Maaf Ini Hidupku, Bukan Milikmu

Ini adalah sebuah cerita tentang teman saya, yang atas izinnya pula saya menuliskannya di sini. Mungkin juga hal ini pun sering diawali oleh kita -anak- dari perlakuan orangtua.

*

Sebut saja namanya Risa. Anak kedua dari tiga bersaudara dan ketiganya adalah perempuan. Saya pikir, Risa punya kehidupan yang nyaris sempurna. Dia mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang cukup untuk seorang perempuan muda yang baru merintis karier. Ayah-ibunya masih sehat (setidaknya, maaf, dia bukan anak yatim piatu) dan lahir dari keluarga yang berkecukupan.

Perawakannya alim, walau wajah sedikit jutek bawaan dari lahir. Wajahnya pun cukup cantik (menurut saya) dengan kulit putih alami dan karena memang rajin dirawat. Risa memang tipe perempuan banget pokoknya, berbanding terbalik dengan saya.

*

Sayangnya, memang tidak selamanya apa yang dilihat orang-orang menyenangkan ternyata justru tidak sebegitunya. Terlebih karena memang kita tidak pernah berada pada posisi orang tersebut. Begitulah apa yang terjadi pada Risa dan ceritanya kepada saya.

Dia mengeluhkan banyak hal yang membebani pikirannya, termasuk soal keluarganya. Terlebih oleh dan dari kedua orangtuanya.

Bisa dibilang, orangtua Risa masih, ya, sedikit konservatif. Bayangkan saja, Risa yang umurnya setahun di atas saya, masih harus melaporkan ke mana dia akan pergi kepada orangtuanya. Sudah begitu, harus jelas tujuannya bepergian, dengan siapa, dan jam berapa dia akan pulang.

Selain itu, menjelang kelulusan SMA, dia sudah ‘diminta‘ untuk melanjutkan kuliah di Jakarta tidak boleh ke luar kota (yang padahal banyak anak-anak menginginkan hal ini), dan masuk di jurusan pilihan orangtuanya.

Risa pun tidak pernah diizinkan pergi ke luar kota, barang satu-dua hari hanya sekadar berlibur.

Dia tidak bisa menentukan pilihannya sendiri…

Kalau saya jadi dia, tentu saya bisa stres dan mungkin gila karena hal ini. Beruntung, saya bukanlah Risa dan Risa bukanlah saya.

Oke, cerita berlanjut, ya.

Walaupun kami jarang bertemu, Risa suka curhat ke saya lewat teks. Saya membaca dengan hati-hati apa yang dia curahkan, sambil sesekali menimpali ketika dia memerlukan pendapat. Sebenarnya saya gemas dan rasanya pengin mengacak-acak wajahnya, karena Risa begitu sabar sekali mendapat perlakuan dari orangtuanya yang seperti itu.

Lo, harus bilang sama orangtua lo apa yang lo rasain, Ris. tegur saya.
Tapi, Bel, orangtua gue itu boro-boro mau dengerin gue. Pokoknya gue harus ikut maunya mereka. Kalo nggak mereka bisa marah-marah besar.
Ya, lo berontaklah. Biar mereka sadar kalo yang mereka lakuin itu salah.

Saya tertegun. Bingung harus menjawab apa. Rasanya kalimat saya tadi agak salah dan sedikit menyinggungnya. Untung dia tidak marah dan melanjutkan bercerita dan semakin membuat saya gemas, bergidik, dan kembali tertegun. Kalau tidak salah saya sempat menyampaikan hal ini kepadanya,

Ris, mungkin itu juga cara orangtua lo buat ngejaga lo. Siapa tahu mereka kayak begitu karena dulunya mereka dididik seperti itu sama orangtuanya, kakek dan nenek elo. Percaya deh, nggak ada orangtua yang mau liat anaknya susah kok.

Mungkin ini memang terdengar naif, tapi saya bisa apa untuk menghiburnya?

*

Cerita Risa perihal orangtuanya tidak hanya sampai di situ. Lain hari pun juga menyangkut hal krusial yang dialami oleh perempuan 20-an yaitu…. JODOH dan PERNIKAHAN. Hahaha…

Dari ceritanya, orangtuanya beberapa kali mendesak untuk segera menikah. Ya, dia memang punya rencana ke arah sana, bersama pasangannya, tapi terhalang oleh restu dari orangtua Risa sendiri.

Hal ini dikarenakan orangtua Risa tidak sreg dengan laki-laki pilihan teman saya karena ada beberapa sebab agak nganu. Nganu-nya seperti itu pokoknya.

Bahkan mereka dengan tegas menolaknya dan agak memaksanya untuk menambatkan hati ke laki-laki lain. Yang setidaknya banyak lebihnya dibanding pasangannya yang sekarang. Saya cuma bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala mendengar celotehannya.

Hidupmu kok gini amat sih, Ris.

Beberapa waktu yang lalu, saat saya menulis ini, pesan dari Risa masuk.

Gue lagi merenungi masa lalu aja nih. Hahaha…
Kenapa? *kepo
Karena gue lagi mikir kenapa Allah kasih gue hidup yang seperti ini. Gue salah apa. Dan Allah mau hidup gue gimana.
*hug hug* Karena Dia yakin lo pasti bisa menjalani semua.
Yah tiap orang pasti pernah mikir begini kok kalo lagi menghadapi cobaan. Iyah tiap orang pasti ada masanya.

Begitulah hubungan kami. Aneh, dingin, tapi tetap dekat.

*

Bagi saya, Risa adalah salah satu sosok dari banyak anak yang tidak bisa menentukan pilihan bahkan bersuara dengan lantang.

Apalagi sejak kecil, kita selalu mendengar atau mendapatkan perkataan yang menyudutkan dari orangtua sendiri. Seakan-akan orangtua adalah dua peran yang selalu benar dan anak selalu salah.

Jangan ngelanggar nasihat orangtua. Nanti dosa lho.
Kamu nggak mau denger nasihat Mama? Nyesel Mama udah ngelahirin kamu.
Ridho Allah tuh ridho orangtua. Kamu berani nyakitin orangtuamu sendiri?

Perkataan-perkataan itu hanya contoh dari apa yang sering saya dengar atau lihat tentang pola pengasuhan anak.

Orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk sang anak, tapi terkadang cara yang mereka lakukan tidak tepat dan tidak memandang zaman yang sudah berubah dibandingkan dulu mereka dibesarkan (Saya pernah menuliskan soal ini di Anak yang Gagal dalam Keluarga)

*

Tentu saja saya tidak akan menyalahkan Risa apalagi orangtuanya. Karena setiap orangtua pasti punya alasan dan aturan tersendiri dalam mendidik anak. Apalagi orangtua tidak memiliki jenjang karier dan tidak ada pendidikan khusus menjadi orang tua. Bagi saya menjadi orangtua itu perihal naluri yang bisa timbul atau tidak ketika memiliki anak.

Namun, yang harus diingat adalah kita, sebagai anak, juga memiliki pilihan dan suara.

Saya ingat suatu ketika teman saya pernah bilang kira-kira begini,

Aku nggak apa-apa, Bel, dicap durhaka karena nggak nurutin orangtuaku. Tapi aku pikir aku punya jalan hidup sendiri. Dan walaupun ridho Allah dari ridho orangtua, tapi aku tau kalo Allah itu nggak pernah tidur dan sayang sama aku. Jadi kita harus bisa ngebuktiin sama orangtua kalo pilihan kita itu adalah yang terbaik buat diri kita.

Saya jadi teringat tentang puisi dari puisi Khalil Gibran yang berjudul On Children:

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer's hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable

*

Begitulah. Hidupmu adalah tentang dirimu, bukan untuk atau tentang orangtuamu. Dan kamu beruntung sekali bila mendapatkan kebebasan untuk memilih jalan hidupmu sendiri. Saya harap semoga Risa senang dan terhibur membaca tulisan saya ini. Hehehe… :)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Bella Zoditama’s story.