Taman Kenangan

*
sulit mencari nama lain dari kenangan.
kenangan tidak lahir dari antrian yang panjang dan ingatan yang kita reka ulang.
Aku melipat banyak kenangan di beberapa tempat, kusimpan dalam kardus dan mengirimnya ke taman impian yang tidak berwarna. barangkali akan tercipta kesadaran di kepalaku yang disita kejutan masa depan.

“Kenangan melampaui yang kita tunggu, waktu.”

*
tubuhmu seketika taman bunga dan aku menjelma bangku taman. jika mekar menjalar ditubuhmu maka aku lebih suka memangku sepasang kekasih.
kita akan tetap menggelar jalan, kepada siapapun dirasuki kesepian. berdatangan memetik mekar darimu dan mencicipi hangatnya bangku.
tapi kita selalu gagal menghias diri di ujung tahun. di saat hujan turun dan kota luntur. orang2 akan akan kembali menepi dan giliran kita yang sepi.

“Kenangan selalu menyela di tubuh kita, sekalipun dada kita sangat padat karena cumbu.”

*
Aku bisa menyimpan kenangan di dalam tanah agar tidak tersentuh hewan buas. kuberi inisial agar aku mudah mengunjunginya di waktu lain. ternyata bukan hanya aku yang melakukannya. kau lebih dulu datang membawa payung dan karangan bunga. pakaianmu hitam dan kau dalam keadaan kelam. nampaknya, Aku tak berinisial untuk kau kuburkan. aku serupa kenangan di pipihmu yang basah telah kau satukan dengan tanah.

“Kenangan selalu hidup di bawah langit yang membentang dan mentari yang suka menari jadi pelipur.”

*
Aku tumbuh menjadi benalu dan subur dari air matamu. Aku menjalar dan menggantungkan diri di pepohonan. Aku sudah siap jadi pengganggu, betapapun aku akan di cari, di tebas tapi Aku upayakan menemukanmu yang rindang.
tepat Aku hinggap di dekat jendela kamarmu. mengetuk mengusik musik kesukaanmu dan kau belum juga terbangun dalam cangkang selimut.
melihat itu Aku urung jadi pengganggu.

“masa lalu bukan dibelakang ataupun membelakangi pelaku. masa lalu seperti tikar tua yang rentah, membersihkan kakimu ke masa depan.”

*
Aku menempatkan kenangan di depan mataku agar kau bisa ku lihat dengan jelas. kau menggunakan gaun putih mengitari taman kota dan aku duduk melihatmu dari bangku taman. kita biarkan hujan datang menguji upaya kita saling menghangatkan. saling bertukar nafas untuk dapat menghirup lebih banyak kenangan.

-FULAN

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.