Korupsi dan Peran Keluarga Sebagai Pemerintahan Pertama

Korupsi memang menjadi momok yang menakutkan di Indonesia. Hampir setiap hari, ada saja berita penangkapan oknum-oknum yang terlibat korupsi. Apalagi saat ini sedang musim revisi UU KPK oleh DPR yang banyak disayangkan oleh kalangan umum karena dapat melemahkan peran KPK dalam memberantas korupsi.

Belum lagi kasus-kasus korupsi yang ada di tahun-tahun sebelumnya, yang melibatkan banyak petinggi dan seakan tertelan oleh kasus-kasus terbaru.

(Baca: Korupsi di Indonesia dan Korupsi dan Demokrasi di Indonesia)

Tapi sebenarnya apa itu korupsi?

Menurut KBBI online, korupsi adalah:

[n] penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain

Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengambil hak orang lain. Hanya itu saja? Tidak.

Nah, bukan ranah saya membahas soal tingkat korupsi di Indonesia, karena pastinya sudah banyak yang membahas soal hal tersebut.

Namun menariknya, kebanyakan para koruptor yang ditangkap adalah orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi. Bila ditelisik seharusnya para koruptur itu sadar dan tahu apa yang mereka lakukan itu salah, tapi tetap melakukannya.

Seperti orang-orang yang tahu kalau membuang sampah sembarangan itu salah satu penyebab banjir tapi mereka tetap saja melakukannya.

Koruptor seringnya memperkaya diri mereka sendiri, demi kesenangan pribadi, dan berharap apa yang mereka lakukan ini bisa membuat keluarga mereka tidak mengalami kesusahan. Mereka yang tertangkap memiliki banyak rumah, serta aset berharga lainnya.

Terkadang ada juga yang ketahuan memiliki beberapa orang istri. Beberapa hal yang media beritakan hingga membuat saya sadar betapa hancur sekali pemerintahan kita. Mungkin. Paling tidak semoga saja tidak semua wakil rakyat seperti itu.

Bukan jadi rahasia umum bila uang dan jabatan seseorang berbicara di negeri ini. Keduanya seperti memakai mahkota dan berkuasa atas semua yang terjadi. Ketidakadilan pun bukan sesuatu hal yang aneh. Bila kamu hanya orang biasa saja, jangan bertingkah aneh-aneh di sini.

Bukankah begitu?

*

Coba kita kembali merefleksikan semuanya satu per satu. Menurut saya pribadi, sebenarnya ada sesuatu yang lebih kecil dari permerintahan yang ada di Indonesia.

Pemerintahan kecil itu yang bernama keluarga. Iya. Keluarga adalah faktor penentu bagaimana seorang anak akan besar dan berkembang nanti. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak yang didik dengan pola kasar cenderung akan menjadi anak yang pemarah, pun sebaliknya. Mungkin hal ini juga terkait dengan ekonomi keluarga tempat seseorang dibesarkan.

Misalnya anak yang biasa hidup berkecukupan tidak begitu mengerti dengan ‘nilai’ dan ‘angka’, yang dia tahu hanyalah, “yang penting orang tua gue mampu”.

Berbeda dengan keluarga yang sederhana atau yang bisa dibilang pas-pasan, tentu pola didik anaknya akan diatur untuk lebih menghargai nilai dan angka, karena segala sesuatu yang mereka dapatkan harus disertai dengan usaha.

Biasanya juga, pola korupsi juga sebenarnya sudah dapat dilihat dari anak-anak. Bagaimana mereka biasanya ‘menaikkan’ harga buku-buku mereka, dan meminta lebih kepada orang tuanya. Uang tambahan itu juga yang nantinya mereka pakai untuk membeli yang lainnya.

Saya mengakui, saya pernah melakukannya. Tapi ternyata itu menimbulkan rasa bersalah berkepanjangan karena tidak jujur kepada orangtua. Iya, orangtua kita sendiri saja sering kita bohongi, apalagi kepada orang lain. Pasti akan lebih berani dan tidak takut untuk melakukannya.

Bisa jadi, ini hanya opini saya pribadi, para-para koruptor yang ada di sini adalah mereka yang dulunya berasal dari keluarga yang tidak mampu, atau keluarga yang berkelas sehingga akan sangat aneh bila kehidupan mereka biasa saja dan sama seperti yang lain.

Di sisi lain, para koruptor ini mungkin tidak ingin keluarga-keluarga mereka nantinya akan merasakan nasib yang sama. Bukannya orangtua kita sering mengatakan, “Kamu harus lebih sukses dari orangtuamu, ya” atau “Jangan mau hidup susah kayak gini” yang mungkin bisa menjadi alasannya.

Atau juga mereka akan melakukan banyak cara supaya mereka terus-menerus berada dalam posisi puncak.

Ya, salah satunya dengan melakukan korupsi.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menangkap para koruptor lalu dipenjara saja menurut saya bukanlah hal yang cukup. Sebaiknya, untuk mencegah dampak korupsi yang semakin lama semakin berbahaya ini dimulailah dari keluarga.

Orangtua seharusnya mendidik anak mereka dengan pekerti, bukan hanya sekedar memberikan gadget dan memenuhi kebutuhan sang anak.

Karena anak-anaklah yang akan memimpin bangsa kita selanjutnya.

Tidak apalah saat ini Indonesia belum mampu menjadi negara yang bebas dari korupsi. Tidak apalah banyak koruptor yang masih bisa menikmati udara bebas karena belum diketahui.

Tapi nanti, akan ada saatnya Indonesia bisa menjadi lebih baik. Saya meyakini itu. Saya harap pun, kamu juga akan yakin. :)

*

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/korupsi#ixzz2OdqzWKZe