Tulisan abstrak mengenai kehendak bebas.

Apakah kita benar-benar bebas? Apasih kebebasan itu?

“Aku ingin bebas seperti burung” ucap seseorang yang merasa dirinya terkurung. Ungkapan seperti itu menurut saya cukup tidak masuk akal. Menurut saya tidak ada mahluk dimana pun yang benar-benar bebas, sekalipun burung. Apakah burung yang terbang bebas benar-benar bebas? Belum tentu. Burung tersebut mungkin akan ditabrak pesawat, menabrak pohon, tertinggal kawanannya lalu tersesat dan dimangsa hewan lain. Yang menurut penglihatan kita bebas, belum tentu benar-benar bebas.

Seorang narapidana yang telah dipenjara bertahun-tahun dinyatakan bebas karena masa tahanannya telah habis. Tapi apakah dia benar-benar bebas? Menurut hukum dia dinyatakan bebas tetapi menurut masyarakat dia belum ‘bebas’. Dia masih terjebak dalam aturan-aturan masyarakat di tempat tinggalnya. Dia masih memiliki citra ‘buruk’ di mata masyarakat (karena dia narapidana). Narapidana yang sudah bebas pun belum benar-benar bebas.

Aku ini binatang jalang

Salah satu baris yang saya ambil dari puisi Aku karya Chairil Anwar yang menurut saya menggambarkan suatu pemberontakan bahwa sejatinya manusia adalah mahluk bebas, tidak terikat oleh aturan manapun, memiliki kehendak sendiri. Tapi, menurut saya, sejalangnya manusia tetap tidak benar-benar memiliki kehendak bebas. Walaupun kita — sebagai mahluk jalang — merasa memiliki kebebasan, tapi di dalam diri kita ataupun di dalam pikiran kita membentuk suatu batasan-batasan tersendiri untuk tetap mengatur diri kita sendiri untuk tetap berada di ‘jalan’ yang kita kehendaki. Mahluk jalang pun tidak benar-benar jalang jika masih mengikuti aturan yang dibuat oleh pikirannya sendiri.

Jadi, apasih sebenarnya definisi bebas itu?

Tabik!