Bella Patra
Nov 1 · 5 min read

Kucing Cantik Milik Orang Kaya

Saya tidak betul-betul meyakini konsep kehidupan setelah kematian itu yang seperti apa. Apakah kita akan dihidupkan kembali, lalu dikumpulkan di padang mahsyar untuk kemudian dihitung amal dan dosa, lantas ditempatkan di tempat terbaik, atau justru terburuk? Kamu menuai apa yang kamu perbuat selama hidup. Baik atau buruk, surga atau neraka.

Atau pernahkah kamu mendengar teori dari penganut Panspermia? Katanya, kehidupan setelah kematian itu tidak ada. Kita hanya berpindah-pindah planet setelah planet yang kita hidupi sekarang ini sudah punah. Ke planet lain, tata surya lain, galaksi lain, atau jagat raya lain. Menarik, tapi agak terdengar tidak masuk akal bagi saya. Entahlah. Mungkin saya harus lebih banyak membaca tentang itu.

Atau, kamu justru meyakini konsep reinkarnasi? Pengertian reinkarnasi dalam agama Buddha adalah ketika jiwa seseorang yang telah mati berpindah ke tubuh yang baru. Jiwa dianggap sebagai suatu substansi yang kekal yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya.

Dalam agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang dulu. Artinya, proses reinkarnasi juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki hidupnya. Untuk mencapai kebahagiaan tertinggi, manusia harus mencapai moksa.
Saya tidak berani menjelaskan banyak-banyak, karena itupun saya baca dari internet. (maaf ya, kalau salah.)

Saya sudah bilang kan kalau saya tidak betul-betul meyakini konsep kehidupan setelah kematian manapun? Atau mungkin lebih tepatnya, belum.
Terkadang saya suka mikir hal yang absurd, seperti malam ini. Kamu sendiri pernah mikir gak, kalau misalnya terlahir kembali ingin jadi apa? Atau siapa?Jawaban klasiknya sih, “tetep jadi diri sendiri, dong!”. Bohong.
Kalau orang-orang medioker mungkin akan menjawab ingin terlahir menjadi orang terkaya di dunia, atau terpintar, tertampan- siapapun itu saya tidak kepikiran mau sebut nama-nama siapa saja. Tidak ada yang ingin jadi nomor dua.

Kalau saya sih simpel saja, sebenarnya. Atau aneh?

Saya ingin terlahir lagi menjadi kucing milik orang kaya. Tidak tahu ras apa, tapi yang penting harus berparas cantik dan berbulu tebal dengan paduan tiga warna, dan memiliki sepasang bola mata berwarna biru terang. Atau abu-abu?

Kenapa harus jadi kucing cantik milik orang kaya?

Kalau jadi kucing jalanan, saya tidak sanggup. Kelaparan, kehujanan, belum-belum kalau ditendangi orang-orang pelit yang tidak mau berbagi makanan. Jadi, harus jadi kucing milik orang kaya.

Mungkin jadi milik kakek dan nenek pemilik perusahaan batu bara.
Mungkin milik seorang wanita lajang berusia paruh baya yang bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta.
Mungkin milik seorang politikus muda.
Atau mungkin milik pasangan lesbian yang mapan, yang hidup tenang di apartemen mewah bergaya Scandinavian milik mereka.

Pokoknya saya membayangkan hidup dimanja-manja, diberi mainan bagus-bagus, dan makan enak setiap hari.
Setiap minggu mungkin saya akan dibawa ke salon untuk grooming. Sebagai kucing, sepertinya saya akan suka rutinitas itu. Saya kan suka dandan.
Tapi bisa jadi tidak juga, sih. Soalnya, saya suka males mandi hehe. Tapi setidaknya, kalau jadi kucing, saya hanya perlu mandi sekali seminggu, kan? Tidak perlu dua kali sehari.

Enak sekali sepertinya jika terlahir menjadi seekor kucing cantik milik orang kaya.

Kamu tahu, apa saja yang bisa saya lewatkan jika saya menjadi kucing?

Saya tidak perlu menabung. Tidak perlu menghabiskan uang untuk beli skincaresupaya warna kulit saya bisa lebih cerah, dan pori-pori jadi rata. Kalau saya jadi kucing, tinggal jilat-jilat wajah pake liur sendiri, selesai.

Tidak juga perlu menabung untuk beli rumah. Katanya milenial tidak akan sanggup beli rumah karena gaya hidup yang boros dan harga tanah yang makin bikin empot-empotan. Makanya saya mau jadi kucing saja. Menumpang di rumah orang kaya, tidak ada tuntutan harus beli rumah.

Saya tidak perlu basa-basi dan berpura-pura bahagia ketika bertemu dengan orang-orang. Saya tidak perlu terpaksa senyum, seolah-olah saya menikmati hidup saya saat ini. Kalau saya jadi kucing, saya hanya perlu meow meow meow.

Saya tidak perlu kuliah dan menjadi sarjana ilmu komunikasi. Artinya, saya tidak perlu membebani orang tua saya karena masih saja belum lulus di tahun kelima ini. Kalau saya jadi kucing, apalah kewajiban saya? Paling-paling makan, eek, kencing dan tidur.

Saya tidak perlu merasa sedih atau panik ketika hal-hal tidak berjalan seperti apa yang saya proyeksikan. Saya tidak perlu merasakan sesak, nafas tersenggal-senggal, jantung berdetak kencang, rasanya seperti ingin mati saja.

Saya tidak perlu selalu merasa capek di malam hari karena tidak bisa tidur. Memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi di hidup saya. Atau kesalahan dan kegagalan yang pernah saya alami di masa lalu. Saya tidak perlu merasakan yang namanya quarter life crisis, dan tidur dengan air mata yang belum kering di pelupuk mata saya.

Saya tidak perlu mengantri selama satu jam penuh untuk satu sesi bersama psikiater. Duduk berhadapan dengan si terapis, menceritakan bagaimana keadaan saya. Oh, jangan lupa, keringat saya yang mengalir deras, karena gugup. Setelah selesai, saya diberi resep dan harus menebus obat-obatan tersebut dengan beberapa lembar uang pecahan berwarna merah. Kalau saya jadi kucing, memangnya apa yang perlu saya stress kan dalam hidup?

Saya tidak perlu menjalani hidup sesuai konstruksi sosial yang ada. Lulus tepat waktu, kerja di tempat yang jelas, syukur-syukur kalo jadi PNS, lalu nikah di usia ideal. Ingat, jangan terlalu tua! Bisa-bisa saya bakal disindir semua orang kalau nikah kelamaan. Atau parah-parahnya dijodohin. Usia 25 tahun maksimal, ya?
Pastikan suami dari keluarga jelas dan berada. Apa kata keluarga dan tetangga kalau calon suami saya miskin, bertato, tidak religius, dan aneh-aneh? Resepsi pernikahan, katanya sih tidak harus mewah-mewah amat. Ya syukur kalau uangnya ada. Tapi paling penting, kateringnya harus enak banget. Kalau tidak, siap-siap dinyinyirin selama lima tahun penuh sama tetangga-tetangga yang namanya aja saya tidak tau siapa.
Kalau saya jadi kucing, tidak akan ada yang namanya konstruksi sosial. Memang kucing harus punya pencapaian apa dalam hidup?

Benar-benar hidup jadi kucing tidak perlu pusing mikir ini-itu. Tidak perlu merasa ingin nangis setiap petang menjelang. Tidak perlu stress dengan target hidup yang dirancang oleh sebuah konstruksi sosial. Hidup tanpa kekhawatiran dan kesedihan. Tentram sekali, sepertinya.

Tapi mungkin, jika saya jadi kucing, banyak juga hal-hal baik yang akan saya lewatkan. Saya tidak akan pernah tau rasanya memakai makeup & baju bagus. Saya tidak akan pernah tau rasanya es krim dan salad. Saya tidak akan pernah tau rasanya menyetir mobil. Saya tidak akan pernah tau rasanya traveling ke luar negeri sendirian. Saya tidak akan pernah tau rasanya berbagi. Saya tidak akan pernah tau rasanya dikelilingi sahabat yang benar-benar tulus menyayangi saya. Saya tidak akan pernah tau rasanya dicintai dan mencintai.


Entahlah.

Malam ini rasanya saya ingin menjadi kucing saja.

Kucing cantik milik orang kaya.

Titik.

    Bella Patra

    Written by