Ars Longa Vita Brevis

Antara tahun 1833–1897 hiduplah seorang komposer bernama Brahms, Johannes Brahms. Ia memulai konser pertama pada usia 13 tahun. Kayak "August Rush", ya?

Empat tahun berselang, Brahms bertemu dengan pemain biola dari Hongaria. Dia mengajari Brahms ‘zingarese’ (gaya musik gipsi), yang ketika itu terbilang sebagai musik rakyat. Mungkin seperti rock’n roll paska perang dunia II, atau kalau di sini: dangdut koplonan.

Sepintas, Brahms di masa tua sebelas-duabelas dengan tampang Karl Marx, seorang rasul dalam aliran ekonomi-politik. Berjanggut panjang kelabu seperti brahmana di film India.

Ada lagu Brahms selain Nina Bobo (Lullaby) yang tenar itu, yang agaknya mampu merekam suasana di balik foto di atas: “Hongarian Dance No.5".

Orang lahir dan berguguran. Perang berlangsung memeriahkan abad demi abad. Tetapi lagu itu panjang usia. “Ars longa vita brevis”, kata Hippokrates. / Hidup memang pendek, tapi malam dapat diatur agar lebih panjang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.