“Feminis” yang Jarang Mandi

Amanda Christabel
Jul 27, 2017 · 2 min read

Kala itu dosenku membuka diskusi usai presentasi teman sekelasku yang memaparkan materi. Kalau tidak salah (berarti benar, tapi agak lupa) diskusi kala itu seputar pemberitaan yang seksis di media massa. Beberapa temanku di kelas sangat tertarik dengan topik diskusi ini, termasuk aku. Tak sedikit pula beberapa teman yang lain masyuk tertidur di sudut kelas, atau asyik menjelajah ke dunia maya menggunakan kamera depan sambil mengeksploitasi dirinya sendiri.

Pasti pernah baca judul berita atau tulisan di media massa yang sarat dengan istilah ‘cantik’, ‘seksi’, ‘tampan’, ‘kekar’, atau yang lainnya? Sangkal aku jikalau aku keliru. Namun, apa yang jadi tolok ukur seseorang dapat dikatakan cantik atau tampan? Apa barometernya? Lantas, jika tidak sesuai dengan ukuran ‘cantik’ oleh beberapa media massa, maukah kalian para wanita yang ‘tidak cantik’ berbondong memenuhi taraf yang kabur itu?

“Oh, tentu saja mau!”

Entah ini salah si cantik, atau memang si media massanya yang licik.

Mantap betul diskusi di siang bolong itu, sampai-sampai dosenku yang gayanya nyentrik tak ragu mengaruniakan aku sebuah gelar “feminis”. Dalam hati aku cuma pelanga-pelongo, masih mengawangi maksud dosen bergaya rambut genji itu.

Sangat jarang motivasi perempuan menjadi cantik untuk dirinya sendiri. Akhirnya, ‘cantik’ mereka gunakan agar apik dilihat lelaki. Sedih ya, tapi mau bagaimana lagi.

Bersarang di Jatinangor bikin aku malas mandi, yang penting selalu gosok gigi. Kalau keluar pintu kamar, tetap pakai gincu atau minimal pelembab bibir. Niat awalku tidak biar dikata, “Wah, itu bibir menor sekali,” tapi ujungnya kena catcalling lagi. Padahal sekadar supaya tidak ketahuan bahwa aku belum mandi.

“Lha, kalau tidak mau kelihatan belum mandi, ya mandi dong!”

Mandi kok aku, sehari sekali. Tapi tidak pernah bisa sampai seputih punggung teteh-teteh di iklan sabun mandi. Ah, yang penting tidak berdaki. Kemudian aku bingung, yang dijual itu teteh-nya atau sabun mandinya?

“Maumu apa toh Christabel?”

Entah. Aku lelah kalau harus memenuhi tuntutan dan tanggapan dari beronggok-onggok manusia. Standar mereka berbeda-beda, lantas aku harus memenuhi yang mana? Persetan! Standar motor sajalah aku, biar tidak ngegelosor itu motor.

Amanda Christabel

Written by

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade