"Ah, benarkah ini waktunya?"

Teman terdekatku mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang introvert sejak awal kami menjalani hubungan dekat. Saat kami masih dekat-dekat tai ayam, aku tidak mengerti mengapa dia selalu menjadi yang pertama pamit pulang saat kami berdua dan teman-teman lain sedang nongkrong-nongkrong santai selepas kuliah. Aku tidak paham kenapa dia akan selalu bangun pagi-pagi dan menjadi yang pertama pulang, di saat malam harinya kami menenggak alkohol bersama teman-teman kami lainnya. "Aku harus beli sarapan untuk adikku. Dia manja banget memang," katanya.

Setelah setahun aku tinggal satu atap dengannya, ternyata tak sekalipun dia bangun pagi-pagi buta untuk membelikan adiknya sarapan.

Bukan kebohongannya yang menjadi perhatianku, tapi kebutuhannya yang besar untuk selalu memiliki ruang dan waktu sendirian adalah hal yang baru untukku.

Aku selalu senang menghabiskan waktu bersama orang lain. Aku suka berlama-lama nongkrong dengan teman-temanku atau menghabiskan waktu dengan pasanganku. Ketika aku tidak punya pasangan, seluruh waktuku kucurahkan untuk berorganisasi. Aku menikmati terjebak rapat berjam-jam bersama teman-teman baru. Aku menikmati diskusi-diskusi panjang dengan pemimpin organisasiku. Aku menikmati perdebatan-perdebatan sengit dengan para dosen ketika harus berhadapan dengan birokrasi kampus. Apapun asalkan aku tidak sekedar diam sendirian di rumah. Hingga akhirnya aku memiliki hubungan khusus dengan teman terdekatku. Gaya interaksi kami yang berkebalikan akhirnya justru menjadi magnet bagi kami. Ia diam-diam memperhatikan ketika aku mengucapkan pendapat dengan lantang di dalam kelas, dan aku menjadi tertantang ketika dia yang misterius tiba-tiba mengajak aku bicara lebih banyak dari biasanya.

Dan hubungan kami dimulai. Sangat menyenangkan ketika seorang introvert yang begitu tertutup tiba-tiba membuka seluruh pintunya untukku, dan memelukku masuk ke dalam dunianya. Ia bahkan rela menjemputku di tengah malam hanya karena ingin menghabiskan sisa malam denganku. Inikah orang yang dulu selalu pamit pulang duluan itu?
Aku selalu membantunya jika ia ingin kabur dari pertemuan-pertemuan yang tidak ia inginkan. Kali ini aku yang menjadi benteng ketika kami menenggak minuman keras di malam hari, dan ia ingin menikmati pagi di kasurnya.

Namun, keistimewaanku bukan berarti mengubah kepribadiannya. Dia tetap membutuhkan ruang dan waktu untuk sendirian. Di sinilah perang batinku dimulai. Di luar konteks masalah-masalah eksternal lain yang kami hadapi, masalah kepribadian ini paling sering menenggelamkanku dalam renungan-renungan. Aku sangat mengerti bahwa ia memerlukan ruang pribadinya. Yang sulit aku mengerti, kapan waktunya tiba. Tidak ada orang lain selain dia yang tau bahwa telah waktunya dia butuh waktu untuk sendiri. Dan dia tidak tau kapan dia akan merasa butuh sendiri, hingga tiba-tiba dia ingin sendiri.
Aku tentu menghargai ruang pribadinya dan akan selalu dengan ikhlas memberikannya. Yang selalu aku khawatirkan dalam setiap perjumpaan adalah;

"Apakah ia sedang ingin bersamaku sekarang?",
"Ah, benarkah ini waktunya kami bertemu?",
"Sudahkah ia bosan melihat aku?",
"Terpaksakah dia menemuiku?",
"Membahagiakan atau menguras energinya kah pertemuan ini?",
"Apakah aku hanya menjadi beban?",
"Akankah ia mengusirku sekarang?".

Teruntuk teman introvertku, sungguh aku menerima dan memahami jarak yang kamu butuhkan. Aku tidak menganggapmu aneh. Aku justru ingin minta maaf kalau kehadiranku menguras energi dan melelahkan. Tapi tolong, jika waktunya jarak itu tiba, sampaikan langsung di hadapanku dengan lembut. Aku akan mengerti. Aku mungkin sakit hati, karena dilempar dan ditarik sesuka hati, tapi aku memahami. Manfaatkanlah ruang pribadimu sebaik-baiknya.

Supaya saat bertemu lagi, kita akan sama-sama berbahagia.
Supaya saat bertemu lagi, aku dapat merasa bahwa aku memang orang yang kau harapkan ada.
Supaya saat bertemu lagi, aku kembali merasa bahwa aku istimewa.