Etika Kerja yang Saya Pelajari di Negaranya Para Pekerja Keras
“Masa mencari kerja setelah kuliah adalah salah satu momen paling deg-degan dalam hidup. Ternyata, di pekerjaan pertamaku, aku langsung harus bekerja di 4 negara berbeda.”

Mungkin sama seperti mahasiswa baru lulus lainnya, rasanya perut bergejolak, tidur susah tapi bingung mau apa, makan pun cuma jadi syarat supaya gak lapar. Seakan hilang nafsu apapun. Gak tenang. Sampai benar-benar dapat kepastian offering dari perusahaan manapun yang dilamar.
“Kerjaan pertama itu jangan picky,” begitu pesan banyak orang saat itu.
Semua dokumen untuk melamar kerja sudah siap. Dasar-dasar pertanyaan interview sudah dipelajari. Tapi masih aja selalu merasa ada yang kurang. Berbagai seleksi kerja diikuti, banyak yang tidak berlanjut, beberapa sudah di tahap penawaran tapi tidak cocok secara gaji dan benefit. Dari sini akhirnya dapat pengalaman mengunjungi kampus-kampus ternama di Pulau Jawa, untuk job fair-nya sih.
Soal menerima tawaran kerja, saya memang agak picky, karena saat itu mematok setidaknya gak kurang dari tawaran gaji awal IDR 6 juta. But I know my worth, jadi minta minimal segitu, saya tahu apa yang bisa saya janjikan atau saya suka.
Selain itu, saya memang lebih banyak interest di pertambangan, terutama minyak, dan menghindari untuk melamar ke bank, karena saya sadar diri bahwa saya buruk di subjek ekonomi dan memang tidak suka. Daripada saya tersiksa menjalani tugas itu dan perusahaan juga tersiksa karena saya gak bisa memberikan yang maksimal kan?
“Tapi di Bank kan gak harus di bagian hitung-hitungan uang atau ekonominya?” begitu banyak orang membalas saya.
Masalahnya, kak, saya ingin berkarir setinggi mungkin. Dan untuk bisa berada di posisi yang tinggi, otomatis harus paham semua aspek di company-nya itu, that’s why saya menghindari di bank. Ya, karena saya tahu bahwa saya gak bagus di pelajaran ekonomi, pun gak minat. Bukan berarti bank tidak bagus ya, definisi bagus itu sesuai kecocokan orangnya.
Tapi saya gak picky soal menaruh lamaran kerja. Jadi saya benar-benar menaruh lamaran di semua perusahaan yang buka lowongan, kecuali bank dan kecuali bagian marketing, karena saya introvert. Saya mengutamakan untuk melamar posisi HRD, K3, Field Operator, Product Design/Research, dan Management Trainee.
Keputusan konsentrasi itu pun sudah saya curhatkan ke kakak-kakak senior kuliah, dosen, maupun orangtua. Orangtua dulu kerja di BUMN, di bagian HRD, jadi sudah ada bekal gambaran kerjanya.
Setelah perjalanan panjang melamar kerja, akhirnya ada yang membuat saya mantap untuk ambil offer saat user menanyakan, “sudah punya paspor?” Itu adalah posisi Management Trainee di salah satu perusahaan fashion retail terkenal di dunia dan nomor 1 di Jepang.

Orang bilang pekerjaan pertama yang penting pengalamannya dulu, tapi saya tetap gak mau asal ada pengalaman aja. Dari sini saya mantap bahwa saya bisa dapat banyak pengalaman dan belajar banyak dengan bekerja di Jepang, karena saya kurang lebih sudah tahu work ethic mereka dari menonton tayangan atau membaca.
Tapi ternyata, there were more than what I expected. Banyak benefit oke yang saya dapatkan, termasuk mendapatkan tempat tinggal berupa apartemen yang wah banget, sendirian dalam satu apartemen yang terlalu besar.

Masa tunggu saya dari wisuda sampai dapat kerja itu 2 bulan. Memang sudah ada yang menawari pekerjaan sebelum lulus tapi tak saya ambil, salah satunya perusahaan otomotif di Cikarang tapi gak cocok dengan deskripsi kerja dan benefitnya.
Satu lagi salah satu perusahaan telepon genggam yang berkantor di Malaysia, kerjanya boleh sih di luar negeri, tapi gaji yang ditawarkan setelah dikurskan gak begitu beda dengan starting salary lulusan S1 di Indonesia secara rata-rata. Tidak sebanding dengan tantangan language barrier dan culture shock-nya.
1. Menggunakan jam digital, setiap milidetik itu sangat berarti

Saya berangkat bekerja dengan menggunakan jam analog. Itu bikin saya ditegur sama atasan. Mereka meminta untuk mengganti dengan jam digital, karena waktunya lebih presisi dan angkanya terlihat jelas, sementara jam analog bisa menimbulkan persepsi di mana letak jarumnya saat itu.
Setiap ada kesepakatan untuk berkumpul atau meeting, batas waktu yang ditetapkan selalu detail hingga ke detiknya. Kalau telat? Ada tugas cleaning menanti, entah itu ngepel, ngelapin meja dan banyak lainnya.
Tugas ekstra akibat terlambat ini tidak lantas mengurangi taget kerjaan utamanya, yang tentunya akan kena tegur keras jika gak selesai. Alhamdulillah, saya gak pernah terlambat dari waktu kesepakatan. Even once.
Jika ada janji meeting jam 3:07 pm, maka that’s the exact time to start the meeting. Benar-benar sepresisi itu. Kaget sih kaget, karena memang pada dasarnya saya sudah biasa hidup di Indonesia yang mengenal konsep jam karet. Tapi tidak sampai shock, karena sudah pernah menonton atau membaca soal budaya ini sebelumnya.
Untungnya penyesuaian soal hal ini tidak terlalu berat buat saya. Malah saya lega, tidak ada namanya menunggu terlalu lama selama kerja di sana, karena kalaupun ada yang terlambat, ya ditinggal.
2. Menentukan prioritas itu jadi kunci ketepatan waktu

Waktu yang sudah disepakati bersama itu hukumnya saklek, tidak ada toleransi. Jadi menyusun prioritas itu hal yang penting untuk bisa on time. Bukan sekali saya melewati mandi pagi dan hanya sempat untuk cuci muka atau gosok gigi, agar tidak ketinggalan subway menuju tempat kerja dan agar masih sempat sarapan.
Soal tidak mandi, masih bisa disiasati dengan parfum dan bisa dilakukan di malam hari dengan lebih nyaman karena tak perlu terburu-buru. Namun kalo soal sarapan, harus disempatkan, karena pekerjaannya membutuhkan energi fisik yang ekstra, apalagi belum tentu sempat untuk makan siang. Jadi sarapan itu prioritas paling penting di pagi hari.
3. Akan selalu ada improvement points, sebagus apapun hasil kerjamu

Sudah jadi pemahaman umum bahwa pencapaian perlu diapresiasi dan kesalahan harus dikritisi. Namun budaya yang saya dapatkan di sana tidak murni responsnya seluruhnya positif atau seluruhnya negatif. Manajer saya, orang Jepang, saat itu mengatakan bahwa sebelum mengkritisi orang, perlu menyampaikan hal baik tentang dirinya dulu.
Katanya menurut penelitian, satu kalimat kritik hanya bisa disembuhkan dengan tiga kalimat pujian. Kalimat pujian atau sisi positif orang yang bersangkutan semestinya disampaikan duluan sebelum kritik, agar orang tersebut tetap merasa diapresiasi dan kritik yang disampaikan tetap bisa diterima.
Soal kritiknya, make sense, akhirnya saya dapat insight baru tentang berkomunikasi dengan rekan kerja supaya kritik jadi tidak terlalu terasa sakit. Tapi soal apresiasi pencapaian yang harus juga disertai kritik atau improvement points, butuh penyesuaian.
Jujur, di awal-awal, konsep ini membuat setiap saya melakukan kerja dengan bagus, seakan selalu aja ada yang kurang atau selalu aja masih ada salahnya. Namun karena semua rekan seangkatan mendapatkan hal yang sama, saya sadar bahwa saya gak boleh baper.

Akhirnya saya bisa menyesuaikan bahwa jika saya mencapai hal yang baik, saya gak boleh cepat puas, selalu ada yang masih bisa diperbaiki jadi lebih baik. To be honest, saya jadi suka konsep ini.
4. Jam kerja adalah waktu untuk kerja sepenuhnya, tidak terbuka untuk hal apapun di luar urusan kerja

Lembur yang saya rasakan di sana adalah lembur yang sebenar-benarnya, bukan karena tumpukan kerjaan akibat menunda. Memang sih, berhubung perusahaan tempat bekerja saya saat itu adalah ritel fesyen, jadi memang tidak boleh membawa handphone ke shop floor. Hp wajib ditaruh di loker selama bekerja. Jadi benar-benar tidak ada peluang untuk terdistraksi karena hp.
Satu konsep khas yang diajarkan di sana adalah no empty handed. Dalam sehari, karyawan diberikan waktu 8 jam kerja dan 1,5 jam istirahat yang terpisah dalam 2 sesi. Selama 8 jam kerja itu, ya, harus bekerja terus. Kalaupun semua kerjaan hari itu sudah beres sebelum 8 jam berakhir, tangan tidak boleh menganggur, itulah definisi no empty handed.
Nah, penerapan no empty handed ini tergantung posisi kita di perusahaan saat itu. Jadi, misalnya staff shop floor sudah selesai mengerjakan target tugasnya sebelum jam kerja selesai, maka ia bisa merapikan gudang, membersihkan staff room, mengganti galon, dan apapun yang bisa dikerjakan (terutama yang prioritasnya tinggi). Yang penting tidak boleh menganggur, apalagi cuma duduk.
Selain no empty handed, tidak boleh juga melakukan apapun yang tidak menguntungkan perusahaan di jam kerja. Dalam hal ini termasuk bergosip dengan rekan kerja saat jam kerja, sekadar berbincang-bincang casual, menyanyi, bersenandung apalagi hanya bersandar ke counter.
5. Segala pekerjaan yang ada di shop floor harus bisa dilakukan oleh semua orang, tak peduli apapun jabatannya

Apapun ya. Pekerjaan apapun dan apapun jabatannya! Termasuk cara mengukur ukuran bagian tubuh pelanggan untuk menemukan size baju/celana yang tepat, mengganti pakaian pada mannequin, melayani di kasir termasuk pembayaran dengan apapun, membersihkan setiap bagian shop floor, memasang queue poll, memotong celana sekaligus menjahitnya/alteration (saya harus ujian berkali-kali di bagian ini untuk bisa lulus probation), mengerti product knowledge mulai dari bahan sampai cara menangani/merawatnya, sampai cara mengoperasikan setiap mesin atau perangkat yang ada di shop floor.
Awalnya saya merasa handful dengan itu semua, lama-lama saya belajar salah satu konsep paling penting yang bisa saya terapkan sampai saat ini: lead by example. Turns out, saya malah jatuh cinta dengan konsep ini.
Gimana nggak jatuh cinta dengan konsepnya, bahkan manajemen atas gak bisa asal suruh kalau mereka sendiri pun tidak bisa melakukannya. Jadi, untuk bisa naik jabatan, harus bisa melakukan semuanya.
Area manager Indonesia saat itu sempat menyuruh kami untuk belajar menyelesaikan melipat tumpukan baju dalam 30 detik. Kami merasa itu terlalu cepat. Kemudian dia mencontohkan dan ternyata BISA!
Bisa dibilang di lingkungan kerja ini, ketika atasan menyuruh sesuatu, ia sudah bisa melakukannya dan ia ingin kami semua juga bisa. Dengan itu, sebagai atasan, ketika menugasi sesuatu akan lebih direspect karena tidak asal omdo (omong doang).
Dengan kata lain perintah penugasan itu dibarengi dengan contoh yang benar. Konsep itu membekas untuk saya. Sehingga setiap saya mau memberikan tugas sesuatu, saya harus memastikan dulu bahwa saya sendiri bisa melakukannya juga. Kalau belum bisa, terus belajar sampai bisa.

Jadi buat kamu yang sudah jadi atasan, jangan asal suruh-suruh kalau kamu sendiri nggak bisa melakukannya ya. At least, kalaupun benar-benar nggak bisa, konteksnya adalah minta tolong, bukan menyuruh. Jadilah atasan yang memberikan contoh baik.
6. Saling mengapresiasi bantuan sesama rekan kerja dengan pantas, minimal yang bisa kita berikan adalah: Thank You Card!

Kecuali memang organisasi sosial atau sifat kerjanya volunteer, seharusnya setiap hasil kerja memang mendapatkan kompensasi ataupun apresiasi yang sebanding, apalagi jika itu di luar job description yang seharusnya. Jika ada staff yang membantu pekerjaan orang lain atau terlibat dalam kerja tim, memang sudah menjadi budaya untuk saling memberikan minimal thank you card.
Thank you card ini memang disediakan oleh perusahaan dengan desain-desain menarik yang bisa kita pilih. Setiap staff memiliki kantong wadah penerimaan thank you card masing-masing, pelapisnya pun transparan sehingga orang lain bisa melihat siapa yang mendapatkan thank you card paling banyak dan apa saja isinya.
Namun bukan hanya penerima thank you card terbanyak yang biasanya diapresiasi, rajin memberikan thank you card juga menjadi penilaian tambahan bagi staff saat tes pertimbangan naik gaji/jabatan, karena itu tandanya karyawan tersebut suka menebarkan energi positif di lingkungan kerja.

Itulah tadi beberapa hal yang saya pelajari ketika berkesempatan bekerja di negerinya para pekerja keras. Banyak hal terkait work ethic yang bisa saya jadikan bekal. Berdasarkan pengalaman saya ini juga membuktikan bahwa sebenarnya bukan karakter orang Indonesia untuk tidak disiplin, itu cuma soal kebiasaan dan lingkungan.
Toh ketika di lingkungan itu ada yang memulai membiasakan hal baru, ketika terus dipush, yang lain juga akan mengikuti. Terbukti ketika saya menerapkan apa yang saya dapat di negara sana kepada subordinates saya ketika di Indonesia, sampai lama-lama mereka terbiasa. We can also do like them Japanese, even more.
My short video on my resignation day at this company: https://youtu.be/CMb-iKV9jQM
