Evaluasi Gerakan Mahasiswa

“…gerakan mahasiswa Indonesia, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struk¬tural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya”. Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah bermakna bahwa di dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syaratnya, yaitu: 1) Pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya. 2) Pemihakan pada rakyat. 3) Kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa. Ketiga syarat tersebut mencerminkan: a) Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa. b) Metodologi gerakan mahasiswa. c) Strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan gerakan mahasiswa, dan d) Program-program gerakan mahasiswa yang bermakna strategis-taktis. “
(Danial Indrakusuma: Sumbangan pemikiran untuk Gerakan Mahasiswa)

Point umum dari syarat dan cerminan gerakan mahasiswa di atas bermakna untuk, mengetahui sejauh mana sebuah organisasi mahasiswa bisa diidentifikasi sebagai gerakan yang sanggup memanggul beban menyelesaikan tugas sejarah yaitu, pembebasan nasional menuju revolusi sosialis. Termasuk juga gerakan harus memiliki tujuan tidak sekedar perubahan ekonomisme dan sistem politik, namun juga harus memiliki tujuan ideologis sesuai makna revolusi itu sendiri, yaitu: perubahan radikal seluruh tatanan struktur dari legal-politik—istilah Althusser—atau Negara berikut ekonomi (cara produksi) hingga nilai/norma (kebudayaan) yang berlaku dalam masyarakat.

Ada pelajaran yang dapat diambil dari gerakan mahasiswa 1998 s/d sekarang, sehingga masih belum sanggup (jika tidak bisa dikatakan gagal) menuntaskan demokrasi.

1) Lemah dalam ideologi. Dari basis historis, gerakan mahasiswa ’98 muncul karena adanya krisis ekonomi. Mahasiswa bergerak karena harga kebutuhan pokok naik, kos-kosan menjadi mahal, orang tua mereka terkena PHK. Keadaan ini secara langsung berdampak bagi mahasiswa. Maka tidak heran kalau sebagian besar mahasiswa “baik-baik”, mahasiswa generasi humanis non-politis ikut turun ke jalan. Kesadaran “ekonomis” ini kemudian berhasil dibawa ke kesadaran politik.

2) Lemah soal ketepatan strategi taktik dalam perjuangan (mungkin karena dilibas oleh trend demonstrasi, spontanitas, heroisme dan kemendesakan menjatuhkan kediktatoran). Akibatnya banyak momentum-momentum yang seharusnya dimanfaatkan, dilewatkan begitu saja, missal: mengintervensi mekanisme borjuis yaitu ajang pemilu, membentengi borjuis reformis berkuasa, yang, pada jaman orba, mereka jadi tukang jilat pantatnya Harto, membentengi unsur-unsur penopang orba berkuasa, golkar dan tentara. Terlebih, rakyat masih bisa diperdaya/dibajak oleh borjuis-reformis kelompok Ciganjur.

3) Sektarianisme gerakan. Hal yang lebih berbahaya lagi dari situasi sekarang selain sektarianisme adalah: “Idealis—penyedih dalam memandang polarisasi, seolah-olah polarisasi dianggap sesuatu yang negatif, sesuatu yang tidak boleh terjadi. Padahal, harus diakui, bahwa polarisasi merupakan konsekuensi ideologi, garis politik dan keorganisasian pergerakan. Polarisasi jelas menghasilkan unsur positif (unsur maju) dan unsur negatif (unsur konservatif dan reaksioner), itu pasti”. Jadi, menangisi polarisasi, menangisi perpisahan, sama halnya dengan menangisi perginya unsur konservatif dan reaksioner. Atau mungkin takut, rendah diri akan reaksi unsur konservatif dan reaksioner.

4) Tidak adanya organ nasional/front persatuan secara nasional, sehingga lemahnya bobot serangan.

5) Lemah dalam basis massa (yang ideologis). Seperti yang sudah dibahas di atas, sebagian besar mahasiswa yang bergabung dalam gerakan mahasiswa ’98 adalah akibat “trend” yang ada. Tidak heran kalau massa yang ada bukanlah massa yang terorganisir melainkan massa yang termobilisasi. Hal ini berakibat melemahnya basis massa sejalan dengan dengan melemahnya ‘trend’ gerakan. Sedangkan kampus yang melahirkan mahasiswa (yang seharusnya dijadikan pusat ajang radikalisasi—pendidikan politik, dll) ditinggal begitu saja. Akibatnya, gerakan menjadi tidak populis bahkan di antara mahasiswa sendiri.

6) Ini sebetulnya bukan kesalahan gerakan mahasiswa semata, tapi kesalahan kekuatan radikal secara umum, yaitu tidak adanya partai pelopor yang sanggup memimpin. Sejarah pergulatan gerakan rakyat kebanyakan dilukai oleh pengkhianatan partai-partai politik busuk, elit-elit opportunis, dan tidak sedikit pimpinan-pimpinan gerakan rela terkooptasi oleh borjuis.

7) Masih bersenang-senang dengan ‘hasil’ demokrasi, sehingga yang lahir adalah kegenitan intelektual, manara gading, menjadi oposisi sejati, terlalu mengukur kebejatan rezim dengan semiotika moralis dalam slogan-slogan. Sehingga yang terjadi tidak konkrit dalam berpropaganda (aktifitas penyadarannya).