Tribute to Jakarta

Dari kecil saya sering hidup di luar negeri
Belum ada yang menggantikan posisi Jakarta.


Betapa kemacetan luar biasa,
mengajak kita marah-marah.
Bajaj, supir bus, angkot, dan metromini,
merajalela di pinggir jalan untuk mengangkut penumpang.
Hujan datang dan banjir menggenang,
mengurungkan niat orang untuk bepergian.
Demonstrasi sering terjadi,
menghambat aktivitas para pencari nafkah.

Walau begitu Jakarta mempunyai suatu kharisma tersendiri,
membuat saya kangen untuk pulang.
Bukan karena adanya keluarga,
bukan karena adanya teman.
Tetapi karena kota ini memberikan banyak pelajaran,
mimpi, dan harapan bagi banyak orang.

Terima kasih, Jakarta.
Sekarang giliran saya yang membangun Mu.