga. Berbeda dengan Ayib, Juna adalah sosok kawan yang selalu suka dengan hujan, dia selalu punya kerjaan tersendiri ketika hujan turun. Tidur adalah kerjaan Juna ketika hujan tiba, dia tidak bisa tidur kalau tak ada hujan. Jam tidurnya pun mengikuti setiap butiran air yang jatuh. Kalau hujan lebat Juna sangat awet tidurnya, kalau hujan hanya sebentar dia akan terbangun setelah hujan selesai. Kalau seharian tidak hujan, Juna tidak akan tidur juga seharian.

Hanya hujan obat tidur Juna karena menurutnya “Hujan turun ia butuh titik ternyaman juga di bumi, karena dia sama seperti kita adalah ciptaan yang maha kuasa” kalimat itu selalu ia tuturkan ketika hujan jatuh dan kata itu selalu membuat Ayib risih. Ayib dan Juna Sesekali selalu beradu argumen kala hujan turun.

Berbeda dengan Noldy dia orang yang pendiam ketika hujan turun, tak merisaukan segala pendapat dan ocehan kedua temannya, ketika berdebat tentang hujan. Dia santai di pojokan dinding dan menyantap mie rebusnya dengan segelas kopi. sesekali dia cekikian ketika mendengar perdebatan yang selalu terjadi, antara kedua temannya itu.

“Makan Bro” sahut Noldy kepada Juna dan Ayib.

Juna dengan Nada keras Menjawab “Makan melulu, tidur itu perlu bro””

Ya sudah, aku hanya menawarkan saja, kalau pun mau. Kalian bisa masak sendiri dan menikmatinya.

“aku mau Nol, bisakah kau bagikan mie rebusmu itu. Rupanya kau enakkan sendiri dengan santapanmu itu”. Jawab Ayib.

“masih banyak berkardus-kardus yib”. di gudang.

“gudang mana” Nol

“Gudang Toko lah Yib, mana mungkin anak kos-kosan seperti kita, punya stok mie segudang itu”.

arrrrrrrrrrrrrrrrrrgggg. Bangsat kau nol, perutmu saja yang kau pikirkan. Ayib Membatin.

Noldy melepaskan suara kekenyangan dengan lantangnya, sembari mendengarkan ke Ayib yang mulai kesal dengan bualan Noldy.

Selepas mencuci piring dan gelas, Noldy masuk ke kamarnya dan seketika bersuara kepada Juna dan Ayib yang masih duduk di ruang tamu. Hidup ini mestinya di nikmati, serapi, dan dihargai. Lantas yang kalian lakukan berdebat tentang hujan tadi itu, sunggulah muliah.

Tapi alangkah mulianya kalian mengisi hari-hari kalian dikala hujan dengan semangkuk mie rebus dan segelas kopi. Karena di setiap kehangatan mie rebus itu terpatri kenikmatan yang lezat dan di dalam segelas kopi terdapat kehangatan yang bisa meredam segala emosi yang mencuak, agar obsesi akan kebenaran antara perdebatan kalian teratur dan punya esensinya.

Noldy adalah orang yang selalu diam dan tidak banyak bicara tapi bijaksana setiap kali ia berkata. Juna dan ayib selalu meminta petunjuk atau pun arahan ketika menemui kesulitan. Dia banyak buku dan dia pelehap buku yang cerdas dan hal itu buat mereka iri padanya.

Tapi ada satu hal yang selalu dia senangi yakni, melahap mie rebus dan segelas kopi panasnya menjelang hujan.

“aku tahu maksudmu, Nol”. Berkata seperti itu.

“apa itu, Juna”.

Jika Kami menuruti kata-katamu, di setiap hujan turun malah kamu yang senang.

“hahahhahahah tumben kamu pinter Jun.”

hmmpt….. aku sudah tahu maksud Noldi, kalau kita semua beli mie dan kopi sebanyak-banyaknya. Dia dengan gampangnya akan minta sepuasnya. Ayib membatin.

Betul apa yang kau katakan Yib, Bila Kau membeli banyak mie dan kopi. Kan bagus. Uangku bisa aku belikan lagi buku yang telah lama ku inginkan . sahut Noldy dan masuk ke kamar.

ayib hanya melongo, dia heran. Mengapa Noldy bisa membaca pikirannya dengan secepat itu.

Mereka bertiga pun masuk kamar dan hujan tak berhenti, semakin menjadi semakin menderasnya dan tak tahu kapan berakhir.

Setengah jam berlalu mereka akhirnya tertidur, tapi juna mulai resah dengan kasurnya yang empuk itu. Dia merasakan kedinginan yang melanda tubuhnya, sekujurnya menggigil dan kaku. Bajunya basah, dia seperti orang yang sedang mandi. Tapi dia tetap asik, pulas sekali tidurnya. Ayib yang hendak buang air kecil terbangun dari tidur, dan melihat aliran air yang masuk ke dalam kamar kos mereka.

Ayib bergegas langsung membangunkan Juna, mengetuk pintu kamarnya dan memanggil-manggil nama Juna. Maklum ayib langsung mencari Juna bukan Noldy, karena posisi kamar Juna paling depang jika air meluap atau banjir maka kamarnya lebih dulu tergenang.

“Jun, Jun.. Jun… Jun…”

air naik Jun, kayaknya banjir.

Juna menghiraukan suara Ayib memanggil, karena mimpinya begitu indah untuk dilewatkan bila bangun nanti.

Ayib bergegas keluar dan melihat betapa air sudah setinggi lutut orang dewasa, para tetangga mereka sedang mengamankan perabot rumah dan lain-lain. Tuan kos Ayib datang.

“eh pak alim”

“Juna mana ? dia sudah dibangunkan”.

sudah pak tapi dia tak mau bangun dari tidurnya

“Noldy mana ?”

aduh saya lupa membangunkannya, sebentar pak. Saya cek Noldy

“waduh, ayo cepat bangunkan dia”.

saya mau cek kos saya di kampung sebelah

Pak Alim adalah orang kaya di kelurahan itu, selain kaya dia baik hati. Kos-kosannya banyak, dan selalu tak pernah sepi karena murahnya.

Ayib langsung bergegas menuju kamar Noldy

“Noldy…Nol…Noldy. Bangun, banjir noldy”.

iyah sebentar, saya lagi merapikan buku-buku saya. Buka saja pintunya tidak dikunci”

Setelah masuk ke kamar Ayib kaget, Noldy ternyata sedang merapikan semua isi kamarnya. Terutama rak buku Noldy, yang sudah dianggap sebagai pacar.

“ternyata kamu sudah tahu mau banjir, Nol”.

sebenarnya aku tak tahu, tapi suaramu itu mengagetkanku ketika kau membangunkan Juna.

baguslah kalau kau lebih cepat merespon dibandingkan Juna.

Tapi ngomong-ngomong Juna sudah bangun tidak ? Sahut Noldy dengan santai

tak tahulah, aku mau bereskan kamarku dulu.

sejam Kemudian Juna bangun, karena air telah membasahi tubuhnya. Masuk ke hidung dan membuatnya bangun dengan tak sewajarnya.

“anjirrrr…. banjir”.

Juna memerah, dia tampak kesal dan marah kepada ayib dan noldy. Tak membangunkannya kala air naik sampai menggenangi kamarnya.

“Noldy, mana Ayib”.

tega kalian, tak membangunkanku. Juna dengan wajah geram dan terlihat sangat marah

tadi Ayib membangunkanmu, mengetuk pintu. Beberapa kali, tapi kau tak bangun-bangun. Jawab Noldy dengan santai.

“ah kalian sama saja, selalu menyelamatkan diri sendiri”.

bukan begitu Juna, kita juga punya diri untuk diselamatkan. Tapi Ayib sudah berusaha memberitahumu. Aku juga bingung tidak biasa kamu menghiraukan panggilan kami. Biasanya kau orang yang paling cepat bangun jika namamu di sebut.

tapi…… jawab Juna terbata-bata. Dia sadar dan dengar panggilan Ayib tadi. Tapi dia tak mau melewatkan mimpi indahnya.

“aku tahu, kau pasti bermimpi lagi ingin ketemu wanita impianmu, itu kan ?”

Juna menunduk “ah Sudahlah, semua sudah terlanjur. Terus Ayib kemana ?”

mungkin dikamarnya. Sedang berberes juga.

Beberapa menit kemudian Ayib muncul dari sela pintu belakang.

“aku disini Jun, kau mencariku”.

ah bangsat kau, tak usah kau mengoceh lagi.

“aku sudah membangunkanmu tapi, kau tidak menyahut. Ku pikir kau tertidur pulas”.

kalian sama saja.

“sama apanya Jun?”

sama-sama tak peduli pada orang lain, hanya mau menyelamatkan diri sendiri. Dasar generasi-generasi Oportunis

Noldy tersinggung dengan kata-kata Oportunis Juna.

Jun, aku tak suka kau mengatakan aku dan ayib seperti itu.

bukannya kau yang punya prinsip seperti itu, seharusnya yang pantas kau sebut oportunis itu dirimu sendiri. Ayib menyela saat-saat Noldy berbicara.

Maksudmu yib ? berkata seperti itu, apa!. Dan jika kau tersinggung Nol, itu terserahmu berarti kau merasa, maka perbaikilah dirimu terlebih dahulu.

“maksudku” dengan suara agak lantang Ayib menegaskan maksudnya bukannya kau punya prinsip, selamatkan diri sendiri dulu, baru itu selamatkan diri orang lain. Dan itu terpampang jelas di kamarmu, yang kau tulis besar-besar. Bukankah itu sikap seorang yang oportunis. Hah! wajah Ayib mulai geram.

sudah Jun, Ayib sudah. Ini masalah sepele saja. Jangan terpancing emosi, kita semua salah. Jangan kau coba-coba menangkan nafsu kalian untuk menguasai diri kalian berdua. Sehingga berdampak buruk dan perpecahan terjadi. Noldy menenangkan suasana.

Tiga puluh menit kemudian air mulai surut, masyarakat sekitar kos-kosan mereka mulai membersihkan kampungnya bekas banjir. Juna dan Noldy sibuk membersihkan Kamar, Ayib membantu pak Alim membersihkan Ruang tamu kos-kosan mereka. Mengepel dengan Enjoy sembari ditemani musik dangdut yang diputar dengan kerasnya oleh pak alim. Sesekali Ayib menyanyi dangdut, duet dengan pak alim yang suka dan fans beratnya bang Haji Rhoma Irama.