Keluhan untuk Mereka yang Malas Membaca

Saya termasuk orang yang agak bawel dalam masalah detail. Meski saya bukan termasuk OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) tapi tiap ada detail kecil yang berubah sedikit, pasti begitu terasa dan bisa mengubah mood seharian penuh.

Misalnya sebelum pulang kerja, saya selalu merapikan meja kerja saya, walau di mata orang sih sama saja. Setidaknya saya menaruh pulpen, pensil, penjepit kertas, serta barang-barang yang sempat digunakan saat jam kerja ditaruh di tempat semula dan tidak dibiarkan tergeletak sembarangan. Ketika keesokan harinya ketika saya datang ke kantor, lalu menemukan meja kerja saya berantakan, mood saya bisa langsung jelek.

Apalagi ketika ada orang kantor yang menggunakan komputer saya tanpa izin kemudian ketahuan. Sampai saya pun membuat sebuah teks ke grup jika ada yang ingin menggunakan komputer saya, minimal izin dulu, terserah mau izin secara langsung atau lewat WA, paling tidak saya tahu kalau komputer saya sempat diutak-atik orang lain. Soalnya saya bisa jengkel setengah mati. Lebay, ya. Memang begitu kenyataan yang terjadi.

Dan tetap saja selalu berulang meski sudah bolak-balik diingatkan.


Sebagai orang yang punya peranan penting (tsah) dalam direktorat saya, mengingat pekerjaan saya sangat jauh dari dunia tulis-menulis, saya pun membuat sebuah mind map dan buku petunjuk khusus mengenai pekerjaan yang saya lakukan sehari-hari.

Mind map saya letakkan di dinding dekat meja, sementara buku petunjuk pekerjaan dikirimkan ke masing-masing teman saya lewat e-mail.

Tujuannya supaya mereka mandiri dan mengerti apa yang harus dikerjakan ketika saya berhalangan hadir karena sakit, cuti, atau izin. Saya benar-benar membuatnya sedemikian detail.

Dari yang remeh-temeh, seperti bagaimana mengakses komputer saya dan password komputer serta e-mail di dalamnya, menghidupkan printer dan scanning, sampai bagaimana memesan tiket pesawat lewat travel agent yang bekerja sama dengan kantor kami.

Saya pun membuatnya dengan runut, terperinci, dan dibagi dalam beberapa bab serta ada screenshoot untuk setiap bagian yang kira-kira membuat orang lain bingung. Namun, tetap saja masih banyak teman saya yang menanyakan hal yang sudah jelas-jelas tertulis di sana.

Huh. Seperti saat saya tidak masuk, tahu-tahu saya dijapri oleh salah satu dari mereka dan menanyakan password e-mail. Dia bilang karena di buku petunjuk itu, saya tidak menuliskannya. Lha…

Saking penasarannya, saya membuka e-mail kantor, mencari bagian sent, dan membuka kembali buku petunjuk yang saya kirim. Ternyata…. password sudah saya tulis. Teman saya saja yang tidak teliti (kalau malas mencari terdengar terlalu kasar).


Cerita lainnya pun bergulir…

Berhubung ruangan saya dekat mesin fotocopy yang dipakai bersama-sama, jadi sering banyak orang-orang yang datang ke ruangan saya untuk meminta kertas baru. Berhubung frekuensinya semakin lama semakin sering, akhirnya saya berinisiatif untuk menaruh dua buah kardus bekas yang tidak terpakai dan menaruhnya di atas meja. Satu kardus untuk kertas ukuran A4 dan lainnya untuk ukuran F4.

Biar semakin mempermudah, saya bikin tulisan di dinding Silakan ambil kertas baru di sini. Ukuran A4 dan ukuran F4 (ditandai dengan panah yang menunjukkan posisi kedua kardusnya).

Maka jika ada yang datang meminta kertas, saya tinggal menunjuk ke bagian belakang dan mereka tinggal mengambil sendiri.

Teorinya sih mudah dan sederhana, tapi kenyataannya tidak juga. Nyatanya saya masih elus-elus dada sendiri dan mencoba untuk perbanyak sabar.

Banyak juga yang masih suka nanya, “Bella, bagi kertas baru dong.”

“Tuh, ambil di situ,” tunjuk saya ke belakang.

“Di mana?”

“Itu lho belakang situ. Kan ada tulisannya tuh.”

Hadeh… Iya, saya bisa galak dan sewot buat masalah begitu doang.


Saya mungkin tidak tahu pasti kenapa teman-teman saya seperti itu. Bisa jadi mereka hanya malas membaca.

Ya, tidak semua orang senang membaca. Tidak semua orang juga tahu detail-detail yang saya buat. Karena biar bagaimanapun juga, pemikiran saya berbeda dengan orang lain. Begitupun file kantor yang saya simpan dalam komputer, meski sudah ada buku petunjuk sekalipun.

Sehingga mereka lebih senang untuk bertanya, tanpa mencari tahu lebih dahulu. Toh, apa gunanya juga mencari tahu ketika ada orang yang memang tahu kan?

Kadang kalau lagi sebal, saya bilang begini, “Pokoknya aku nggak mau jawab pertanyaan yang pernah aku jawab atau ada di buku petunjuk!”

Tulisan ini benar-benar tulisan soal keluhan, karena saya tidak tahu bagaimana saya menyalurkan kegondokan selain lewat menulis.

Semoga kamu dan saya yang membacanya tidak seperti itu, ya. Bacalah jika sudah ada petunjuknya, tanya yang memang diperlukan. Jangan kebalik.