
Di suatu waktu, dengan sengaja saya mendengar potongan cerita seorang tokoh yang enggan kusebutkan namanya disni. yang paling saya rekam dalam ceritanya tentang niat dan caranya akan menyambut kematian karena usianya yang sudah rentah. kelak di akhir hayatnya, dia mewasiatkan ingin dimakamkan tepat di depan pintu masuk perpustakaan yang dia dirikan sendiri agar para penuntut ilmu dan pembaca buku dapat mengijak-injak tubuhnya yang mayat, agar tubuhnya dapat menyokong kaki-kaki pembaca buku yang ingin masuk perpustakaan.
Di hari buku sedinia ini, saya semakin ragu dengan hal-hal yang baku. tampilan yang maya dan kemalasan yang nyata.
saya iba kepada buku-buku yang terbeli namun tidak tersentuh bahkan ditinggal berdebu.
mungkin dengan menjadi tubuh yang di injak oleh pembaca lebih bermakna dari apa yang pernah dituliskan.