Sudahkah Anda menyaksikan video tersebut?

Saya membayangkan betapa banyak dari mereka yang selama ini emosional telah menyaksikan video di atas.

Dalam menit ke 19 video tersebut, Ahok mengucapkan kalimat yang mengandung istilah agama. Sebuah frase yang terdengar tidak lazim jika diucapkan oleh bukan pemeluk agama tersebut. Meski bagian ini terdengar seperti dari bagian kampanye untuk pilkada berikutnya, beliau mengatakan dengan jelas bahwa kesempatan untuk memilih dirinya adalah panggilan pribadi dan hak sebagai warga. Ahok mengeluarkan pernyataan tersebut untuk meyakinkan warga Kepulauan Seribu bahwa program yang sedang disosialisasikannya akan tetap berjalan meski tidak lagi terpilih mengingat Pilkada berikutnya dimajukan. Beliau bahkan mengingatkan cara untuk tidak memilihnya.

Kejadian semalam sungguh membuka mata saya bahwa jalan kita menuju masyarakat madani masih panjang. Terlepas dari isu ditunggangi oleh pihak tertentu demi kepentingan pihak lainnya, saya kecewa betapa mudahnya sebagian dari kita termakan emosi. Seorang pelayan masyarakat yang telah memberikan kinerja yang kita butuhkan setelah sekian lama terjebak dalam birokrasi, harus menjadi martir. Di atas itu semua, betapa mudahnya rasa takut itu datang. Semua hanya karena kegagalan dalam menafsirkan satu kalimat, tanpa menggali informasi juga mendalami konteks.

Saya percaya sepenuhnya bahwa kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi adalah hak asasi yang universal. Siapapun berhak untuk percaya dan menjalankan kepercayaan tersebut, meskipun dalam prakteknya apa yang mereka percayai menimbulkan perasaan tertentu terhadap sesamanya. Namun kita sebagai masyarakat gagal apabila karena apa yang kita percaya menghasilkan penurunan dalam kualitas hidup dan mundurnya peradaban.

Saya tidak bisa dikatakan mengikuti kinerja Ahok dengan seksama, namun saya merasakan kemajuan yang dialami kota ini. Intensitas banjir tahunan yang jauh berkurang, fasilitas umum yang tidak hanya tersedia namun juga dapat diandalkan, administrasi yang bekerja jauh lebih baik, serta lingkungan yang kondusif sebagai tempat tinggal dan lahan mencari nafkah. Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya dari video tersebut adalah ketika Ahok menyebut soal Indeks Pembangunan Manusia di mana indeks Jakarta adalah tertinggi di Indonesia, diikuti dengan pencapaian di bidang pendidikan yang tercermin melalu program Kartu Jakarta Pintar. KJP adalah subsidi pendidikan berupa dana tunai yang diberikan langsung kepada siswa penerima via tabungan di bank. Ditilik dari prasyaratnya, KJP ditujukan bagi siswa dengan kemampuan ekonomi terbatas namun memiliki itikad untuk menempuh pendidikan di mana validasi KJP dilakukan berdasarkan data kependudukan dari pihak ibu. Kebijakan yang menurut saya sangat cerdas. Satu hal yang bisa jadi menimbulkan rasa iri bagi warga di daerah lainnya.

Masih banyak hal positif yang saya alami sejak kehadiran Ahok sebagai pejabat publik. Saya tidak ingin kehilangan tersebut. Tulisan ini ditujukan bukan untuk membela Ahok namun saya ingin siapapun yang membacanya meluangkan waktu sejenak untuk menyaksikan video di atas. Saya ingin hidup di tengah masyarakat yang berkeinginan untuk memajukan peradaban, di mana salah satu langkah awalnya adalah keinginan untuk memperkaya diri dengan pengetahuan. Cermat dalam mencerna informasi dan memahami situasi, serta selalu terbuka ruang untuk diskusi.