Air kelapa merah jambu

Pernahkah kamu begitu bersyukur menerima segelas air kelapa?

Dan bukan karena matahari sedang terik-teriknya.

Perasaanku saat ini merekah begitu saja, karena segelas air kelapa yang disodorkan oleh ibuku. Hari sudah beranjak sore, dan aku tidak sedang di pinggir pantai. Gelas itu berisi cairan merah jambu, berembun, dengan daging kelapa yang manis berenang berputar-putar di dalamnya. Namun gelas ini membawa pikiranku melesak ke dalam kenangan, hingga akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri; seberapa jauh orang-orang terdekatku mengenal aku? Sepanjang ingatanku, aku tidak pernah memesan air kelapa dengan sirup berwarna merah jambu. Tapi ini bukan tentang aku dan ibuku. Dan aku tidak sedikitpun kecewa dengan ibu dan air kelapa merah jambu.

Aku justru bersyukur, karena air kelapa merah jambu mengingatkan aku kepada siapa aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada dia yang akan memesankan aku air kelapa berwarna coklat dengan campuran gula jawa, dan aku akan membawakannya air kelapa murni tanpa gula.

Aku jatuh cinta kepada dia yang akan memesankan aku ayam bakar bagian paha atas dengan sambal matang, ketika ia memesan ayam goreng bagian paha atas, digoreng kering, dengan sambal bawang.

Aku jatuh cinta kepada dia yang akan memesankan aku donat dengan isian krim keju, bertabur milo, dan ia akan menunjuk donat dengan isian krim tiramisu, atau donat berlubang dengan taburan kacang almond.

Aku jatuh cinta kepada dia yang keluar dari minimarket dengan membawa sebungkus coklat, ketika ia tersenyum lebar menatap sebungkus keripik pedas.

Aku jatuh cinta kepada dia yang dengan sigap mengambil saos sambal di kotak makananku, dan menukarnya dengan saos tomat miliknya.

Aku jatuh cinta kepada dia yang tersenyum ceria ketika kami melahap babi panggang bersama.

Aku jatuh cinta kepada dia yang akan menceritakan ulang tentang mimpi-mimpinya, setiap kali kami menyesap secangkir coffee latte di sebuah kedai kopi baru yang mencuri perhatiannya.

Kami jatuh cinta kepada makanan, kepada canda tawa yang muncul saat menikmatinya, kepada keringat yang kami keluarkan supaya mampu membelinya, kepada kenangan yang akan kami peluk setelahnya, dan kepada atensi kami satu sama lain yang begitu besarnya hingga kami merasa begitu saling mengenal.

Setidaknya hingga datang seseorang yang lain mencoba merenggut perhatianku dengan membawakanku dada ayam goreng — dengan dua sachet saos sambal, mengambilkanku wafer di minimarket, tidak sedikitpun tahu bahwa aku merindukan lembutnya donat, setiap saat bertanya “kita mau makan dimana?”, selalu heran mengapa aku tidak menyentuh sambalku — namun tidak pernah bertanya lebih lanjut, dan tidak merekam dalam memorinya. Makan dengan seseorang seperti ini membuatku merasa punya jarak yang sangat lebar dengannya, membuatku merasa asing, membuatku mempertanyakan atensinya saat bersama. Bagaimana bisa ia mendeklarasikan cintanya sangat besar dan dalam untukku, sedangkan ia bahkan tak tahu merk coklat, rasa donat, maupun potongan ayam favoritku? Kemana energinya ia habiskan saat berhadapan denganku?

Ini bukan tentang persamaan atau perbedaan selera. Ini tentang memahami.

Makan bagiku adalah ritual, dimana kita merayakan kasih Tuhan kepada kita, bahwa kita masih diberi cukup kesehatan dan rezeki di dunia. Makan adalah ritual merayakan kehidupan. Bagiku, rasanya tak sekedar sakral namun juga membahagiakan. Dan bagiku, makan selalu mengingatkanku kepada siapa aku jatuh cinta.

Like what you read? Give Bunda Maria a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.