5 Hal Luar Dugaan Saat Tinggal di Jepang
Jadi ingat pertama kali nya saya ke Jepang dan kagum dengan banyak hal yang baru pertama kali saya lihat. Bagaimana kereta berseliweran dimana-mana, begitu ramainya orang di persimpangan Shibuya, sampai makanannya.
Memang saya suka sekali dengan segala hal-hal berbau Jepang mulai dari mainan, video game, musik, animasi, film, dan lain-lain. Mimpi saya waktu itu adalah hidup dan bekerja di Jepang, karena tentunya saya punya akses ke semua hal-hal yang saya sukai di sana. Tidak pernah terpikirkan kalau mimpi saya akan terwujud suatu hari.
Tahun lalu, saya dapat kesempatan untuk bekerja di Jepang, khusus nya di Tokyo. Saya sadar bahwa tamasya dan tinggal di sana feel-nya pasti lain. Tetapi kapan lagi saya dapat kesempatan langka ini kan? Sesampainya saya di sana, yah memang ada hal-hal yang sesuai dengan ekspektasi saya, tapi banyak juga hal-hal yang diluar dugaan.
Dugaan: OMG OMG I can eat Sushi everyday!
Kenyataan: Konbini foods, Gyuudon, Ramen
Sushi itu memang tergantung porsi di sana, tapi tetap saja jika dibandingkan dengan makanan yang lain. Sushi itu mahal. Sebagai patokan, biasa saya makan Sushi dapat menghabiskan ¥1,500 tetapi sebuah konbini food hanya seharga ¥500 (konbini = convenience store seperti 7–11, Lawson, Family Mart, menjual nasi kotak).
Dugaan: OK No Sushi! We have other foods!
Kenyataan: “Ma, kirimin bumbu dari Indonesia dong.”
Masakan Jepang itu menurut pribadi saya memang enak, tetapi rasanya cukup membosankan. Karena lidah orang Jepang lebih suka rasa yang mild, jadi jarang sekali mereka memasak menggunakan bumbu-bumbu yang strong. Bahkan hampir semua masakan negara lain disesuaikan dengan lidah mereka di sana. Jadi kalau kamu berharap bisa escape dari masakan Jepang dan cari masakan lain. Siap-siap untuk kecewa.
Dugaan: Tiap hari kerja masuk kereta penuh sesak sampai perlu didorong petugas dari luar
Kenyataan: Sampai sekarang sih belum pernah
Mungkin ini tergantung jalur kereta, tapi sampai sekarang saya belum pernah mengalaminya. Saya tinggal di jalur Chuo/Sobu Line, dan itu merupakan daerah dengan tingkat penduduk tinggi. Line ini merupakan jalur penting karena membelah tengah-tengah Tokyo. Lalu dilanjutkan dengan Yamanote Line yang selalu rame tapi tidak pernah sampai perlu didorong sih. Ini cerita pagi ya, kalau malam lain cerita.
Dugaan: Biaya hidup Jepang mahal
Kenyataan: Kalau bayar pakai Rupiah ya iya lah
Sebenarnya dengan gaji rata-rata orang sana saja, kalau kamu masih single, puas lah hidupmu di sana. Memang bayar pajak mahal, tetapi masih banyak yang bisa disisihkan untuk tabungan. Tapi kalau sudah menikah dan bekeluarga, semuanya berubah. Segala sesuatu menjadi sangat mahal, karena pengeluaran membengkak. Itu mungkin alasan tingkat kelahiran anak menurun drastis di negara sakura tersebut.
Perlu diingat juga kalau kamu ke Tokyo tentu biaya di sana sangatlah mahal, tetapi kalau kamu ke daerah seperti Osaka, atau ke tempat terpencil. Biaya di sana jauh lebih murah dibanding kota besar. Sama saja seperti di Indonesia.
Dugaan: Semuanya on-time
Kenyataan: Enggak juga kok
Ternyata ada juga tipe orang Jepang yang suka telat. Mereka memang selalu mengusahakan untuk tepat waktu tetapi ketika kereta yang telat, karena terjadi sebuah kecelakaan di salah satu stasiun. Otomatis semua nya merembet jadi yah, tidak selalu on-time. Cuma satu prinsip mereka yaitu: Menghargai Waktu.
Walaupun telat, mereka sangat menghargai waktu maka mereka suka sekali dengan namanya schedule. Jarang sekali kamu bisa menelpon mereka suatu saat dan langsung mengajak mereka jalan-jalan. Biasanya butuh waktu dua — tiga minggu untuk menjadwalkan rencana jalan-jalan bahkan cuma untuk duduk dan ketemu saja.